Diskusi Seru Seputar Homosexual

 Semalam bersama 3 sahabat, yang sesungguhnya mereka bertiga adalah adik kakak, kami menghabisakan malam sambil berbincang seru di rumah salah satu dari mereka.  Mereka sekeluarga sudah seperti saudara bagiku.  Rencananya malam ini hanya berkunjung saja, tidak ada acara menginap.  Tapi ternyata, seperti biasanya, bila sudah berkumpul sulit memutus cerita hingga jam menunjuk pukul 1 AM.  Kemudian kami memutuskan menginap.  Pulang besok pagi.

Sebenarnya bila kumpul begini, kami biasa ceritaan hingga subuh.  Tapi malam ini kami hendak tidur cepat karena besok pagi ada acara (ada yang ke gereja, ada yang melayat teman yg menjadi korban pesawat Sukhoi), kami memutuskan tidur.  Tuan rumah, si A, pamit pergi tidur.  Sementara kami bertiga tetap di ruang keluarga yang akan menjadi tempat kami tidur malam ini.

Sebotol red wine telah dibuka.  Si P berharap wine akan membantunya mengantuk.  Kemudian Si M menyinggung masalah penyerangan FPI ketika diskusi buku Irshad Manji di Salihara.  Ternyata Si P sama sekali tidak tahu masalah ini karena dia lebih sering di udara, jadi jarang memantau berita di televisi.  Sambil menyesap wine, mengalirlah ceritaku tentang kejadian ketika itu.  Dari cerita itu berlanjut menanyakan “Siapakah Irshad Manji?”.  Aku kemudian bercerita garis besar tentang wanita ini.  Kemudian teman ini bertanya, “Dia Lesbi kan ya?”

Aku menarik nafas dalam, “Ini pasti akan menjadi diskusi yang berat.  Bakal gak tidur nih” kataku dalam hati.  Aku berpengalaman beberapa kali diskusi dengan teman-teman yang religius (Kristen) tentang homosexualitas.  Beberapa dari mereka tidak bisa menerima hal itu, dengan mengatakan itu dosa terhadap Allah.  Pokoknya DOSA!!!  Ingat Sodom dan Gomora!!  Tapi lucunya, aku pernah berdiskusi dengan seorang Pendeta muda yang malah menaruh empati pada kehidupan kaum homosexual dan dia menghindari mengucapkan kata “dosa” pada kelompok ini.

Tapi aku percaya, temenku ini open minded dan dia sudah biasa terbang ke timur tengah, dan saat aku mengatakan bahwa homosexual itu disamping dikarenakan factor genetika dan psikologi, juga dipengaruhi cara menjalani hidup dan juga pengalaman masa kecil.  Aku memulai dengan menceritakan statistik angka kaum homosexual di beberapa negara.  Dan teman ini setuju bahwa cara hidup juga menentukan orientasi sexual karena dia melihat sendiri bagaimana di beberapa negara yang dia kunjungi sangat ketat dalam pemisahan dunia lelaki dan dunia wanita.

“Di sana dengan mudah kita melihat lelaki bergandengan tangan dengan lelaki di jalanan loh nek!  Tidak ada lelaki yang mengandengan tangan perempuan.  Soalnya hukum cambuk yang akan diterima pasangan tersebut.” Kata P menceritakan kondisi di sebuah Negara yang sering dia kunjungi karena tugas penerbangan.

Aku jadi teringat apa yang dikatakan Putri Sultana dalam buku Princess Sultana’s Daughters, begini kira-kira: “Karena budaya kami melarang laki-laki dan perempuan bertemu dalam satu ruangan, sehingga bila melakukan pertemuan atau pesta, lelaki hanya bertemu lelaki dan perempuan hanya bertemu perempuan.  System pendidikan yang membatasi perempuan untuk bersekolah tinggi menyebabkan ada gap yang besar antara wawasan pria dan wanita.  Lelaki yang bersekolah tinggi hingga ke luar negeri, pembicaraannya sering tidak dipahami oleh istri-istrinya, sehingga dia merasa lebih nyambung berbincang dengan lelaki lain yang memiliki wawasan yang sama.  Urusang dengan istri hanya seputaran ranjang.  Kedekatan lelaki dengan lelaki itu sering berujung pada hubungan intim.  Demikian juga wanitanya, karena sering merasa disepelekan suami karena kurang berpendidikan, maka pada saat bertemu sesama perempuan ketika berpesta (hampir setiap minggu) mereka saling berkeluh kesah hingga timbul simpati dan empati.  Kedekatan seperti ini pun lama-lama menjadi hubungan sejenis. ”

Kondisi ini sangat masuk akal, karena seperti yang dikatakan Prof. Stevie Jackson, “Sexuality is fluid”.  Seksual itu cair, terutama pada wanita.  Karena perhatian yang dalam dan tulus dari teman wanita, seorang wanita bisa jatuh cinta pada wanita yang memberikannya rasa aman dan nyaman.

Kembali ke diskusi, awalnya Si P bersikeras bahwa homosexual adalah dosa.  Kita sebagai orang beriman harus bisa menahan diri supaya tidak keluar dari jalur yang sudah digariskan Tuhan.  Aku setuju apa yang dia katakan.  Dulupun saat belum mempelajari banyak tentang homosexual aku berpendapat demikian.  Tidak ada abu-abu dalam beragama, Firman Tuhan di Alkitab berkata homosexual dosa maka itu adalah dosa.

Kemudian aku mengatakan, menurut survey paling sedikit 10% dari populasi adalah gay, maka dari 6 miliar penduduk dunia, ada 600 juta orang yang tersiksa karena tidak bisa menikmati hubungan sexual seperti yang dia kehendaki.  Bila semua manusia religius dan menjalani hidupnya seperti koridor kitab suci maka wanita gay akan terpaksa menikah dengan lelaki dan akan merasakan “perkosaan” sepanjang hidupnya.  Karena dia tidak akan pernah menikmatinya.  Itu tentu siksaan yang mengerikan.  Demikian juga lelaki gay yang harus menikah demi menjalankan perintah kitab suci akan merasakan siksa batin sepanjang hidupnya.

Alangkah malangnya manusia yang 10% tersebut.  Harus menderita karena bukan perbuatannya.  Bagi yang belum tahu penyebab gay silakan baca artikel “disini”   Sedemikian kejamkah Tuhan terhadap 10% populasi itu?  Kenapa Tuhan menghukum sebagian orang dan memberikan kenikmatan pada sebagian orang lagi?  Kenapa Tuhan pilih-pilih kasih terhadap mahluk ciptaanNya sendiri?  Tidakkah Tuhan yang Maha Kuasa itu mampu memperbaiki genetika mereka supaya tidak ada homosexual?

Aku menceritakan bahwa di Amerika ada gereja yang pendetanya gay, Gene Robinson, dan dia merangkul jemaatnya yang gay yang kebingungan karena orientasi sesualnya.  Demikian juga ada Rabbi gay dengan pengikut yang gay pula.  Aku cuman belum melihat ada uztad gay yang merangkul muslim gay.  Biasanya gay muslim lebih ketakutan bila identitas mereka terbongkar terutama yang masih tinggal di negara muslim, karena hukuman yang sangat berat yang akan mereka terima.  Tapi gay muslim yang tinggal di negara sekuler lebih berani membuka diri.

Dari pada pembahasan mengawang-awang, aku menceritakan beberapa teman gay yang demikian bingung dan tersiksa menjalani hidupnya.  Mereka ada dan real.  Perlahan si teman ini juga mulai menganalisa teman-temannya.  Akhirnya kita membahas orang-orang yang kita kenal bahkan kita sayangi sebagai teman.  Ya gay itu ada disekitar kita.  Setelah melihat itu, kita tidak berani lagi mengatakan mereka akan masuk neraka.  Yang ada adalah kasih dan doa, semoga dia bisa merasa lebih ringan menjalani hidupnya.

Maksudku adalah rasa simpati kita kurang saat kita membicarakan orang yang tidak kita kenal, tapi saat yang kita bicarakan itu bersinggungan dengan orang yang kita kenal baik maka penghakiman itu akan berkurang atau malah tidak ada.  Penilaian kita terhadap gay akan berubah.  Kita pun sebagai teman tidak ingin mengatakan mereka harus dihukum karena menjadi gay.  Akhirnya kita bisa sedikit bersimpati terhadap apa yang dia alami dan hadapi di sepanjang hidupnya.

Akhirnya kami sampai pada kesimpulan bahwa semua orang bebas beragama dan bertuhan.  (Penjelasan ini dapat dilihat di artikel “disini)  Orang akan memakai agama sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.  Tidak ada hak kita mengatakan mereka berdosa karena begini atau begitu.  Biarlah dosa itu jadi urusan Tuhan saja.  Tidak sepantasnya kita membatasi iman dan keyakinan orang yang mau menyembah penciptanya.

Yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah respek terhadap pilihan hidup mereka, homosexual yang menikah, tinggal bersama, ataupun melajang.  Itu hak masing-masing menentukan apa yang terbaik buat mereka.  Kalau tidak bisa meringankan hidup mereka yang memang sudah lebih ribet, sebaiknya kita jangan memperberatnya.

Tanpa terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 subuh.  Ah, wine tadi tidak berfungsi sebagai obat tidur rupanya.  Kalah dengan topik diskusi yang seru ini.  Kami sering berdiskusi dengan beragam topik, tapi baru kali ini bertema homosexual.

Ah, capek juga.  masing-masing ambil posisi tidur di sofa.

Note: Foto adalah foto pernikahan Chely Wright (Penyanyi Country USA) & Lauren Blitzer (penulis, USA)

Jakarta, 13 Mei 2012

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Sexual Orientation and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s