Akurasi Penilaian Orientasi Sexual Dari Penampilan.

Sexual orientation.1 Sudah jadi pengetahuan umum bahwa dari penampilannya seseorang dapat diindikasikan heterosexual dan homosexual. Beberapa dekade belakangan ini banyak ilmuan yang meneliti korelasi antara orientasi sexual (homosexual atau heterosexual ) dengan suara, cara berbicara, bentuk wajah, cara berjalan/duduk, gerak tubuh, cara berpakaian, dan lain-lain.

Metode penelitian tersebut misalnya seperti berikut. Si peneliti memegang setumpuk foto di tangannya atau di komputernya, kemudian foto atau video (gambar bergerak) tersebut ditunjukkan satu persatu pada seorang relawan yang diambil secara random. Relawan tersebut menebak orientasi sexual orang di foto tersebut.  Sebuah studi yang dilakukan oleh tiga peneliti dari Harvard dan Clemson University dibawah American Psychological Assosiation pada tahun 1999 berjudul “Accuracy of judgments of sexual orientation from thin slices of behavior” menyimpulkan bahwa akurasi dari penilaian terhadap foto/gambar kira-kira 55% dan terhadap video adalah kita-kira 70%.

Dari hasil penelitian itu jelas bahwa kita tidak bisa benar 100% dalam menilai orientasi sexual seseorang hanya lewat pandangan sekilas. Bahkan gay yang biasanya punya radar untuk mengidentifikasi gay lainnya (gaydar) pun bisa salah tebak. Gay yang sudah dewasa dan berwawasan luas akan mengatakan jangan pernah berasumsi seseorang itu gay kecuali kalau dia mengaku gay. Pernah ada yang merasa bahwa gaydarnya sangat bekerja dengan baik, kemudian berasumsi seorang pria di dekatnya di sebuah bar adalah gay juga. Setelah melakukan pendekatan ternyata lelaki itu bukan gay, dan dia merasa malu.

Kita sudah terdoktrin bahwa gay lelaki itu lebih keperempuan-perempuanan dan gay perempuan itu tomboy. Ternyata tidak selalu seperti itu. Semakin kesini semakin banyak gay yang tidak terlihat gay, terutama gay perempuan (lesbian). Gina Gershon yang berpenampilan agak tomboy dan bermain apik di film Bound yang bergenre lesbian adalah perempuan heterosexual. Sedangkan Portia de Rossi yang sangat feminine adalah homosexual. Lelaki pun demikian. Bila dilihat di website pertemanan gay, maka kita dengan mudah menemukan lelaki-lelaki berbadan kekar yang berorientasi homosexual.

Sehubungan dengan topik tersebut, beberapa bulan terakhir ini aku melakukan penelitian kecil di youtube tentang penampilan gay. Dan ternyata semakin kesini, semakin banyak yang berani coming out (mengaku gay) di Youtube, dan mereka ini banyak yang masih berusia belasan. Ya tentu youtuber itu umumnya dari Amerika dan Eropah, tak pernah kutemukan dari Indonesia.

Yang menarik adalah penampilan mereka tampak sangat heterosexual (berdasarkan pendapat umum). Bila mereka tidak mengaku gay maka kita tidak akan tahu bahwa mereka adalah gay, terutama gay perempuan atau kita sebut saja lesbian. Stereotip bahwa lesbian itu tomboy atau agak tomboy dan pasangannya biasanya bepenampilan feminine adalah bisexual; teori ini semakin tidak bisa dipakai. Karena banyak kutemukan perempuan yang berpenampilan feminine itu adalah lesbian tulen, dan ada beberapa perempuan tomboy yang mengaku bisexual. Memang masih lebih banyak tomboy itu lesbian tulen, tapi ada tomboy yang bisexual atau malah heterosexual seperti Gina Gershon tadi.  Jadi jangan tertipu oleh penampilan seseorang dan jangan men”cap” seseorang dari penampilannya.  Karena seperti kata peneliti tadi, akurasinya hanya 70%.

Semakin kesini sudah tidak dikenal istilah tomboy harus berpasangan dengan feminine. Tidak lagi demikian. Banyak pasangan lesbian yang keduanya feminine atau sebaliknya keduanya tomboy/andro. Memang tetap ada pasangan yang tomboy dan feminine.   Tapi tidak diribetkan lagi harus tomboy dan feminin.  Aku rasa pendapat masyarakat umum yang selalu penasaran yang mana yang “jadi laki” dan yang mana yang “jadi perempuan” tidak benar sama sekali.  Karena dalam pasangan gay, keduanya lelaki atau keduanya perempuan.  Pasangan gay tidak ada aturan yang berpenampilan begini harus berpasangan dengan yang berpenampilan begitu, karena berpasangan itu masalah hati, bukan penampilan.

Bila anda ada kesempatan coba cek beberapa channel di youtube, seperti Rose Ellen Dix, What Wegan Did Next, Stacyand Cydney, Kaylin and lucy, Brea and Greesy, Khatrine & Erica, Sammycaakes, dan banyak lagi. Silakan cari sendiri. Mereka pasangan feminine yang sangat cantik-cantik. Mereka juga sekolah ditempat yang bergengsi, ada yang Harvard, Cambridge atau masih SMA. Pekerjaan mereka juga bermacam-macam. Dari yang kantoran hingga artis. Kemudian cek juga channel LezBeOnTalk: Marissa yang sangat feminine adalah lesbian tulen sementara Heather yang tomboy adalah bisexual. Menarik ya? Demikianlah luasnya spektrum dalam dunia homosexual.

Film lesbian pertama yang kutonton adalah “The L World”, para aktornya pun cantik-cantik dan feminine. Ada beberapa yang tomboy, tapi kebanyakan feminine. Dulu kupikir, mungkin karena film, jadi dibikinlah banyak aktornya perempuan cantik sebagai daya tarik penonton. Tapi setelah kuamati video-video coming out tersebut, ternyata memang banyak perempuan cantik berpenampilan feminine adalah lesbian tulen (born to be gay).

Don’t judge book by its cover sangat tepat untuk topik ini. Jangan menilai orientasi sexual seseorang dari penampilannya. Dan hormati hak azazi orang lain untuk memilih cara hidupnya, karena setiap orang berhak atas apa pun yang membuat dia merasa bahagia.

Happy IDAHO…!!! International Day against Homophobia. Damai di bumi seperti di Sorga. 

Jakarta, May 21, 2013
Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in LGBT and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Akurasi Penilaian Orientasi Sexual Dari Penampilan.

  1. Dari seorang Lesbian senior, Inyo dapat cerita bagaimana para gay di era 80an menandai dirinya adalah gay dengan menindik dan memasang anting2 sebelah kiri telinga. Pada era 80an di Jakarta (terutama) yg pada waktu itu mall, cafe dan bar tdk sebanyak skrg, mereka (gay) biasa berkumpul di puncak dgn menyewa villa. Atau ngumpul di salah satu rumah teman gay yg ortunya brgkat ke luar kota. Memakai anting2 sebelah kiri ini diikuti juga para Lesbian. Kemudian gaya anting2 sblah kiri ini hilang tatkala para hetero juga memakainya untuk fashion bahkan sepinggiran daun telinga dipasangi anting2. Kemudian muncul penggunaan cincin di jari kelingking tangan kiri mengikuti gaya mafia. Tapi fenomena inipun tergerus waktu. Tidak ada lagi yang bisa menandai seseorang itu gay/lesbian.
    Ada seorang penulis Lesbian yg menulis bahwa kebanyakan perempuan yang mengenakan jam di tangan kanan adalah Lesbian. Hal ini masih bisa diperdebatkan. Bagaimana dengan besar kecil jam, bagaimana dengan jam yg sportif dan feminim? Bagaimana dengan perempuan yang memang tidak pernah memakai jam tangan?
    Inyo punya teman andro, dari kenal pertama sampai sekarang dia memakai jam tangan feminim sekali, kulit, mungil dan jamnya itu sejajar tapak dalam tangan bukan di atas seperti kebanyakan orang. Jika dia tdk CO ama inyo, mana inyo tau dia Lesbian dgn caranya memakai jam, kan?
    Sekarang perempuan yg feminim banyak menggunakan jam sportif sebagai fashion, kadang sebesar sendok sayur dan di sebelah kanan pula makainya. Apakah kita bisa menebak dia Lesbian?
    Bukankah identitas/ciri2 itu mestinya “khusus” dan tidak umum seperti pemakaian anting2 dan jam tangan ? Dengan semakin banyaknya tempat hangout, majunya industry fashion dan tehnologi, gay dan lesbian tidak lagi membutuhkan penanda. Kalau penanda menjadi suatu keharusan bagi Lesbian (terutama), inyo sarankan yg agak smart and smooth aja kek tattoo ikon gender dua perempuan bertaut di kening atau di jidat. Hehehe…
    Lucunya, disadari atau tidak dari dulu untuk penanda ini, Lesbian selalu ngekor para Gay.

    Like

    • Mery DT says:

      Makasih komennya Inyo… 🙂
      Aku baru tahu kalau ada istilah peacock-ing. Seperti lagu Katy Perry: Peacock. Maksudnya adalah seperti yang kamu jelaskan di atas. Gay yang berusaha memberi kode kepada gay lain bahwa dia gay. Tujuannya ya supaya mendapatkan pasangan. Sepertinya topik ini lucu untuk ditulis nanti. 🙂

      Like

  2. Pingback: Miss Jinjing and Prejudice | Apaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s