Cinta pada level yang sama

Mengapa kita suka menonton film yang bertema cinta?  Menurutku adalah, karena kita suka melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata dua  orang yang sedang jatuh cinta. Kita terpesona oleh bahasa tubuh mereka yang saling mencintai.  Semua terasa indah.  Di dalam benak kita tertanam harapan, semoga kita dapat merasakan cinta yang sama.  Bagi yang sedang berpacaran atau yang sudah menikan, berharap dapat memelihara cinta dengan pasangannya sedemikian rupa.

Mencintai orang lain itu biasa, sama biasanya seperti dicintai orang lain.  Mencintai dan dicintai kekasih pada level yang sama itupun biasa.  Tapi yang luar biasa adalah bila bisa mempertahankan level cinta yang setara itu dalam jangka lama.  Pasti sulit.  Karena manusia cenderung berubah oleh hal-hal dari luar dirinya.  Pertemanan yang baru, pekerjaan yang baru, informasi-informasi yang di dapat dari bacaan maupun tontonan, keadaan ekonomi dan lain-lain dapat merubah seseorang.  Dan perubahan itu cenderung merubah kadar cinta kita pada pasangan.

Suami yang bekerja, istri yang hanya di rumah, biasanya hasilnya seperti ini: tubuh istri menggemuk dan kurang menarik karena tidak mengurus diri, karir suami semakin naik, punya lebih banyak uang, dan bertemu dengan banyak wanita muda yang lebih menarik.  Kemudian… BAMMM!!!  Bantal si istri pun basah akibat menangis semalaman, karena tahu cintanya telah dikhianati.

Perubahan ini tidak hanya terjadi pada lelaki, juga pada perempuan.  Istri yang bekerja, gajinya lebih besar dari suami sehingga penampilannya lebih WAH, sementara suami tak mampu mengimbangi penampilan istri.  Kemudian PLAAAKKK…. Cap 5 jari di pipi.  Suami cemburu karena mendapati istri berselingkuh dengan atasan atau teman sejawat yang lebih rapi dan wangi.

Mungkin kejadiannya tidak selalu sevulgar di atas, tapi tetap, manusia itu berubah sepanjang waktu.  Itu sebabnya kita akhir-akhir ini kita banyak melihat perceraian setelah melewati belasan bahkan di atas 20 tahun perkawinan.  Tidak selalu karena ada cinta lain yang menyebabkan perceraian, level keimanan yang tidak sama pun bisa sekali membuat rasa hambar pada pasangan. 

Pernah tertangkap telingaku tanpa sengaja ada orang berkata “Sebenarnya aku sudah tidak cinta lagi pada istriku.  Hanya karena kasihan saja.”  Kemudian aku berpikir, kalau sekarang usianya 40, dan dia diberi Tuhan kesempatan menjalani kehidupan pernikahan hingga 15 – 20 tahun ke dapan, apakah dia akan menjalani kehidupan hambar sepanjang tahun itu?  Menyedihkan.

Tapi akupun tidak tahu harus berbuat apa bila berada posisi mereka.  Haruskah bertahan tanpa rasa cinta atau bahkan sakit hati?  Atau bercerai dan berharap dapat pasangan lain yang level cintanya sama.  Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kuperbuat.

Aku adalah orang yang terlalu menjunjung tinggi nilai perkawinan, dan aku tidak ingin mengalami perceraian.  Itu sebabnya aku pernah membatalkan pernikahan (sudah sempat berbicara dengan pihak gereja) karena pada titik tertentu aku merasa aku tidak akan bisa mempertahankan cintaku padanya hingga selamanya.  Banyak hal yang kutakutkan, seperti, aku terlalu banyak bermimpi dan bercita-cita, akupun “mudah” tertarik dengan lelaki lain.  Mungkin karena saat itu cinta kami tidak pada level yang sama.  Dia ingin menikah karena usia dan disuruh ibunya, dan aku ingin mengakhiri pertualangan (cinta).  Dasar perkawinan yang sangat rapuh bukan?  Kemungkinan gagalnya sangat besar.   Aku yakin bila kuteruskan, sebelum 5 tahun usia perkawinan pun kami akan bubar jalan dengan saling menyakiti.

Sungguh aku tidak ingin mengatakan orang yang bercerai itu buruk atau baik, semua tergantung pada orang yang menjalani.  Aku tidak pernah memakai sepatu yang mereka pakai, jadi aku tidak layak menghakimi.  Bagiku, langkah apapun yang diambil adalah baik selama anak-anak tidak menderita akibatnya.

Jakarta, 8 May 2013

MDT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh. Bookmark the permalink.

One Response to Cinta pada level yang sama

  1. Santjog says:

    Cinta…cinta..oh.. cinta… ;D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s