Menikah dengan Komitmen

wedding ring1Aku suka mengamati dan mempelajari hal-hal yang sedang berlangsung di sekitarku.  Pasti banyak yang seperti aku.  Asyik saja rasanya bisa memahami sesuatu yang walaupun tidak terjadi pada kita.  Seperti halnya perkawinan.  Ya, aku memang belum menikah, tapi aku banyak berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki masalah rumah tangga dan yang rumah tangganya adem ayam tanpa gejolak.

Berbicara tentang pernikahan, tampaknya semakin modern cara hidup seseorang, semakin tinggi pendidikan, semakin bagus kondisi ekonomi dan semakin banyak relasi dan kenalan, maka semakin besar pula tantangan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga.   Aku belum melihat statistik atau riset tentang hal itu, tapi sebab akibat itu terasa sangat nyata dalam pernikahan para sahabat, teman dan berita-berita yangbersilewaran di mediamassa.

Beberapa malam lalu, aku sempat diskusi dengan seorang teman yang sudah lama menikah.  Dia bercerita tentang masalah keluarga dan masalah keluarga orang-orang dekatnya.  Kemudian aku mengatakan, “Mbak, hanya satu yang bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga, yaitu komitmen.” Kataku seperti penasihat pernikahan yang sudah menangani ribuan pernikahan.  Dia diam sejenak.  Kemudian aku melanjutkan, “Kalau memang sudah tidak berkomitmen, alasan apa pun dipakai untuk memutus ikatan pernikahan akan masuk akal dan dapat dimaklumi.” Kemudian dia mengangguk.

Sejuta alasan dapat disebutkan mengapa ingin bercerai, pasti bisa dipahami dan akan dimaklumi orang-orang yang mendukung kita.  Dan sejuta satu alasan untuk tetap bertahan akan terlihat kuno.  Bahkan alasan perasaan anak pun dianggap bisa diselesaikan dengan membagi waktu kunjungan antara si ayah dan si ibu.   Anak yang selalu menjadi korban dari perceraian, tapi mereka selalu menjadi nomor sekian yang dimintai pendapatnya.

Akhirnya memang, setelah menikah, janganlah hanya menikah dengan pasangan, tapi menikahlah dengan komitmen pernikahan itu sendiri.  Orang yang berkomitmen dengan pernikahannya akan tetap bertahan walau badai topan menerjang.  Tapi aku tak ingin menghakimi orang-orang yang memilih perceraian.  Semua punya pemikiran dan pertimbangan masing-masing.  Dan aku tidak pernah memakai sepatu mereka sehingga tidak pernah tahu apa yang mereka rasakan.

Ach, aku memang si pandir yang cuman bisa berbicara.  Aku sendiri belum pernah menikah dan telah berani berkata-kata tentang pernikahan, dan mengajari orang pula.  Bukan main!!!  Tapi itulah alasanku mengapa belum menikah, karena memang belum ketemu orang yang bisa membuatku berkomitmen 100%.  Karena aku tahu siapa aku dan apa yang akan kulakukan bila menghadapi orang yang tidak klik dihatiku.

Seorang kakak tingkat yang sudah kuanggap abangku sendiri, berkomentar atas cerpenku “Sepercik Bara Asmara di Twitter” yang terbit di portal Media Indonesia di sini , katanya: “Ah, kamu itu pinter ngeramu cerita aja, padahal pengalaman minim.”  Aku hanya tertawa menanggapi komentarnya itu.  Maksudnya pasti karena aku belum menikah dan aku bercerita tentang pernikahan.  Pengalaman memang guru yang terbaik, tapi tidak selalu musti pengalaman sendiri bukan?  Pengalaman orang lain juga bisa jadi pelajaran.

Ok deh, selamat menjalankan biduk rumah tangga, teman-teman…. Menikahlah dengan komitmen pernikahanmu, maka pernikahan itu akan bertahan hingga saatnya ajal memisahkan.  Semoga…!!

Jakarta, 4 Pebruari 2013

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s