Dimanakah engkau, Jendral?

 Aku sangat sedih sekarang.  Sedih melihat Indonesia saat ini.  Sudah secara ekonomi terpuruk, politiknya pun menjijikkan.  Kita bisa merasa bahwa sebagian besar pejabatnya korup, tapi hanya sedikit yang di tangkap dan dipenjarakan.  Hukumannya pun sangat ringan.  Sangat-sangat tidak sepadan dengan kerusakan yang telah mereka lakukan.

Aku miris melihat saudara-saudara di Papua.  Mereka menjadi buruh di tanahnya sendiri.  Mereka menangis melihat hasil buminya dirampok, dikeruk dan dibawa keluar, dan untuk mereka hanya remah-remah dari meja makan tuannya.

Papua tidak sendirian, ada juga Kalimantan.  Apa yang didapatkan penduduk asli setelah rumah mereka (hutan) dibabat habis oleh para pengusaha dari luar pulau ataupun luar negeri? Hanya sebagian kecil warga Dayak yang mencicipi manisnya madu kerusakan itu, tapi sebagian besar hanya kebagian memunguti remeh-remah dari piring pendatang yang semakin tambun dan sombong pada pribumi.

Bila perusakan alam sah dilakukan oleh kelompok yang memiliki izin merusak alam, maka ada pula kelompok yang mempunyai izin sah untuk merusak tatanan bermasyarakat.

Aku ingat sekitar 15 atau 20 tahun lalu, toleransi umat beragama sangat terjaga di negeri ini.  Banyak negara lain yang belajar arti toleransi beragama disini.  Tapi toleransi itu sekarang sudah tinggal kenangan, menjadi sejarah.  Negara telah melakukan pembiaran pada sekelompok orang untuk menghakimi kelompok lain yang tidak disukai.  Kelompok ini berlindung dibalik kutang Polisi.  Mereka bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan.

Kelompok ini memakai jubah agama.  Aku yakin sebagian besar orang tidak menyetujui agamanya dipakai sebagai senjata.  Tapi kelompok ini sekarang semakin besar dan semakin beringas.  Aku ingin mengatakan bahwa mereka adalah kelompok preman yang memakai baju agama, tapi kenapa teman-teman yang beragama sama tidak marah atas tindakan mereka?  Apakah kalian tidak tersinggung, teman?  Apakah kalian merasa terwakili?

Menyedihkan melihat ormas preman ini bergandengan mesra dengan Polisi dalam banyak kejadian, seperti membubarkan kegiatan yang tidak disukai.  Aku tidak tahu, apakah Polisi memanfaatkan mereka atau mereka memanfaatkan Polisi?  Atau mereka memang satu kesatuan?  Misalnya saja, kejadian yang kusaksikan sendiri baru-baru ini, yakni pembubaran diskusi buku Irshad Manji di Salihara, 4 Mei 2012 kemaren.  Alasan Kapolres Pasar Minggu adalah karena ada keberatan warga, FPI, FBR dan Forkabi. D’ooooohhhh….!!!

Aku hanya bisa mengurut kening.  Kenapa Polisi tidak secuil pun memperhatikan permohonan peserta diskusi untuk membiarkan kami meneruskan acara tersebut dengan damai.  Kami adalah warga negara yang membayar pajak.  Pajak kami untuk menggaji pak Polisi itu!  Kenapa wajah Polisi dihadapkan ke kelompok pembayar pajak yang duduk tenang berdiskusi?  Bukankah seharusnya Polisi menghadapi pihak yang mengganggu keamanan orang yang tertib berkumpul?

Aku gagal paham, Jendral!

Tak terkira berapa jumlah gereja yang harus ditutup karena katanya tidak memiliki IMB.  Aku serius ingin bertanya, apakah semua mesjid juga punya IMB?  Nusron, ketua Banser NU sendiri mengakui bahwa mesjid yang di bangun ayahandanya di kampung pun tidak memiliki IMB.  Kenapa tidak ada yang menanyakan IMBnya?  Kenapa malah gereja yang sudah punya IMB seperti GKI Yasmin Bogor, sudah menang di MK, tetap tidak bisa beribadah di tanah miliknya sendiri.  Demikian juga HKBP Filadelfia minggu lalu, juga Gua Maria di Jawa tengah.  Umat Kristen tidak sendirian yang merasa tertekan di negeri ini, juga minoritas Ahmadiah.

Aku gagal paham, Jendral!

Dimana Presiden RI saat ini?  Dimanakah engkau, Jendral? Kenapa engkau diam saja membiarkan bentrok horizontal ini terjadi??  Aku benar-benar tidak paham pada negara ini.  Akankah masih ada Indonesia ditahun mendatang bila ormas preman yang mengedepankan kekerasan itu senantiasa dipelihara?

Dari lubuk hati yang paling dalam aku sangat berterima kasih pada Banser NU yang selalu hadir membela minoritas.  Mereka adalah organisasi yang mewakili Islam yang cinta damai.  Mereka berani menentang ormas preman itu.  Aku percaya bahwa sesungguhnya banyak teman-teman muslim yang tidak menyutujui kelakuan ormas preman itu, dan aku mengapresiasi itu.  Terima kasih!

Indonesia ini bukan negara agama.  Pejuang kemerdekaan yang beragama Kristen/Katholik, Hindu dan Budhha juga punya andil dalam proses memerdekakan Negara ini.  Demikian juga dalam proses pembangunan.  Kaum minoritas di negeri ini bukan tiba-tiba ada setelah kemerdekaan.  Kami bukan kaum imigran. Nenek moyang kami lahir disini.  Kenapa hak kami kalian beribadah dikontrol oleh kelompok preman ini?

Tapi seberapa besarpun kekesalanku pada kelompok ormas yang suka melakukan kekerasan ini, aku lebih kesal dan kecewa tingkat dewa terhadap SBY sebagai orang nomor 1 negeri ini.  Dia memiliki mandat tertinggi tapi tidak bisa berbuat apa-apa.  Kenapa, Jendral??  Apakah tanganmu sudah diikat dengan persekongkolan culas pada saat pemilu sehingga engkau tidak bisa lagi melakukan apa-apa untuk melaksanakan tugasmu sebagai pengayom semua warga?

Apakah mulutmu sudah membuat permufakatan kotor dengan para pihak sehingga engkau tidak punya nyali lagi mengatakan yang benar karena takut kalimatmu akan berbalik padamu?  Aku benar-benar kecewa padamu, Presiden!  Engkau seperti singa ompong.  Hanya mengaum tapi tidak punya gigi.  Coro pun tidak takut padamu!

Aku sering berpikir, mungkin, demi memuaskan syahwat ormas garis keras itu, pisahkan sajalah kaum minoritas dari Indonesia dan berikan kami sebuah pulau.  Biarlah kami semua: Kristen, Budhha, Hindu, Ahmadiyah dan siapa saja yang ditolak ormas itu bergabung dalam satu pulau.  Biarlah kami membuat negara sendiri.  Mungkin dengan demikian hidup kalian akan lebih tenang.  Kalian tidak perlu capek mengejar-ngejar kami beribadah.  Kalian bisa duduk tenang saja, tidak ada lagi yang “mengganggu” ketenangan kalian.  Dan kami pun bisa hidup dengan tenang melaksanakan ibadah dan kehidupan kami masing-masing.

Tapi ini pikiran emosional saja.  Tidak akan semudah itu melaksanakannya bukan?

Sekarang hanya satu harapanku, pemilu presiden di tahun 2014.  Aku tidak ingin ada penggulingan presiden ditengah jalan karena ongkosnya terlalu mahal.  Semoga di 2014 nanti terpilih presiden yang bersih dan kuat sehingga dia berani menjalankan fungsinya sebagai pengayom semua warga tanpa memandang mayoritas atau minoritas.

Bila saja nanti pengganti SBY tidak lebih baik, maka aku yakin dalam waktu 20 tahun kedepan luas NKRI tidak sebesar sekarang ini.  Apakah masih ada NKRI?  Wallahuallam!!!

Jakarta, 9 Mei 2012

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Celoteh, Negeriku & Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Dimanakah engkau, Jendral?

  1. elfenni says:

    Ungkapan isi hati yang paling dalam, saya sampai merinding dan menitikkan air mata membacanya. (งˆ▽ˆ)ง sobatku, … Resiko hidup di Negeri antah barantah, yang di kuasai oleh (҂’̀⌣’́)9, dan kita tidak punya kuasa untuk menolaknya, hanya kasih dan mari kita doakan agar mrk sadar, tapi kadang kita kurang yakin dgn doa kita sendiri, ….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s