Ulang Tahun di Punan Adiu

Yup, kemaren tanggal 5 April adalah ulang tahunku yang sangat istimewa.  Mengapa ku katakan istimewa?  Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku di hari kelahiranku tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku.  Kok bisa ya??

Begini ceritanya…..

Saat ini kutuliskan, aku berada di tengah belantara Adiu di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, di tengah masyarakat Dayak Punan.  Karena aku sedang melakukan penelitian bersama teman-teman dari sebuah LSM untuk mengambil data primer tentang ketahanan pangan Dayak Punan, sebagai bahan tulisan di buku Food From Forest yang akan di bawa ke seminar ketahanan pangan FAO PBB di Roma pertengahan Mei ini.

Kami tiba di desa Punan Adiu ini tanggal 4 sore dan numpang menginap di rumah kepala Adat, Bapak Markus Ilun.  Konon katanya Dayak Punan adalah suku Sub Dayak yang paling terakhir berintaksi dengan kehidupan modern.  Hingga saat ini pun masih banyak orang Punan yang tinggal di tengah hutan dengan cara hidup nomaden.  Hanya beberapa kelompok masyarakat Punan yang sudah mau tinggal menetap di rumah/kampung.  Kata Pak Niko, pendamping masyarakat Punan, di beberapa tempat, mereka memang sudah tinggal di kampung tapi bagi mereka perkampungan itu adalah rumah ke dua.  Rumah pertama tetap di dalam hutan.

Saat bercerita dengan kepala Adat dan Kepala Desa, mereka banyak bercerita tentang norma-norma, pantangan dan hukuman bagi pelanggar adat.  Tapi cerita tentang itu akan kuceritakan di lain tulisan saja.  Masyarakat Punan yang tinggal di Desa Punan Adiu ini tinggal di rumah papan permanen.  Ada 27 kepala keluarga.  Mereka hidup sangat sederhana bila kita melihat dari kaca mata masyarakat modern.  Tapi tentu saja mereka sudah sangat modern bila dibanding dengan pendahulu mereka satu generasi sebelumnya.

Di desa ini tidak ada signal telpon atau internet.  Posisinya di lembah, jadi bila sangat-sangat penting untuk menelpon, naiklah ke puncak bukit  yg dikenal dengan nama bukit signal.  Sejak tiba, HP langsung ku matikan karena memang tidak berguna sama sekali.  Apa lagi modem internet.  Lupakan saja.

Oh iya, di sini listriknya pun hanya menyala 6 jam, yakni dari jam 6 sore hingga 12 malam.  Mereka juga sudah punya tv dan parabola.  Tapi kulihat mereka senang menonton sinetron.  Akupun jadi khawatir mereka akan menginginkan cara hidup orang kota dan berbuat apa saja demi mendapatkannya.  Semoga saja tidak.

Setelah 2 malam ini, kami bertiga menantikan genset dinyalakan seperti menanti pujaan hati.  Begitu listrik menyala, kami sibuk mengeluarkan kabel dan mengecas gadget masing-masing: ipad, laptop dan batre kamera.  Batre ipad pasti habis-bis-bis di siang hari.  Seperti tadi, kami tidak kemana-mana karena Pak Lukas yang seharusnya membawa kami ke dalam hutan, ternyata ketiduran karena kecapean sehabis berburu dari jam 2 malam hingga pagi tadi.  Hari ini menu makan siang kami adalah hasil buruan pak Lukas.  Aku mencicipi daging ular sawah untuk pertama kalinya.

Jadi hari ini kami bertiga hanya memainkan ipad masing-masing hingga batrenya habis total, demikian juga laptop.  Nonton film, dengerin music dan games.  Tidak mungkin tidur siang karena puanas sekali.  Ntahlah, ada kali 40 ato 42 drajat celcius, baju basah kuyup oleh keringat.

Kembali ke topik awal, memang di tanggal 3 & 4, teman-teman seangkatan waktu kuliah sudah mengucapkan slamat pra-ultah, tapi itukan kurang afdol.  Sepertinya mereka tahu kalau aku tidak akan bisa dihubungi bila sudah di dalam hutan.  Aku sih yakin pasti banyak ucapan di group BB dan FB.  Apa boleh buat teman, aku akan membalasnya setelah keluar dari hutan ya!  Oh iya, kami satu team 3 orang, mereka pasti tidak tahu tanggal lahirku, apalagi warga Punan bukan?  Jadi aku merayakan ulang tahunku di dalam hati dalam kesunyian.  Mengucap syukur karena dapat menikmati suasana ulang tahun di tempat luar biasa ini.

Jadi kemaren, di hari ulang tahunku, aku bangun dengan tulang-tulang yang terasa sakit karena tidur di atas lantai papan, hanya beralas tikar.  Mungkin karena itu aku sulit sekali tidur.  Sekitar jam 10 pagi tadi kami melakukan pertemuan dengan warga desa.  Kemudian lanjut ke hutan sekitar jam 3 sore.

Dan aku bersyukur sekali pas di hari ulang tahunku itu aku melakukan perjalanan ke tengah hutan yang sangat indah dengan menggunakan ces, perahu kecil ramping bermotor.  Kami menyusuri sungai kecil jauh ke tengah hutan.  Sungai itu sangat dangkal dan banyak ranjau berupa batang atau patahan dahan.  Airnya pun coklat kehitam-hitaman.  Bila motoris tidak terbiasa melewati jalur itu, perahunya pasti akan terjungkal.  Perahu kami pun kemaren nyaris terbalik 2 kali.  Memang mungkin tidak akan menyebabkan luka parah sekiranya pun perahunya terbalik.  Masalahnya temen-temen membawa kamera dengan aneka lensa.  Pak Lucas dan kedua anaknya yang masih di bawah 10 tahun itu bener-benar jagoan di dalam hutan.  Anaknya yang bungsu, umur 6 tahun, bahkan tidak menggunakan alas kaki sama sekali.  Hebat, kakinya sama sekali tidak tertusuk duri.

Jam 6 lewat kami ke luar hutan.  Pak Lukas sempat kesulitan menghidupkan mesin perahunya.  Sempat terlintas dalam pikiranku bahwa kami akan pulang ke kampung dengan cara menyusuri hutan pada hari ulang tahunku ini.  Puji Tuhan Pak Lukas akhirnya berhasil menghidupkan mesin perahunya, dan kami pun selamat sampai rumah.

Malamnya aku tetap tidak bisa tidur cepat apalagi nyenyak.  Saat ini pukul 22.52 WITA tapi aku belum ingin tidur.  Kulihat kedua temanku – keduanya pria – sudah tertidur nyenyak.  Tiap malam aku yang selalu trakhir merebahkan badan.  Kami semua tidur di ruang tamu.  Aku mendengar suara dengkur mereka, juga suara kentut mereka saat subuh.  🙂

Ya demikianlah ceritaku berulang tahun di tengah rimba belantara di antara warga Dayak Punan, tanpa internet, sinyal telpon dan listrik yang terbatas.  Simple life.  Terkadang kita memang perlu kembali pada kehidupan yang jauh dari hingar-bingar modernisasi untuk mensyukuri apa yang kita punyai.

Terima kasih untuk kesempatan ini dan pertamabahan umur, ya Tuhan Allah penguasa jagad raya.

Aku menuliskan ini di tanggal 6 April 2013.

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Ulang Tahun di Punan Adiu

  1. ramramdh says:

    Selamatulangtahun…
    Yah merayakan(?) ulang tahun di punan adiu bisa jd kado spesial dr tuhan yg takkan terlupakan bukan?
    Dan semoga saat seminar nantinya berjalan lancar dan sukses.

    Like

  2. Mery DT says:

    Terima kasih! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s