Maafkan, Aku Sungguh Mencintainya!

wfu-05 Suasana di bagian luar café itu tidak terlalu ramai.  Lampu taman yang redup dinaungi langit cerah bertaburan bintang menambah romantis suasana malam ini.  Beberapa pasang kekasih terlihat sedang memadu kasih ditemani lidah api dari lilin di meja mereka.  Di sebuah meja agak di pojok, tampak dua gadis cantik duduk berhadap-hadapan dalam suasana kaku.  Kayla, gadis yang mengenakan tank top duduk bersandar tenang.  Blazer semi formal tersampir di sandaran kursinya.  Sesekali dia menyeruput kopinya dan tetap duduk anggun menghadapi Gita yang tampak gelisah di depannya.  Berulang kali Gita mengganti kaki yang disilangkan, sebentar kaki kiri ke atas kaki kanan, kemudian diganti kaki kanan ke atas kaki kiri.  Kaki jejangnya nan putih bersih beralaskan sepatu bertumit 9 centi dan dibalut rok sebatas pertengahan paha terlihat indah.

Gita menghisap rokoknya dalam-dalam kemudian menghembuskannya penuh emosi.  Pandangan matanya sebentar melirik Kayla, tapi kemudian diarahkan lagi ke langit seakan hendak menjangkau bintang di cakrawala.

“Kamu berubah, Git!  Lebih cantik.” Kayla mencoba mencairkan suasana.

“Terima kasih.” singkat jawaban Gita.

“Sejak kapan merokok?” Kayla memajukan badannya berusaha membuat Gita menatapnya.

“Tidak usah basa-basi.  Kamu tidak peduli.” Gita mengelengkan kepalanya sambil menatap Kayla tajam, kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke tempat lain.

“Tentu aku peduli.  Kita pernah dekat.” Kayla tetap berusaha agar Gita menatapnya.  Ingin dia menyentuh tanggan Gita supaya gadis itu bersikap lebih santai, tapi diurungkannya.

Gita menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya.  Dia tertunduk sesaat, kemudian mengangkat wajahnya dan menatap Kayla.  Mereka beradu pandang beberapa saat.  “Bila kamu peduli, kamu tidak akan menikahi sepupuku!”

“Kenapa?  Apa yang salah?  Ian baik dan bertanggung-jawab.  Kamu pun dulu bilang seperti itu.” Kayla berusaha menekan nada suaranya.

“Iya, Ian adalah lelaki terbaik yang pernah ku kenal.  Makanya aku meminta dengan sangat supaya kamu membatalkan rencana gila ini.  Aku tidak ingin kamu membuat dia menderita.”

“Kenapa harus aku yang membatalkannya?  Kami saling mencintai.  Aku sangat sayang padanya!  Ian juga sayang padaku.” Kayla tetap menekan nada suaranya, tidak ingin terpancing dengan kalimat Gita yang ketus.

“Kamu tidak mencintainya.  Kamu hanya ingin mempermainkannya.”

“Kenapa kamu menuduh seperti itu?”

“Karena aku mengenal kamu.  Sangat-sangat mengenal kamu!” Gita menekankan suaranya pada kalimat terakhir.

Kayla mengatupkan kelopak matanya menahan supaya emosinya tidak meledak.  Gita tersenyum sinis melihat Kayla yang menunduk beberapa saat.  Terjadi keheningan yang tidak nyaman diantara mereka.  Keduanya seperti sedang membangun pertahanan atau menyusun peluru untuk ditembakkan.

Kayla menautkan kedua tanggannya di meja di depan dadanya, kemudian katanya, “Kamu tidak terlalu mengenalku, Git.  Mmmm.. maksudku, aku pun baru-baru ini saja mengenal diriku yang sesungguhnya.”

Gita memiringkan sedikit kepalanya dengan air muka tidak percaya, “Oh ya?  Aku tidak terlalu mengenalmu?  Jadi, apa artinya yang dua tahun itu?” Gita memajukan badannya sehingga wajah mereka sangat dekat.  Kemudia lanjut Gita dengan volume suara berbisik, “Dua tahun kita seranjang.  Kamu tidak hilang ingatankan?”

Kayla mengeleng-gelengkan kepalanya, “Aku ingat semuanya.  Tidak ada yang terlupakan.” Kayla menatap tajam pada Gita yang juga sedang menatapnya tajam. “Aku juga ingat dengan jelas peristiwa saat kamu meninggalkanku hampir tiga tahun lalu.”

Gita memalingkan wajahnya.  Kemudian dia menyalakan lagi sebatang rokok dan menghisapnya.  Dia menatap ke langit seperti memohon kekuatan dari penguasa cakrawala.  Kemudian katanya, “Kamu yang membuat aku meninggalkanmu.”

“Ya, semua memang salahku.  Apapun itu selalu salahku.” Kayla kembali menyandarkan badannya dan berusaha bersikap setenang mungkin.

“Aku tidak mengatakan kamu yang bersalah.  Saat itu aku binggung dan kamu terlalu menekanku.”

“Dua tahun, Git, dua tahun!  Waktu yang cukup bagi kita menentukan sikap.  Aku tidak minta supaya seluruh dunia tahu, hanya keluarga kita saja, dan kamu selalu bilang belum saatnya.  Kamu pun melarang aku berterus terang pada keluargaku, karena namamu akan tersangkut.  Kamu malu.”

“Aku tidak malu.  Aku hanya belum siap kala itu.  Kupikir kamu paham, ternyata malah memberi aku pilihan.  Kamu masih ingat opsi yang kamu berikan padaku?” suara Gita terdengar bergetar.

Kayla mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memberitahukan keluarga atau bubar.”

“Aku benci dengan sikap aroganmu, makanya tanpa pikir panjang aku pergi meninggalkanmu.  Aku tidak siap mengatakannya pada keluargaku.  Seharusnya kamu paham itu.” jawab Gita ketus.

“Aku sudah berusaha memahaminya, dan aku semakin tersiksa karena keluargaku sudah mencium tentang kita dan aku harus selalu berbohong.  Kebohongan itu sangat menyiksaku.  Aku sudah tidak kuat lagi.  Dan kamu pun paham itu.”

“Iya, aku paham itu, tapi yang tidak kupahami adalah kamu akan menikah dengan Ian!  Katanya kamu tidak mau berpura-pura.  Trus ini apa?  Kamu ingin menghancurkan dia sekaligus membuat aku sakit hatikan?  Kay, kamu juga menghancurkan dirimu sendiri!!”

“Tidak satupun dari yang kamu tuduhkan itu benar.” Kayla menggeleng-gelengkan kepalanya.  “Aku tidak sedang menghancurkan diriku karena aku mencintai Ian sepenuh hatiku.  Demi Tuhan ini tidak berpura-pura.  Juga tidak ada niatan sama sekali untuk membuatmu sakit hati.  Tidak.  Masa kita sudah berakhir.”  Kayla menarik nafas sesaat, kemudian lanjutnya, “Kita sudah selesai sekian lama.  Aku sudah merelakanmu beberapa bulan setelah kamu meninggalkanku.”

“Aku tidak percaya.” Gita menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa memaksamu mempercayaiku.  Aku juga baru tahu bahwa aku sebenarnya …” Kayla tidak meneruskan kalimatnya.

“Kenapa?” Gita menatap Kayla yang tampak ragu berucap.

“Aku bi …”

“Aku tidak percaya.  Bi …??? Itu bullshit!! Kamu cuman bikin alasan.”

“Tidak.  Sama sekali bukan alasan.  Untuk apa?”

“Entahlah… hanya kamu yang tahu itu…”

Mereka kembali saling terdiam.  Sibuk dengan pikirannya masing-masing.

“Aku tahu kamu tidak akan bisa terima ucapanku ini.  Tapi tidak mengapa.  Kalaupun menurutmu aku menjerumuskan diri ke jurang, biarlah aku yang akan menanggung sengsaranya.” Kata Kayla sambil tersenyum.

Gita tampak tidak senang, tapi hanya diam saja.  Sesekali dia menyesap minumannya dan menghisap rokoknya.  Kayla menghembuskan nafas seperti sedang mengeluarkan beban berat dari dadanya.

“Aku tahu dari Ian kalau kamu pacaran dengan Mario dan katanya kalian juga akan menikah segera.  Aku ikut bahagia untukmu.” kata Kayla memecah keheningan yang dingin.

“Aku tidak percaya..!!” Gita menanggapi, “Aku tidak percaya dengan semua ucapanmu, karena kita sama.” Gita menyesap sedikit kopinya, kemudian lanjutnya, “Seberapa besarpun usahaku, aku tidak pernah bisa mencintai Mario.  Aku hanya berpura-pura.  Aku berani jamin kamu pun seperti itu.” Gita memajukan wajahnya ke tengah meja mendekati wajah Kayla dan berbisik, “Aku selalu membayangkanmu setiap bersamanya.  Aku merokok karena frustasi tidak bisa melupakanmu.”

Setelah selesai berucap, Gita menarik kembali badannya ke posisi semula.  Mereka saling berpandangan beberapa saat.  Wajah Kayla tampak terkejut hingga tak mampu berucap sepatah kata pun. Keheningan yang kaku kembali menyelubungi mereka.  Kemudian Gita memasukkan barang-barang pribadinya yang tergelatak di meja ke dalam tas dan menarik selembar uang berwarna merah dari dalam dompet kemudian meletakkannya di meja.

“Tidak usah, Git.” buru-buru Kayla mencegahnya, tapi Gita sudah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.  Kayla memandangi Gita berjalan menjauh hingga hilang di balik pintu.  Debar jantungnya terasa semakin cepat dengan perasaan campur aduk.

@ @ @ @ @

Tiga tahun lalu adalah masa yang terberat yang pernah dialami Kayla.  Tidak mudah menjalani hidup bila berpasangan dengan sesama jenis di negeri ini.  Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan.  Sesungguhnya Kayla sudah siap dengan segala konsekuensinya.  Dia yakin keluarganya yang berpikiran moderat akan menerima apa adanya.  Tapi tidak dengan keluarga Gita yang teramat religius dan membenci pasangan sejenis.  Gita tidak punya keberanian berterus terang mengenai dirinya kepada orang tuanya.  Akhirnya Kayla sadar bahwa sampai kapanpun, Gita tidak akan pernah mau berterus terang.  Kayla lelah menjalani hidup kucing-kucingan seperti itu hingga akhirnya dia memberikan opsi kepada Gita.

Kayla sudah memikirkan hal itu selama berbulan-bulan.  Seberapa besar pun dia mencintai Gita, dia berharap ada kepastian.  Dia tidak bisa hidup dalam kebohongan, terutama kepada orang tuanya.  Beberapa kali ibunya memandangnya seperti minta kejujuran tiap kali beliau berkunjung ke apartemen mereka yang hanya ada satu buah tempat tidur.  Ibunya pun pasti melihat Kayla dan Gita berbagi lemari dan juga barang-barang lainnya.

Hingga sampailah peristiwa itu.  Dengan amarah yang teramat sangat Gita mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan Kayla sendirian di apartemen yang mereka sewa bersama.  Beberapa hari kemudian Kayla juga mengangkut semua barangnya dan kembali ke rumah orang tuanya.  “Gita balik ke rumah orang tuanya karena ibunya sakit.  Aku malas sendirian.”  Demikian alasan Kayla ketika ditanya orang tua dan saudara-saudaranya.  Kayla tidak merasa perlu lagi mengatakan apa-apa pada orang tuanya tentang hubungannya dengan Gita.

Sejak saat itu Kayla bertekad hanya akan berpacaran dengan gadis yang siap membuka diri tentang hubungan mereka.  Dia tidak ingin lagi hidup dalam kepura-puraan.  “Saat itulah aku akan mengatakan siapa diriku yang sebenarnya pada keluarga.” batinnya.

Pada bulan-bulan awal perpisahan mereka, Kayla masih menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti Gita akan menenghubunginya dan mengatakan bahwa dia sudah memberitahukan orang tuanya  dan dia ingin mereka bersama lagi.  Tapi hingga setengah tahun hal itu tidak pernah terjadi.  Akhirnya Kayla menutup harapan untuk bisa hidup bersama Gita lagi.  Dia berencana mencari gadis lain yang mempunya pemikiran sama dan memegang nilai-nilai hidup yang sama seperti dirinya.

Tapi takdir berkata lain.

Suatu hari Kayla meeting di kantor klien.  Ternyata yang menjadi kliennya adalah Ian, sepupu Gita.  Dulu, saat masih bersama Gita, dia pernah diajak ke acara keluarga Gita dan sempat bertemu Ian.  Mereka saat itu hanya sempat berbincang sebentar tanpa menanyakan pekerjaan dan lain sebagainya.  Kayla tidak banyak berbicara karena sebelum berangkat, Gita sudah mewanti-wanti supaya Kayla tidak perlu terlalu dekat dengan keluarganya.  Kayla membatasi pembicaraan dengan keluarga Gita karena tidak ingin kelepasan bicara dan hubungan mereka bisa terbongkar.

Tapi saat mereka bersantai, Gita sering menceritakan kepribadian anggota keluarganya termasuk Ian.  Ayah Iyan adalah abang dari ayah Gita.  Ian adalah anak sulung dan menjadi kebanggaan orang tuanya.  Ian juga menjadi andalan adik-adiknya termasuk Gita yang memang tidak memiliki abang kandung.  Ian selalu berusaha tidak mengecewakan adik-adiknya.  Itulah sebabnya mengapa Gita sangat menyayangi Ian.  Semasa sekolah Ian tidak pernah membuat onar dan selalu juara kelas.  Karena kepintarannya Ian juga mendapat beasiswa S2 ke luar negeri.  Posisi Ian di kantornya pun sangat bagus.

Setelah meeting itu, Kayla dan Ian beberapa kali bertemu dalam urusan pekerjaan. hingga akhirnya Kayla mendapat kontrak kerja sama.  Untuk merayakannya Ian mengajak Kayla makan malam sepulang kantor.  Sejak itu mereka semakin sering bertemu.  Hubungan pekerjaan berubah menjadi hubungan pertemanan.  Kayla merasa sangat nyaman berteman dengan Ian.

Pada awal pertemanan Ian pernah bertanya perihal pertemanannya dengan Gita, “Kalian bertengkar ya?” tanya Ian ketika itu.

“Tidak.  Ibunya yang minta Gita tinggal di rumah lagi.  Dari pada sendirian di apartemen, aku pun balik ke rumah orang tua juga.” kata Kayla sambil tertawa kecil.  Dia cukup kaget dengan dirinya sendiri karena sudah tidak ada rasa sakit atau risih saat membicarakan Gita.  Dia seakan membicarakan teman biasa.

Seiring dengan seringnya mereka bertemu, tanpa Kayla pahami, tumbuh rasa kangen terhadap Ian bila mereka tidak bertemu dalam seminggu.  Awalnya Kayla berpikir, dia kangen lelaki itu karena Ian bisa menjadi teman diskusi yang menyenangkan.  Apa pun topik pembicaraan selalu nyambung.  Tapi setelah setahun dan mereka semakin sering bertemu, Kayla menjadi bingung dengan dirinya sendiri.  Bagaimana bisa dia menyukai lelaki?  Selama ini dia yakin sekali bahwa dia penyuka wanita sejati.  Tapi Ian?

Perasaannya pada Ian membawanya melakukan pencarian tentang apa yang terjadi dengan dirinya.  Dia mempelajari segala hal yang berhubungan dengan orientasi seksual.  Skala Kinsey dan jurnal-jurnal hasil penelitian dibacanya seperti orang kelaparan informasi.  Hingga akhirnya dia sampai pada satu kesimpulan tentang dirinya, “Aku bukan lesbian, tapi biseksual.”  Artinya bisa mencintai wanita dan juga pria.  Sejak itulah dia mengenal dirinya yang baru dan merasa nyaman dengan identitas seksualnya.  Tapi hal ini tidak pernah diberitahukannya pada siapa pun.  Tidak perlu, batinnya.

Hingga akhirnya Ian melamar dan Kayla segera menerimanya dengan suka cita yang besar.  Hanya satu hal yang menjadi bebannya, yakni memberitahu Gita.  Sebagai sepupu, Gita pasti terlibat dalam pernikahan mereka.  Itulah alasan Kayla mengajak Gita bertemu di café itu.  Kayla ingin mengatakan berita besar ini secara langsung pada Gita supaya tidak terjadi kesalah pahaman.  Lagi pula sebagai anggota keluarga besar mereka akan selalu bertemu dalam acara keluarga.  Jadi Kayla ingin dia dan Gita dapat berteman lagi.  Hanya berteman.

Awalnya menurut Kayla memberitahukan ini akan mudah karena dia tahu dari Ian bahwa Gita pun akan segera menikah.  Gita  setahun terakhir ini pacaran dengan Mario.  Jadi tidak ada masalah.  Mereka berdua kini telah menemukan calon suami yang dicintai.

Ternyata kenyataan yang dia hadapi berbeda.  Kayla sangat tidak menyangka apa yang diucapkan Gita bahwa dia masih memikirkannya.  Kayla tertegun bukan karena dia senang bahwa ada kemungkinan untuk bisa bersama Gita lagi.  Tidak.  Keinginan itu sudah tidak ada sama sekali.  Dia tidak berpura-pura mencintai Ian.  Dia tulus seperti saat mencintai Gita.  Tidak ada dalam kamusnya untuk berselingkuh walaupun Gita membuka kesempatan.

Kayla dapat membayangkan bagaimana tersiksanya batin Gita selama ini.  Tersiksa karena kepengecutannya menjalani keinginan diri sendiri dan berusaha mengikuti keinginan orang lain supaya terlihat seperti orang kebanyakan.  “Git, kamu tidak akan pernah bahagia bila tidak berani jujur pada dirimu sendiri.”  Hanya itu yang ingin dikatakan Kayla untuk Gita.  Tapi dia hanya membisu, kehabisan kata-kata.

@ @ @ @ @

Pesta pernikahan Kayla dan Ian baru saja usai.  Pesta taman yang meriah dan hangat di mana semua orang berbaur dan bersuka cita.  Saat hendak ke hotel, Gita minta izin kepada Ian untuk berbicara empat mata dengan Kayla.

“Silakan, cantik!” kata Ian sesaat sebelum pergi ke ruangan lain.

Kayla menatap Gita dengan senyum, dan Gita membalasnya dengan senyum hangat.

“Aku belum sempat mengatakan terima kasih atas emailmu sebulan yang lalu.  Sorry aku tidak membalasnya” kata Gita sambil mengulurkan tangan.

Kayla menyambut tangan Gita hangat kemudian memeluk Gita dengan erat, “Gakpapa.” katanya kemudian.

“Setelah melihat semuanya, aku tahu kamu memang benar-benar mencintai Ian.  Aku berbahagia untuk kalian.” Kata Gita setelah mereka berdiri berhadap-hadapan.

“Terima kasih.  Ucapanmu ini adalah hadiah terindah.” Air mata Kayla mengambang dengan senyum merekah di wajahnya.

“Aku yang berterima kasih karena kamu telah membukakan mataku.  Seminggu lalu aku sudah memutuskan hubungan dengan Mario.  Dan keputusan itu sangat melegakanku.  Aku kini bisa tertawa karenanya.  Aku akan berterus terang pada keluarga apa pun resikonya, seperti nasihatmu diemail itu.  Aku merasa siap kini.  Aku ingin berbahagia dengan pasanganku seperti kalian.” Gita bersemangat dan penuh suka cita di wajahnya.

“Aku sangat senang mendengarnya.” Kayla memeluk Gita erat, “Oh iya, aku kenal seseorang yang aku yakin kamu akan suka padanya.  Dia pintar, mapan dan …… cantik!” Kayla mengedipkan matanya.

Wajah Gita seketika bersemu merah, kemudian dia mengangguk dan mereka tertawa bersama.

@ @ @ @ @

Sebuah Cerpen yang terinspirasi dari artikel Pergulatan Batin seorang Bisexual

Jakarta, 30 Juni 2013

Mery DT

Twitter : @zevanya

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Maafkan, Aku Sungguh Mencintainya!

  1. andriani says:

    Keren ada menu share gak?

    Like

  2. Setelah baca artikel ni… baru saya mula faham isu
    ni… terima kasih admin… semoga dapat terus pos idea2 yg menarik..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s