Review Film Israel Bertema Lesbian

Ini adalah Sambungan dari artikel “Review Film Israel Bertema Gay” sebelumnya.

Ha-Sodot / The Secrets

Film yang di release 2007, dan mendapat rangking IMDb: 7,0.  Sutradaranya berhasil mengaduk beberapa masalah dengan sempurna.  Film ini kaya dengan isu keyakinan yang kaku, kemanusian, budaya Yahudi dan cerita percintaan yang kompleks.  Uniqnya film ini adalah film lesbian yang dibuat oleh sutradara yang bukan wanita.  Avi Nesher adalah seorang, sutradara, producer, writer & actor.  Sosok yang sangat lengkap sebagai filmmaker.

Avi Nesher (Director) dan Hadar Garlon (Screenplay writer) membawa kita masuk kedalam sekolah seminari (Midrasha) anak perempuan yang berada di kota tua Safed, yakni kota tempat lahirnya aliran spiritual Kabbalah.  Dalam film ini kita dipertunjukkan bagaimana kehidupan sehari-hari siswi-siswi di sekolah agama Yahudi khusus cewek itu.  Naomi yang diperankan oleh Ania Bukstein adalah murid yang sangat berdedikasi dan genius. Ayahnya adalah seorang Rabbi yang sangat dihormati yang juga pemimpin Yeshiva untuk calon-calon Rabbi.  Michael, tunangan Naomi yang juga salah satu murid ayahnya, selalu merasa dirinya lebih pintar dari Naomi.  Saat film dimulai, kita disuguhkan adegan ibadah berkabung untuk ibunda Naomi yang baru meninggal.  Pada saat berkabung itu Michael meminta kepada Naomi untuk tetap melanjutkan rencana pernikahan mereka, tapi Naomi malah menolak dan memutuskan untuk menunda pernikahannya.  Naomi memutuskan masuk ke seminary khusus perempuan.  Awalnya ayahnya menolak keinginannya, tapi Naomi bersikeras sekolah di seminari itu dan akhirnya ayahnya mengijinkan.

Suatu hari sekolah mereka kadatangan murid baru.  Anak baru ini bergabung di kamar Naomi yang sudah dihuni 3 orang.  Anak baru yang bernama Michelle itu dipindahkan dari Prancis secara paksa oleh ayahnya.  Michelle lahir di Israel dan pindah ke Prancis saat usianya 12 tahun.  Michelle adalah gadis periang dan cenderung suka melanggar aturan.  Naomi yang memiliki sakit asma, dan kedua temannya Sigi dan Shiren tidak suka pada Michelle karena dia suka merokok di kamar walaupun di dekat jendela terbuka.  Beberapa kali mereka berantem karena masalah asap rokok.

Suatu hari kepala seminari menugaskan Naomi & Michelle membantu mengantar kebutuhan sehari-hari seorang perempuan tua, Anouk, yang baru saja keluar dari penjara karena membunuh suaminya di Paris.  Ini semacam pelayanan dari seminari kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Michelle menjadi penterjemah antara Anouk yang hanya bisa berbahasa Prancis dan Naomi yang hanya berbahasa Ibrani.

Anouk bercerita ingin sekali membersihkan dosa-dosanya sebelum meninggal.  Michelle menganjurkan supaya Naomi membantu wanita tua itu dalam ritual penebusan dosa.  Awalnya Naomi tidak mau karena ritual yang dimaksud adalah ritual Kabbalah yang dilarang oleh Seminari.  Naomi tidak mau membantu ritual itu walau Michelle berusaha meyakinkannya bahwa tujuannya untuk membantu sesama.

Berbeda dengan Michelle, Naomi adalah sosok yang kaku dan taat pada aturan.  Cita-citanya adalah menjadi Rabbi perempuan. Michael, tunangannya selalu melecehkan intelegensianya.  Michael tidak percaya Naomi mendapat pelajaran yang sama seperti yang dia dapatkan di sekolahnya.  Ketinggian hati Michael itu yang menyebabkan Naomi tidak menyukainya.  Michael adalah tipikal Yahudi kolot yang tidak suka melihat pacarnya memakai make up walaupun lipstick tipis.

Kegiatan Naomi dan Michelle untuk membantu Anouk walaupun banyak konflik-konflik kecil lambat-laun membuat hubungan mereka jadi akrab.  Michelle tak sungkan-sungkan memuji kepintaran Naomi pada Sigi dan Shiren dan juga Anouk.  Akhirnya Naomi luluh pada permintaan Michelle untuk membimbing Anouk dalam ritual Kabbalah.  Tapi Naomi harus mempelajari ritual itu terlebih dahulu sehingga mereka sering bersama mempelajari ilmu terlarang itu hingga larut malam.  Hingga akhirnya mereka melakukan ritual tersebut dan Anouk merasakan ada kesembuhan pada perutnya yang sering sakit.

Tiba libur sekolah, Naomi mengajak Michelle berlibur ke rumahnya.  Saat hendak tidur mereka terbawa suasana dan akhirnya melakukan hubungan romantis.  Ketika besok paginya Michelle kebingungan atas yang terjadi dan tidak bisa terima apa tang telah terjadi, walaupun sebenarnya dialah yang memulai melakukan sentuhan-sentuhan pada Naomi.  Dengan kebingungannya dia berkemas hendak pergi dan pamit pada ayah Naomi.  Alasannya karena om dan tantenya yg tinggal di kota yang sama sudah datang menjemputnya.  Naomi yang tidak di pamiti mengejarnya dan mengatakan bahwa mereka harus membicarakan yang terjadi semalam, dan Naomi bersedia tidur di sofa malam ini asal Michelle tidak pergi.  Tapi Michelle cuma mengatakan tidak mau membicarakannya “sampai ketemu minggu depan di Safet” katanya, kemudian pergi.

Naomi memutuskan kembali ke asrama di Safet sebelum liburan berakhir.  Dia sempat menjenguk Anouk di rumahnya, tapi tidak ada. Saat dia sedang belajar di tempat tidurnya, tiba-tiba Michelle memasuki kamar.  Mereka sama-sama kaget karena liburan belum berakhir dan mereka sudah kembali ke asrama.  Michelle mengatakan Anouk di opname di RS. Akhirnya mereka sama-sama menjenguk Anouk.  Sepulang dari RS, saat malam, Michelle tampak gelisah dengan membuat keributan untuk menarik perhatiannya, tapi Naomi tidak peduli dan tetap belajar di tempat tidurnya.

Akhirnya Michelle menyerah dan sambil menangis dia memohon supaya Naomi mau berbicara padanya. Akhirnya mereka membicarakan kejadian malam itu.  Michelle mengatakan bahwa dia menjauhi Naomi karena menganggap yang mereka lakukan adalah dosa.  Naomi mengatakan telah meyelidiki kitab suci, tidak ada disebutkan apa yang mereka lakukan adalah dosa.  Akhirnya mereka berbaikan lagi walaupun awalnya Naomi marah pada Michelle, tapi akhirnya dia luluh lagi.

Hingga pada suatu malam mereka melakukan ritual kabbalah lagi untuk membantu anouk.  Kali ini mereka mengajak Sigi dan Shiren.  Ternyata Sigi yang baru memeluk agama Yahudi itu telah berubah menjadi sangat fanatik dan melaporkan ritual tersebut pada Rabbi dan kepala sekolah.  Naomi & Michelle dimarahi dan dipisahkan.  Michelle harus keluar dari kamar tersebut dan mereka di larang terlihat berdua.

Akhirnya tempat jemuran adalah tempat pertemuan mereka di malam hari.  Naomi memberitahukan bahwa dia telah memutuskan hubungannya dengan Michael dan dia menawarkan supaya Michelle tinggal bersamanya karena dia akan menyewa rumah asal Michelle mau hidup bersamanya.  Michelle menyetujui.

Suatu hari saat ibadah Sabbat, mereka mendapat telpon dari RS.  Ternyata kondisi Anouk memburuk dan masuk rumah sakit lagi.  Dengan cara sembunyi-sembunyi mereka lari mengunjungi Anouk.  Anouk meminta Noumi melakukan doa terakhir baginya.  Karena saat itu Naomi tidak siap, dia berjanji melakukannya besok.  Michelle meminta perawat menghubunginya kapan saja bila keadaan Anouk memburuk.  Besoknya kondisi Anouk krritis.  Mereka bergegas ke sana dan melakukan doa terakhir.  Anouk meninggal dengan tersenyum di depan mata mereka.

Saat kembali ke asrama, Sigi memergoki mereka.  Mereka disidang oleh Rabbi dan kepala sekolah dan keputusannya mereka berdua harus keluar dari seminari.  Naomi kembali ke rumah.  Ayah Naomi yang selalu membanggakannya sangat marah dan malu pada rekan sejawatnya, juga pada murid-muridnya.  Michael yang datang menemuinya hanya untuk menyakiti perasaan Naomi.

Michelle mengatakan pada Naomi bahwa dia akan pulang ke Paris dulu dan akan kembali ke Safet.  Sebelum berangkat, Michelle sempat bertemu dengan Yanki, pemuda anak pemilik toko farmasi sekaligus pemain klarinet yang dia sukai, dan Yanki juga sangat menyukainya.  Mereka dulu pernah pura-pura double date, Naomi menyuruh Michelle datang dengan Yanki saat dia dan Michale lagi dinner.  Saat itu Naomi dan Michelle sudah saling mencintai.  Yanki adalah pemuda yang sangat sopan dan menyenangkan.

Sesuai kesepakatan mereka, Naomi segera mempersiapkan rumah untuk dia dan Michelle.  Tapi dia sangat terluka saat Michelle datang dan mengatakan dia akan menikah dengan Yanki karena dia tak sanggup hidup dengan Naomi dan ingin keluarga normal.  Naomi sangat-sangat terluka karena dia merasa dituduh tidak normal oleh orang yang sangat dia cintai.

Suatu hari saat sedang belajar, pintu rumahnya di ketuk.  Rupanya Yanki.  Dia datang khusus untuk mengundang Naomi untuk datang ke pernikahan mereka.  Naomi bersikeras tidak akan datang.  Akhirnya keluar kata-kata Yanki yang sangat mengejutkan Naomi “aku tahu kalau Michelle lebih mencintai kamu dari pada aku” Naomi kaget dan marah atas kelancangan Yanki dan melemparnya dengan vas bunga.  Karena hubungan sejenis sangat terlarang dalam agama Yahudi.

Tapi kataYanki sebelum pergi: “Boleh aku mengatakan satu hal terakhir?  Aku tidak ahli dalam hal hati, tapi aku cukup ahli dibidang musik.  Dalam bermusik, engkau diajarkan bermain secara tradisional.  Tapi terkadang cara yang bukan tradisional adalah cara yang terasa benar.  Kemudian Yanki menghilang di balik pintu.

Setelah lama mempertimbangkan, akhirnya Naomi datang saat upacara pemberkatan pernikahan Yanki dan Michelle.  Naomi menangis saat Michelle menatapnya.  Kali pertama dia menangis, karena saat ibunya meninggal pun dia tidak menangis.  Saat acara menari setelah pemberkatan, Michelle mendatangi Naomi dan bertanya, “Apakah engkau sudah memaafkan aku?” Naomi menggeleng dan menjawab “Tidak.” Setelah sekian lama mereka saling tatap dan tampak larut dalam kesedihan yang dalam.  Akhirnya Naomi tersenyum dan kemudian mereka tertawa.  Michelle menariknya ketengah kerumunan dan menari berdua. Yunki yang memainkan klarinetnya tersenyum melihat mereka tertawa dan menari bersama.

Maaf, aku tidak tahan untuk tidak menceritakan storyline film ini secara detai dan sempurna.  Maafkan telah menjadi spoiler.  Aku sangat suka keseluruhan film ini, cerita yang sangat kuat.  Sebagai film yang bertema lesbian, Avi Nesher (Director) tidak mengumbar adegan lesbian seperti biasanya di film lesbian lainnya.  Yang ditekankan dalam film ini adalah masalah hubungan manusia yang sangat religius dengan seorang pendosa seperti Anouk yang dipandang sebelah mata oleh Rabbi.  Kita juga disuguhi kondisi sosial dan nilai-nilai yang dianut masyarakat di sana.  Aku melihat itu sangat indah dan mengesankan.

Banyak komentar penonton yang tidak puas karena filmnya tidak happy ending, karena di Israel pernikahan sejenis itu sangat memungkinkan.  Tapi aku melihat penulis skripnya mau mengatakan bahwa hubungan lesbian itu dapat berlanjut setelah salah satunya menikah.  Ini jelas terbaca dari ucapan Yanki terakhir kalinya saat mengunjungi Naomi.  Sepertinya dia memberi kesempatan buat mereka tetap melanjutkan hubungan. Dan juga tetangkap pada wajah Yanki yang tersenyum bahagia melihat Naomi dan Michelle tertawa dan menari bersama.

Banyak pula komentar yang menghujat Michelle yang melarikan diri saat Naomi sudah siap hidup bersamanya.  Karena awalnya Michelle yang selalu menggoda Naomi.  Hal ini sering kali terjadi, sipenggoda malah melarikan diri saat yang digoda sudah didapatkannya.  Berlari dengan membuat keputusan yang salah.  Itu yang kulihat pada karakter Michelle.

Aku suka karakter Naomi yang selalu terlihat kuat dan cerdas saat berhadapan dengan siapapun.  Juga saat terakhir berhadapan dengan kepala sekolahnya yang meminta maaf karena tidak bisa mempertahankannya di seminary.  Kepala sekolah mengatakan bahwa melihat Naomi, dia seperti melihat masa mudanya yang bersemangat.  Naomi menjawab, “kita tidak serupa, karena aku bukan pengecut.”  Ini merujuk pada kepala sekolah yang tidak membelanya saat membantu Anouk, hanya karena Anouk bukan seorang Yahudi.

Kita selalu disuguhkan ending yang ekstreem dalam film-film bertema gay.  Kalau tidak tragis, ya happy ending.  Tapi ini menurutku manis walaupun mereka tidak bersama.  Naomi bisa menerima keputusan Michelle walaupun itu sangat menyakitinya.  Wanita kuat yang memiliki hati seluas cakrawala.  Mungkin dia optimis bahwa masih ada orang lain diluar sana yang akan membuatnya bahagia.  Semangat belajarnya tidak pernah luntur walaupun sedang patah hati.

Film yang baik adalah film yang memberi ruang penontonnya untuk berfantasi kelanjutan ceritanya.  Ha-Sodot adalah film yang sangat baik.  Akhir kata, dua jempol untuk acting pemain-pemainnya yang mempesona.

Jakarta, 2 Mei 2012

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Movie Review and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Review Film Israel Bertema Lesbian

  1. Pingback: Review Film Israel Bertema Gay dan Lesbian, Part 1 | Apaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s