Tokoh-tokoh yang menginspirasi dari Oprah Show

Oprah1. Tadi (siang) aku ngantuk banget.  Tapi aku tak ingin tidur siang, aku ingin produktif siang ini.  Kopi hitam tidak mampu menahan mataku untuk tetap terjaga.  Aku sempat tertidur sejenak di depan laptop yang sudah semangat menerima tugas dariku.  Akhirnya aku menyerah dan mematikan sahabat kecilku ini.

Tapi begitu hendak merebahkan tubuh, ada acara : “Countdown to the last ‘Oprah Winfrey Show’: Oprah’s favorite guest ever” di Metrotv. Sebenarnya acara ini ulangan yang sudah ditayangkan sekitar Mey 2011 yang memang belum pernah ku tonton.

Acaranya tentang tamu Oprah Show yang terbaik selama 25 tahun.  Rasa kantukku seketika sirna dan diganti dengan keterpanaan dan keharuan yang membuncah dalam dadaku.  Jujur saja, aku sering merasa menjadi orang paling malang sedunia.  Tapi begitu menonton kisah hidup ke 3 tokoh dalam acara tersebut, aku merasa sangat-sangat kecil karena menyia-nyiakan banyak waktuku.  Alangkah memalukannya diriku ini.  Beberapa kali aku harus menarik tisu karena begitu terharu melihat kisah mereka.  Hatiku tergerak untuk berbuat lebih baik lagi dan tidak menyia-nyiakan waktu dan apapun yang kupunya.

Supaya moment itu tetap hidup, baiknya kutuliskan saja, sehingga saat aku lemah, aku dapat kekuatan lagi setelah membacanya.  Berikut cerita tokoh-tokoh hebat itu:

1.     Jacqui Saburido

Jacqui lahir sebagai anak tunggal dan besar dalam keluarga yang mapan di Amerika Latin.  Dia cantik dan ceria.  Dia kuliah di tehnik mesin untuk nantinya dapat menggantikan ayahnya menangani perusahaan keluarga.  Ketika umur 20 thn dia pergi ke USA untuk memperdalam bahasa inggris.  Suatu hari di tahun 1999, saat dia mengendarai mobilnya, dia ditabrak oleh seorang pengemudi yang sedang mabuk.  Seketika mobilnya meledak dan dia terjepit di mobilnya.  Beberapa menit kemudian dia diselamatkan tapi seluruh daging di wajahnya sudah meleleh, termasuk telinga dan hidung.

Hingga saat dia diundang lagi ke acara Oprah saat itu, dia sudah menjalani paling tidak 120 kali operasi.  Dia juga mengalami depresi kronis.  Dia adalah orang yang berani menghadapi hidup walau fisik yang dia miliki saat ini jauh dari kata cantik.  Tak terbayangkan bila aku mengalami kejadian seperti itu.  Pasti mimpi buruk setiap saat.  Dari gadis yg ceria, cantik dan memiliki banyak teman, menjadi gadis depresi, jelek dan ditinggalkan semua teman.  Tanpa kehidupan sosial.  Tapi dia tetap mau menjalani hidupnya.  Semoga Tuhan memberimu kekuatan dan kesembuhan terutama mentalmu, Jacqui!  Dan cerita hidupnya telah mencambukku.

2.     Matthew Joseph Thaddeus Stepanek

Atau lebih terkenal dengan nama Mattie Stepanek adalah anak terkecil dari 4 bersaudara yang kesemuanya mengidap penyakit yang sangat langka yaitu Dysautonomic Mitochondrial Myopathy.  Ibunya, Jani, di diagnosa  sebagai pembawa gen setelah keempat anaknya lahir.  Kakak-kakak Mattie – Katie, Stevie & Jamie – telah meninggal dunia sebelum umur 4 tahun.  Mattie hidup lebih lama dan dia mempelajari banyak hal tentang kondisinya yang langka.  Seperti semua kakak-kakaknya, Mattie juga membutuhkan korsi roda, ventilator, tabung oksigen, monitor dan lain-lain.  Saat Mattie berumur 4 tahun, ibunya juga menggunakan kursi roda, dan beberapa tahun kemudian juga mulai menggunakan ventilator untuk membantunya bernafas.

Mattie dikenal sebagai aktivis perdamaian dan pembuat puisi yang dihormati.  Walau usianya sangat singkat, nyaris 14 tahun ( 17 July 1990 – 22 Juny 2004), tapi dia telah meninggalkan banyak warisan yang tak ternilai harganya.  Selagi masih hidup, Mattie telah menerbitkan 6 buku koleksi puisi-puisi dan easi Heartsongs nya.  7 bukunya masuk bestseller New York Times dan telah menyentuh jutaan hati di seluruh dunia dan telah terjual lebih dari 1,5 juta eksemplar.  Dia mulai menulis puisi “Heartsongs’ pada usia 3 tahun saat abangnya Stevie sedang sekarat.  Ibunya membantu menulis puisi-pusinya hingga dia bisa menuliskannya sendiri.

Karena Mattie sangat mengesankan bagiku, aku akan menulis tentang dia secara tersendiri setelah artikel ini.

3.     Dr. Tererai Trent

Adalah seorang wanita yang sangat hebat.  Hidupnya adalah contah dimana hal yang mustahil dapat menjadi kenyataan.  Dia juga telahmemberi motivasi yang besar buatku.

Tererai lahir di Zimbabwe di sebuah gubuk yang reot.  Dia tidak diperkenankan bersekolah karena dia perempuan.  Tererai senantiasa menonton dari jauh abangnya, Tinashe, belajar di sekolah. Dan dia belajar membaca dan menulis dari buku sekolah Tinashe, hingga akhirnya dia yang sering menyelesaikan PR abangnya.  Dia ingin sekali bersekolah tetapi dilarang sementara abangnya tidak ingin bersekolah tapi di paksa.  Guru Tinashe curiga karena PR-nya selalu lebih baik dari pada bila dia kerjakan di sekolah.  Akhirnya sang guru mengetahui bila Tererai yang mengerjakan.  Sang guru memohon ayahnya supaya mengizinkan Tererai bersekolah.  Akhirnya Tererai bersekolah, tapi hanya beberapa bulan karena dikawinkan pada saat usianya 11 tahun.  Pada usai 18 dia telah memiliki 3 org anak dan suaminya selalu memukulinya bila menginginkan pendidikan.

Pada tahun 1991, Jo Lucky dari Haifer International mengunjungi desanya dan menanyakan pada setiap wanita di sana tentang impian terbesar mereka,  tererrai berkata, dia ingin pergi ke Amerika dan mendapatkan gelar sarjana strata 1, master dan kemudian doctor.

Didorong oleh ibunya, dia menuliskan semua impiannya disebuah kertas dan memasukkannya di dalam kaleng kemudian menguburnya dibawah batu.

Pada tahun 1998, Tererai pindah ke Amerika bersama suami dan kelima anaknya.  Tiga tahun kemudian dia mendapatkan gelar sarjana di bidang pertanian.

Tahun 2003, tererai mendapatkan gelar Master.  Suaminya dideportasi ke Zimbabwe karena perbuatan penganiayaan terhadap dirinya.  Dia kemudian menikah kembali dengan Mark Trent, seorang Pathologist yang dia kenal di Univesitas Oklahoma.  Setelah mendapatkan masternya dia kembali ke Zimbabwe dan menggali kaleng yang pernah dia tanam untuk mengecek keinginan-keinginan yang sudah tercapai.

Di Desember 2009, dia mendapat gelar Doktor dari Western Michigan University dengan tesis mencari program-program pencegahan HIV/AIDS untuk perempuan dan anak gadis di bagian Sahara Afrika.

Ketika ditanya Oprah, sekarang apa yang menjadi cita-citamu, Tererai berkata, “Aku ingin membalas budi dengan mendirikan sekolah untuk anak perempuan di kampungku.  Dia sudah menjual kaos untuk membantu pembangunan sekolah yang dia impikan. Kemudian Oprah memberikan donasi bantuan sebesar USD 1,5 juta.  Atau sekitar Rp. 14 milliar.

Cerita tentang Tererai Trent ini sungguh luar biasa.  Dari seorang yang tampak sudah tidak memungkinkan meraih cita-citanya, akhirnya berhasil meraih gelar Phd.  Seorang perempuan yang tidak bersekolah, menikah di usia 11 tahun, tapi masih semangat mengejar cita-cita walaupun telah memiliki 5 orang anak.  Luar biasa.  Contoh hidup tentang yang mustahil dapat jadi kenyataan.  Dia menjadi tokoh yang akan selalu ada dalam benakku bila aku lemah mengejar cita-cita.

Aku merasa seperti mendapat suntikan semangat baru setelah menonton episode ini.  Terima kasih Oprah dan Metrotv.

Jakarta, January 12, 2013

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s