Review Film Israel Bertema Gay

Menyambung tulisanku sebelumnya yang berjudul “Queer Movie”, aku mau review beberapa film. Kalau film tentang Jahudi banyak dibuat di berbagai Negara terutama USA dan German.  Tapi yang ingin aku bahas adalah film buatan Israel.  Semoga pembaca paham bedanya.  Yahudi adalah suku bangsa yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia.  Sedangkan Israel adalah Negara yang dari 7.412.200 jiwa populasinya (berdasarkan sensus thn 2008), mayoritas adalah Yahudi (75,3%), kemudian ada juga suku bangsa lain seperti Arab (20,5%) serta etnis lain (4,2%).

Luas Israel cuman sekitar 20,770 km2.  Coba bandingkan dengan Indonesia yang 1.919.400km2.  Berarti luas Israel itu hanya sekitar 1% luas Indonesia.  Atau setengahnya Jawa Baratlah.  Tapi penduduknya kalah banyak loh sama Jakarta!  Saat ini penduduk Jakarta sekitar 10 jt jiwa.

Jadi bisa dikata Israel itu sangat kecil dari sisi luas areal dan jumlah penduduk bila dibanding dengan negara kita.  Ibarat kata, bila kita kencing bareng-bareng bisa tenggelam tuh negara.  Tapi buktinya terbalikkan?  Nama Israel malah jauh lebih menggema dari Indonesia di pergaulan internasional.   Terlepas dari permasalahannya dengan Palestina, maka negara kecil ini memang mencengangkan dari sains yang mereka kembangkan.

Ya, mungkin banyak yang tidak suka dengan negara ini sehubungan dengan perselisihannya dengan Palestina mengenai batas wilayah.  Sebaiknya hal itu tidak usah kita bahas di sini.

Aku cukup terkesan dengan film-film Israel.  Walaupun sangat terbatas film yang bisa kunikmati karena sulitnya mendapatkan film Israel di negeri ini, juga kendala bahasa, karena aku tidak paham bahasa Ibrani.

Tapi dari sedikit film Israel yang ku tonton, ada 3 film gay yang ingin kuulas.  Akan menjadi spoiler karena aku akan menceritakan sinopsisnya.  Maaf ya!  Bagi yang tidak ingin tahu cerita lengkapnya, sebaiknya jangan baca.

Film Israel jadi menarik karena kompleksitas permasalahan di sana seperti agama, politik dan sosial yang sangat berbeda dengan film dari negara lain.  Israel adalah pusat agama Jahudi orthodox yang tidak toleran dengan semua cara hidup di luar Taurat, tapi Israel pula satu-satunya Negara di Timur Tengah yang paling demokratis dan mengakui eksistensi kaum gay.

Plot cerita yang bagus dan tehnik bercerita apa adanya membuat kita bisa mengerti sedikit keadaan yang terjadi disana.  Berikut sedikit ulasan tentang film Israel yang sudah kutonton.

1.    Ha-Buah / The bubble

Film yang di release tahun 2006 ini mencatatkan ranking 7.0 di IMBd.  Film yang disutradari oleh Eytan Fox dan screenplay nya ditulis oleh Gal Uchovsky dan Eytan Fox, bercerita tentang seorang serdadu Israel, Noam yang diperankan oleh Ohad Knoller yang bertugas di check point.  Tugasnya adalah memeriksa semua orang yang memasuki Negara Israel tapi bukan warga negara Israel.

Suatu siang, Noam tengah memeriksa sekumpulan orang Palestina yang ingin memasuki Israel.  Saat pemeriksaan berlangsung, seorang wanita yang sedang hamil besar tiba-tiba jatuh ke tanah dan berteriak-teriak kesakitan.  Noam adalah para medis yg sedang wajib militer dan secara refleks dia langsung menolong wanita tersebut walaupun ditentang oleh pria-pria Palestina lainnya yang menemani wanita itu.

Suatu hari seorang pemuda Palestina Ashraf yang diperankan oleh Yousef (Joe) Sweid mengantarkan ID card Noam ke apartemen.  Rupanya ID itu terjatuh saat dia menolong wanita melahirkan beberapa hari yang lalu.  Karena Ashraf tidak punya tempat untuk menginap di Tel Aviv, Noam menawarkan menginap di apartemennya.  Noam tinggal dengan 2 orang teman lainnya, Yali dan Lulu.  Tapi karena kecocokan, Ashraf tetap tinggal di sana dan mereka menjadi sepasang kekasih.

Saat itu di Tel Aviv sedang ada gerakan kaum gay untuk mendapat pengakuan dari negara.  Noam dan teman-temannya terlibat di dalam kampanye tersebut.  Mereka juga mengajak gay dari Palestina untuk bergabung, tapi selalu timbul halangan karena kondisi politik dan komunitas gay di Palestina tidak berani menampakkan diri, juga mereka mengalami kesulitan bila harus masuk ke Tel Aviv.

Ashraf butuh kerja, Noam membujuk Yali supaya menerima Ashraf bekerja di cafe tempatnya bekerja.  Dia setuju asal Ashraf mau berganti nama menjadi Shimi, nama Yahudi.  Ashraf setuju.  Suatu saat mantan pacar Lulu sedang minum di cafe dan mengetahui kalau Shimi ini adalah orang Palestina.  Ashraf ketakutan dan pulang ke keluarganya di Nablus, Tepi Barat tanpa pamit pada Noam.  Dia juga tidak mau menerima telpon Noam.

Saat Noam patah hati karena ditinggalkan Ashraf, mereka menyaksikan bom meledak di Nablus.  Mereka khawatir keadaan Ashraf.  Tanpa berpikir panjang, Noam ditemani Lulu berangkat ke Nablus dan menyamar sebagai reporter TV Francis.  Mereka diterima di rumah Ashraf yang sedang mempersiapkan perkawinan adik perempuan Ashraf dengan Jihad, anggota Hamas.  Tanpa mereka sadari, Jihad melihat Ashraf dan Noam berciuman.  Jihad marah sehingga Noam dan Lulu buru-buru pergi.

Jihad yang marah memaksa Ashraf segera mengawini sepupunya, kalau tidak mau dia akan membuka rahasianya dengan Noam pada keluarga.  Suatu hari Ashraf mendengar Jihad merencanakan pemboman di Tel Aviv, dan Yali kehilangan ke dua kakinya pada peristiwa itu.  Militer Israel segera mencari otak peristiwa tersebut ke rumah Ashraf dan adik perempuannya meninggal kena tembak saat mencari Jihad.  Jihad berjanji akan membalas dendam.  Lagi-lagi Jihad memaksa Ashraf untuk segera menikah, kalau tidak dia akan menyebarkan sebuah poster pawai gay dimana ada foto Ashraf bersama orang Israel yang merupakan musuh Palestina.

Ashraf merasa tak punya harapan lagi.  Dia merasa tidak mampu untuk menikahi perempuan.  Tapi bila ke Israel pun dia akan dikejar oleh orang kampungnya karena dianggap penghianat.  Ibaratnya, di Israel dia merasa tidak di terima karena dia berdarah Palestina, dan di kampungnya sendiri dia tidak di terima karena gay dan berteman dengan orang Israel.

Akhirnya Ashraf mengambil alih tugas Jihad sebagai suicide bomber.  Dia pergi ke Tel Aviv dengan wajah tanpa ekspresi dan dingin.  Saat dia berjalan di depan café tempat dia pernah bekerja, Noam yang berada di dalam café melihatnya dan berlari mengejarnya.  Mereka berjalan ke tengah jalan menjauhi kafe, mereka berciuman dan tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat.

Akhir ceritanya sungguh mencengangkan.  Membuat aku berpikir, cinta saja tidak pernah cukup dalam masyarakat yang berkonflik.  Perang senantiasa membawa cerita sedih.

Pada suatu scene Ashraf bercerita bahwa pernah suatu ketika saat dia berumur 3 atau 4 tahun, ibunya membawanya bermain ke sebuah taman.  Saat itu dia melihat ibunya berbincang santai dengan seorang ibu muda Yahudi.  Mereka tampak akrab laksana bersaudara.  Noam mengatakan, “Aku juga pernah melihat ibuku ngobrol akrab dengan seorang wanita Palestina.”  Kemudian mereka berdua saling pandang dan tertawa, karena saat itu mereka ada diantara anak-anak yang bermain di taman itu.  Cerita itu menjadi menyakitkan karena politik negara menyebabkan mereka berseberangan.

Tanpa ingin menilai berat sebelah tapi jelas terlihat dalam film itu bahwa Tel Aviv tampak sangat cosmopolitan dan gaya hidup yang modern, tapi pada saat mobil Noam keluar dari wilayah Israel dan masuk wilayah Palestina, pemandangannya berubah total.  Itulah kekuatan film, kita bisa ikut menjelajah negara orang yang belum pernah kita kunjungi.

2.    Einayim Petukhoth / Eyes Wide Open

Film yang di release tahun 2009, di sutradarai oleh Haim Tabakman dan screenplaynya ditulis oleh Merav Doster ini mencatatkan ranking 7,1 di IMDb.

Film ini dimulai dengan seorang lelaki berjenggot 40an membuka sebuah ruko di pagi hari yang masih sepi.  Dia membersihkan toko yang tampak tidak beroperasi beberapa lama.  Pria menempelkan tulisan “ada lowongan” pada pintunya.  Ya pria itu adalah Aaron Fleischman yang dimainkan dengan sangat sempurna oleh Zohar Strauss.  Dia bersama keluarganya – seorang istri yang setia dan 4 orang anak – tinggal di suatu sudut kota di Jerusalem.  Aaron yang sangat religius juga merupakan salah satu pemimpin komunitas Ultra Orthodox dilingkungannya.

Aaron melanjutkan usaha bapaknya – yang baru meninggal – sebagai tukang daging.  Hari itu turun hujan dan masuklah seorang pemuda yang tampan, Ezri yang diperankan Ran Danker.  Dia minta tolong untuk meminjamkan telepon padanya.  Ezri adalah pemuda yang baru mau masuk Yeshiva (sekolah agama Yahudi) dan baru tiba di Jerusalem dan belum punya tempat tinggal.  Teman yang Ezri harapkan akan menampungnya ternyata tidak menelponnya balik.  Dia meminta untuk bisa bekerja di toko Aaron, tapi ditolak.

Aaron kemudian mengetahui Ezri tidur di Sinagoge (rumah ibadah Yahudi) saat ia beribadah.  Ahirnya Arron menawarkan tempat tinggal di lantai 2 tokonya sebagai tempat tinggal Ezri.  Suatu hari Ezri mengajak Aaron melakukan ritual mandi di pinggiran kota.  Mereka menjadi akrab setelah itu.  Ezri sangat berbakat melukis, dia menawarkan diri untuk melukis Aaron, tapi dia menolak.  Suatu malam Aaron yang kaku mendatangi Ezri di atap ruko, minta di lukis.  Karena terbawa suasana yang intim, Ezri hendak menciumnya, tapi di tahan oleh Aaron.  Tapi di hari selanjutnya Aaron tidak bisa menahan diri lagi dan sehingga mereka terlibat hubungan sexual yang membuat Aaron merasa hidup lagi.

Rivka, istri Aaron, mulai curiga karena suaminya setiap hari pulang malam.  Dia menyelidiki dan melihat Aaron keluar bersama Ezri dari toko saat tengah malam.

Suatu hari Ezri mendatangi mantan pacar yang tidak mengindahkannya sejak hari pertama kedatangannya.  Pacarnya tersebut juga murid di Yesiva.  Akhirnya mereka bicara di sebuah gang sempit.  Ezri di tolak oleh pemuda itu.  Karena kesal, Ezri berusaha menciumnya disaksikan oleh banyak orang.  Aaron melihat dari kejauhan.  Ezri dihina dan dipukuli oleh teman-teman mantan pacarnya.  Aaron mendekati Ezri yang sudah babak belur dan membawanya pulang.  Perasaannya semakin dalam pada Ezri.

Karena peristiwa itu, Ezri dipecat dari sekolah.  Rabbi meminta supaya Aaron juga mengusir Ezri karena telah memberikan pengaruh buruk pada Aaron, tapi dia tidak mengindahkan.  Toko daging Aarong mulai di terror.  Berbagai selebaran beredar yang melarang membeli daging dari toko Aaron karena tidak kosher (halal).  Dibawah semua tekanan itu, Ezri memutuskan pergi meninggalkan Aaron.

Film ini isunya sangat sederhana.  Pergulatan batin seorang pria antar memilih keluarga dan Tuhan atau kekasih hati yang memberinya semangat hidup yang baru.   Aaron menjadi sangat tertekan karenanya.  Saat terakhir ada adegan di dalam kamar, Rivka duduk di pinggir tempat tidur membelakangi Aaron yang sedang berdoa.  Kemudian Rivka bertanya “Apakah kamu mau pergi?” Aaron balik bertanya, “Apakah kamu menyuruh aku pergi?” Jawab Rivka “Tidak.”  Kemudian jawab Aaron, “Aku tidak akan pergi, tempatku disini.” Rivka hanya diam.  Kemudian Aaron mendekati istrinya dan meminta Rivka melindunginya.  Aaron bersimpuh dan menangis di pangkuan Rivka.

Adegan trakhir, Aaron kembali ke tempat permandian dan dia menenggelamkan dirinya di bawah air dalam waktu lama, kemudian kamera memudar dan jadi hitam.

Bila dilihat dari endingnya, maka jelas film ini tidak berpihak pada gay.  Tapi seperti aku bilang pada artikelku sebelumnya, bahwa sineas akan memotret kejadian yang ada di sekitarnya.  Pasti banyak yang menginginkan supaya Aaron mengejar cintanya dan dia hidup bahagia bersama Ezri.

Tapi menurutku cinta itu tidak memandang gender.  Demikian juga pengkhianatan.  Cinta tetap cinta pada siapapun dia berlabuh.  Demikian juga pengkhianatan tetap penghianatan walaupun itu atas nama cinta agung.  Bila cinta sudah berkomitmen pada pernikahan, maka yang harus diperjuangkan adalah komitmennya.  Pada film ini Aaron memilih kembali pada keluarganya walaupun dia merasa lebih hidup saat bersam Ezri.  Hidup itu memang tidak selalu berakhir menyenangkan bukan?

Sesungguhnya keputusan ada di tangan Aaron.  Istrinya sudah merelakannya.  Apapun yang dia putuskan pasti berakhir pada kerusakan.  Akhirnya dia berhitung.  Bila dia memilih keluarganya dia mematikan dirinya sendiri, sedangkan bila dia memilih Ezri maka dia menghancurkan banyak orang terutama istri dan anak-anaknya.

*Untuk film bertema lesbian, Ha-Sodot, di posting secara terpisah di https://apaja.wordpress.com/2012/05/02/review-film-israel-yang-bertema-gay-dan-lesbian-part-2/

 

Jakarta, 2 Mei 2012

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Movie Review and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Review Film Israel Bertema Gay

  1. Lukas says:

    Ada 1 lagi yg bagus banget mbak, out in the dark, ceritanya mengharukan, dan saya rasa bukan gak mungkin kenyataan banyak orang gay yg hidup di palestina seperti digambarkan di movie itu, sedihh bangett!! 😦

    https://en.wikipedia.org/wiki/Out_in_the_Dark

    Like

  2. Mery DT says:

    Hi Lukas,
    Filmnya sekitar 2012 ya. Aku belum nonton. Nanti aku cari di internet deh.
    Thank infonya ya.

    Like

  3. weka says:

    Bisa tolong buatkan sinopsis film the slut gak?.. Kalo tidak salah itu juga film buatan israel… Thanks

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s