Gay Pride dan Stigma Negatif Homosexual

 Jauh sebelum mempelajari banyak tentang sexualitas (heterosexual & homosexual) aku termasuk orang yang risih melihat parade gay yang beberapa kali di tayangkan di tivi, dan hingga kinipun setelah memahami sedikit tentang homosexual, aku tetap saja masih risih melihatnya.

Yang aku maksud risih itu adalah bila melihat sebagian dari mereka yang berparade dalam LGBT Pride, berbusana sangat minim dan menunjukkan erotika sepanjang berparade.  Lihatlah parade LGBT di berbagai negara seperti Belanda, Israel, Amerika, dll.

Tapi aku sangat berempati pada kaum gay yang mengalami diskriminasi – ini perlu aku tambahkan disini.

Apakah tujuan mereka berparade?  Untuk memperkenalkan pada masyarakat umum bahwa “Kami ada”?  Untuk memperjuangkan persamaan hak dalam melakukan pernikahan yang diakui negara?  Untuk merebut simpati masyarakat umum atas orientasi sexualnya?  Ok, parade itu tidak salah.  Tapi mengapa mereka tidak berpakaian sopan saja dan melakukan kegiatan yang tidak menonjolkan sexualitas yang sensual?

Mungkin karena aku lahir dan besar di timur sehingga risih dengan pemandangan seperti itu.  Tetapi aku tidak sendiri, ternyata banyak juga orang yang walaupun lahir dan besar di barat seperti Amerika atau Eropah tetap saja risih melihat hal tersebut.  Itulah sebabnya disepanjang parade itu banyak pula orang yang membawa plang atau spanduk yang menghujat homosexual.

Kenapa mereka harus berpakaian seperti itu?  Tanpa mereka berbuat seperti itu homophobic (orang yang anti pada homosexual) sudah mengencam mereka dari berbagai sudut.   Apalagi dengan mempertunjukkan kegiatan yang tidak biasa seperti itu di ruang publik!

Apakah mereka pikir bahwa mereka akan mendapat simpati masyarakat umum dengan berlaku seperti itu?  Aku rasa ini sangat kontra poduktif.  Masyarakat umum akan semakin anti terhadap kelompok homosexual.  Lihat saja apa yang dialami oleh homosexual lain yang tidak melakukan atau tidak menyetujui parade tersebut.  Misalnya bila ada gay/lesbian yang berprestasi di berbagai bidang, mereka tetap saja diberi stigma negative, padahal prestasinya tidak ada hubungannya dengan orientasi sexualnya.

Mengapa demikian?  Karena masyarakat sudah disuguhi tontonan yang diluar batas penerimaan mereka sehingga hal itu terekam dalam memori mereka.  Bila melihat atau mendengar gay/lesbian, maka mereka langsung mengasosiasikannya pada kegiatan sexual seperti itu.

Hal itu membawaku pada perenungan, mengapa mereka berparade seperti itu?  Tidakkah mereka memikirkan efek yang akan diterima oleh gay/lesbian di belahan bumi lain?  Terutama negara-negara yang masih mengadopsi nilai – nilai agama dalam bertata-negara.

Satu lagi yang sering membuatku bertanya dan ingin menyampaikannya pada teman-teman LGBT yang melakukan aksi, tolonglah jangan buatkan tema atau subtema yang provokatif pada spanduk atau brosur kegiatan kalian!  Aku lupa tepatnya kapan, mungkin tahun lalu, LGBT Malaysia membuat suatu acara dengan mengusung tema “Sexual merdeka” pada spanduk mereka.  Ini jelas sangat provokatif.

Tentu saja acara itu diprotes secara besar-besaran.  Mengapa?  Karena yang membuat tema acara tidak mempertimbangkan pengetahuan dan psikologi umum.  Bagi sebagian besar orang timur, kata “sexual” itu mengarah pada kegiatan bersenggama, sementara teman-teman LGBT merasa sexual disini adalah “identitas diri” yang ingin mereka merdekakan.  Cobalah teman-teman LGBT agar lebih sensitif terhadap kaum awam yang telinganya masih risih mendengar kata “sexual”  Edukasilah masyarakat dengan bahasa yang bisa mereka pahami dan terima secara nyaman.  Dengan demikian tujuan acara atau kampanye itu dapat tercapai.

Tentu aku tidak hanya ingin memperotes teman-teman LGBT.  Aku juga merenungkan mengapa hal itu bisa terjadi.  Ternyata setiap orang yang sudah terlalu lama merasa tertekan dalam keadaan tertentu, akan melampiaskannya secara berlebihan apa bila mereka menemukan wadah dan komunitas yang sama untuk berekspresi.  Sangkin lamanya merasa tertekan, biasanya menjadi lepas kontrol dalam kondisi seperti ini.

Orang-orang seperti ini tidak hanya dalam hal orientasi sexual, juga agama, kesukuan, ras, dan lain sebagainya.  Di kampus-kampus Amerika saja masih terjadi polarisasi mahasiswa berdasarkan ras.  Ada kelompok Asia, kelompok kulit hitam, kulit putih, Amerika Latin, dan lain sebagainya.  Ini di kelompok orang terpelajar loh!  Bayangkan saja itu juga terjadi di masyarakat umum.  Karena ego, ada kelompok yang overacting sehingga terjadi perselisihan dengan kelompok lain.  Seorang pemuda Asia / kulit hitam / kulit putih / latin yang biasa tertekan karena dihina kelompok lain, akan menjadi garang bila sudah berkumpul dengan kelompoknya.

Demikian juga halnya remaja yang selalu tertekan dalam keluarganya tanpa bisa mengatakan apa yang dia inginkan.  Dia akan melampiaskan perasaanya yang tertekan dalam kelompok yang bisa menerima dirinya apa adanya.  Bila kebetulan dia bergaul dengan anak-anak yang bermasalah maka dia akan menjadi bagian anak bermasalah tersebut.  Maka terbentuklah gank-genk remaja nakal yang bermasalah dengan masyarakat.  Misalnya genk motor.

Aku pikir homosexual pun demikian.  Mereka yang merasa tidak diterima dalam lingkungan atau keluarganya akan melampiaskannya dengan menunjukkan kegiatan erotik di tempat umum.  Apakah anda pernah melihat sekelompok anak-anak remaja sejenis yang menunjukkan kegiatan intim bersama pasangan agak berlebihan di depan umum?  Misalnya tanpa malu-malu, berpelukan dan menciumi pasangannya di pojok sebuah café?

Aku pernah tanya pada teman-teman lesbian, bagaimana menurut pendapat mereka mengenai hal tersebut?  Mungkin karena yang kutanya adalah teman yang sudah berpikiran dewasa maka umumnya mereka tidak setuju.  “Get a room please!” kata mereka.  “Hal itu hanya akan menambah hitam stereotip lesbian” kata seorang teman yang lain.  Tapi bila cuman gandengan tangan atau saling tatap mesra masih wajar sih, kata yang lain.

Aku rasa, tidak hanya lesbian/gay, heterosexual saja bila berlaku berlebihan di ruang publik, dan kita pun risih melihatnya.  Padahal kelompok ini adalah kelompok sexual yang paling diterima masyarakat.  Nah, apalagi bila kelompok homosexual yang melakukannya.  Ini sangat merugikan bagi kampanye-kampanye homosexual untuk bisa diterima masyarakat umum.

Tapi aku tahu homosexual yang melakukan kegiatan intim (pelukan & ciuman) di ruang publik sangat-sangat sedikit jumlahnya dibanding yang tidak melakukannya.  Aku tahu banyak homosexual yang menyembunyikan identitasnya hingga tidak mungkin berlaku seperti itu di ruang publik. Tapi masyarakat umum tetap tidak mau perduli pada kelompok yang bersembunyi ini.  Contoh yang dilakukan beberapa orang dianggap sudah mewakili semua kaum homosexual.

Mungkin karena hal tersebut banyak masyarakat umum berpikiran bahwa kaum homosexual hanya memikirkan sex.  Tidak benar itu.  Banyak kaum homosexual yang sangat sukses dan sama sekali tidak menonjolkan seksualitasnya.  Yang belaku seperti itu tidak hanya pada kelompok homosexual kan?  Terjadi juga kan pada heterosexual.  Cuman karena homosexual dianggap prilaku menyimpang maka merekalah yang paling di sorot.

Tujuanku dalam tulisan ini tentu supaya teman-teman homosexual membatasi diri dalam berlaku bila sedang dalam kelompok, jangan membuat sigma itu menjadi lebih gelap.  Dan buat teman-teman heterosexual, jangan mengeneralisir semua kaum homosexual dari perilaku satu atau dua orang yang kita lihat.  Homosexual atau heterosexual sama saja, dan semua bisa jadi apa saja dalam karirnya.  Tidak perlu saling mendiskreditkan.  Kita sama-sama manusia yang di beri hak hidup oleh Tuhan.

Bila ada orang yang dalam pandangan kita telah melakukan dosa karena cara hidupnya, jangan dihakimi.  Karena dosa adalah domain Tuhan, maka biarlah Tuhan yang menghakiminya.  Tidak pantas manusia berlaku sebagai Tuhan.

Jakarta, 11 Mei 2012

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Sexual Orientation and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s