Queer Movie

 Nonton film adalah salah satu kegiatan yang kusukai.  Sangkin doyannya, sendiri ke bioskop pun ku jabani.  Tidak ada masalah.  Kalau ada film yang bagus bisa nonton beberapa kali.  Avatar, Angels and Demons, Bourne adalah beberapa film yang ku tonton lebih dari sekali di bioskop.  Belum lagi di TV.  Nonton film juga menjadi pengalihan issue “otak” yang lagi mentok tembok, supaya dapat inspirasi baru.  Melalui film aku bisa menjelajahi kota atau negara  lain walaupun belum pernah ke sana.

Disamping film Hollywood yang beredar bebas di bioskop dan lapak-lapak DVD bajakan, aku juga banyak nonton film yang bertemakan gay & lesbian atau sering juga disebut “queer movie” dari berbagai negara.  Film-film jenis ini tentu jarang muncul di bioskop kita.  Secara rakyat bangsa ini agamais sekali bukan?  Seingatku yang pernah tayang di bioskop adalah Brokeback Mountain, Arisan I & II, dan yang terakhir ini Sanubari Jakarta. Kalo Black Swan itu kurasa bukan queer movie ya, karena itu part kecil dari film dan hanya ilusi tokohnya saja.

Dulu ada website yang memuat queer movie dari seluruh dunia termasuk Indonesia, http://www.homocinema.web.iq.pl  Tapi sekarang web itu sudah di block oleh Depkominfo.  Ntahlah, takut bener sama hal-hal seperti ini.  Website pembuat bom malah dibiarin saja.  Jadi, semua queer movie yang ku tonton berasal dari you tube.  Modal modem, segala film pun bisa dinikmati.  Terima kasih tehnologi abad 21! 🙂

Bagiku queer movie itu menarik karena memiliki kompleksitas permasalahan yang sangat ribet.  Disamping ceritanya yang biasanya tentang gay yang bermasalah dengan penerimaan dirinya sendiri, juga bermasalah dengan kultur, agama dan lingkungan sosialnya.  Menangkap realita inilah sehingga sebagian besar queer movie itu sad ending.  Aku tidak bermasalah dengan sad ending, karena film menjadi menarik bukan di endingnya saja, tapi di setiap scene dan caranya mengelola konflik dan emosi penonton.  Ada yang indah disetiap tikungan konfliknya.

Dari yang kuamati, queer movie yang happy ending adalah buatan sineas dari negara yang sudah maju, misalnya Amerika dan negara-negara di Eropa.  Bila filmnya dari asia dan Afrika atau Timur Tengah biasanya akan sad ending.  Tentulah demikian karena sineas memotret realitas disekitarnya.

Bagiku, film akan menjadi indah apabila ada unsur tradisional dari suku bangsa itu yang ikut diangkat.  Film Amerika dan UK yang masyarakatnya sudah terlalu modern terkadang terasa hambar.  Ceritanya banyak yang hantam kromo dan kasar.  Tapi kalau film dari Asia, Timur Tengah, Amerika Selatan itu menarik.  Aku belum pernah menemukan queer movie dari Negara-negara Arab, kecuali I can’t Thing Stright yang dibuat oleh duo (pasangan lesbi) Shamim Sarif (Palestina – Director & Screenplay writter) dan Hannan Kattan (Yahudi – Producer).  Film ini sangat menarik dengan semua konflik budayanya.  Ditulisan sebelumnya aku pernah bahas film ini, tapi mengenai sosial buadayanya, bukan plot dan storyline nya.  Rasanya baru film ICTS yang beraroma Arab Libanon, walau sebenarnya pengambilan gambarnya kebanyakan di London sih.

Aku pernah menghitung sekilas perbandingan jumlah film gay dan lesbian.  Dari sekitar 2000an film di web homocinema itu, hanya 25% lesbian movie. Selebihnya film gay pria dan transgender.  Memang ada yang gabungan gay dan lesbian, tapi gak banyaklah.

In my sotoy opinion, paling 30% dari semua film itu yang memiliki kualitas bagus,  banyakan mah, pembuatan filmnya emosional saja.  Sepertinya mereka mau teriak; “Ini kami ada loh!”.  Sayangnya penggarapan cerita dan acting tokohnya kurang banget.  Plotnya maksa dan akting pemainnya asal jadi. Mungkin karena banyak yang low badget juga kali.  Karena low budget dan mereka butuh penonton, jadi ditonjolkanlah banyak sex scene.  Film jenis ini sangat membosankan kadang menjijikkan sih ku bilang.  Memang di setiap film gay ada sex scene nya, paling tidak ciuman. Adegan yang tidak berlebihan akan terlihat indah.  Tapi bila berlebihan, maka issue yang hendak di tampilkan menjadi kabur, seperti film Room in Rome.  Ini seperti lesbian porn movie aja.

Ada film baru, “The Kids are Allright” yang dibintangi bintang-bintang keren sepeerti Annette Bening, Juliana Moore & Mark Ruffalo.  Tampaknya sutradara dan penulis script, Lisa Cholodenko, memaksakan beberapa bagian dari cerita sehingga mencapai ending yang dia inginkan.  Beberapa scene sih bagus ceritanya, tapi karena beberapa konflik yang dipaksakan itu menjadi tampak aneh.  Setahuku, lesbian akan menonton lesbian porn, lha di film ini kok mereka nonton gay porn.  Dan lucunya, walaupun ini Lesbian movie, tapi yang disajikan adalah ML heterosex.  Aneh kan?  Disamping itu ada beberapa part yang tidak ok, walaupun happy ending.  Sayang sekali ketiga nama besar itu main di film seperti ini.

Aku suka dengan queer movie dari Israel.  Negara itu memang penuh controversial, sampai dalam film-filmnya pun tergambar hal itu.  Negara itu terkesan sangat keras tanpa kemanusian, tapi Israel adalah Negara yang paling demokratis di Timur Tengah.  Dan tampaknya masih Israel yang mengakui secara konstitusi keberadaan Gay di negaranya.  Ditengah masyarakatnya yang sangat agamais, muncul kelompok-kelompok gay.  Mereka tetap bersikeras menjadi Yahudi taat walaupun gay.  Ini sungguh luar biasa.  Sampai ada Rabbi yang homosexual.

Queer movie dari Israel menjadi salah satu favoritku.  Film Israel menarik karena kompleksitas permasalahan yang ada di sana seperti agama, politik dan sosial yang sangat berbeda dengan film dari negara lain.  Plot cerita yang bagus dan tehnik bercerita apa adanya membuat kita bisa mengerti sedikit keadaan yang terjadi disana.  Filmnya seperti : Ha-Buah (Gay), Einayim Petukhoth (gay) dan Ha-Sodot (Lesbian).

Oh iya, kalo menurut aku sih, dari semua film yang pernah ku tonton (sekitar 140an) ini yang kurekomendasikan.  Aku emang lebih banyak nonton gay wanita dari pada gay pria, karena banyakan gay pria itu brutal mainnya 🙂 :

  1. Affirnity (UK – Lesbian)
  2. Egymasra Nezve / Another way (Hungary – Lesbian)
  3. Aimee & Jaguar (German – Lesbian)
  4. Bound (US – Lesbian)
  5. Chloe (US – Lesbian)
  6. Dephne; True Story (UK –Lesbian)
  7. El Nino Pez (Brazil – Lesbian)
  8. Fingerthief (UK – Lesbian)
  9. Fire (India – Lesbian)
  10. Fucking Amal / Show me Love (Sweden – Lesbian)
  11. Lost and Delirious (UK-Lesbian)
  12. Loving Annabelle (UK – Lesbian)
  13. La Surprise (France – Lesbian)
  14. Juna Laska (Sweden – Lesbian)
  15. Je Te Mangerais / You’ll be Mine (France – Lesbian
  16. Lapsia Ja Aikuisia / Producing Adults (Sweden – Lesbian)
  17. La Repetition (France – Lesbian)
  18. Portrait of Marriage, Based on true story (UK – Lesbian – gay)
  19. Serving in Silence (US – Lesbian ; Militer)
  20. The Investigator (UK – Lesbian; Militer)
  21. The world unseen (UK – Lesbian)
  22. Tous Les Papas (France & Belgium –  Lesbian)
  23. Two Mothers for Zachary, True Story (US – Lesbian)
  24. I can’t Think Straight (UK – Lesbian)
  25. Tipping The Velvet (UK – Lesbian)
  26. The Truth About Jane (UK – Lesbian)
  27. Wild Thing (US – Lesbian)
  28. What makes a Family, True Story (US – Lesbian)
  29. Ha- Sodot / The Secrets (Israel – Lesbian)
  30. Ha-Buah / The Bubble (Israel – Gay)
  31. Einayim Petukhoth /Eyes Wide Open (Israel – Gay)
  32. Bobby, True Story  (US – Gay)
  33. Juste une question d’amour / Just A Question of Love (France – Gay)
  34. Brokeback Mountain (US – Gay)
  35. Arisan I & II (Indonesia – Gay)

Di US, UK, Kanada dan negara-negara maju lainnya, film serial di tv biasanya akan memasukkan issue Gay & Lesbian.  Issue ini biasanya hanya tempelan saja, bukan jadi masalah utama. Layaknya bumbu penyedap saja.  Misalnya seperti Glee, Desperate House Wife, Six Feet Under, Gray Anathomy, dll.  Disamping itu ada beberapa serial yang kusuka dimana ada issue gay di dalamnya dan ceritanya menarik, seperti:

  1. Skins (UK – Gay & Lesbian)
  2. Kick (Australia – Lesbian)
  3. Lost Girl (Kanada – Lesbian)
  4. Kerstin_and_Juliette (German – Lesbian)
  5. El Amor De Isabel (Spanyol – Lesbian)

Oke deh, sekian uraian ku tentang queer movie.  Bila ada kesempatan akan ku review beberapa film yang kuanggap menarik, tidak hanya mengenai sexual orientasinya tentu, tapi hal-hal seru yang terjadi di film itu.  Selamat menonton!

Jakarta, 24 April 2012

Mery DT

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Movie Review. Bookmark the permalink.

One Response to Queer Movie

  1. woredirs says:

    Film thailand jg banyak mba ttg homosexual
    Yg paling terkenal itu ‘Ye or No’
    Hehehe bantu review walaupun artikelnya udah lama 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s