Kemenangan Manis

Malam belum terlalu larut.  Jalanan di bawah sana masih ramai dipadati mobil dan motor yang saling beradu memanfaatkan ruang sempit.  Semua tampak diburu waktu.  Pastilah mereka ingin segera sampai ke tempat tujuan untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.  Langit tampak terang oleh cahaya bulan yang nyaris bulat sempurna.  Juga semakin semakin cantik oleh kerlap kerlip bintang yang bertebaran mengisi hamparan luas itu.

Seorang lelaki berumur tiga puluh enam tahun berdiri di balkon sebuah apartemen menikmati pemandangan malam yang sayhdu, yang disuguhkan semesta bagi penghuni jagad.  Wajahnya yang berkarakter keras menunjukkan ketampanan lelaki sejati.  Dia menggenggam besi pembatas balkon dengan erat sambil memejamkan mata.  Dadanya yang bidang tampak mengembang kemudian menyusut seiring dia menarik nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan.

Dia tetap memejamkan mata saat dia merasakan sebuah tangan mengusap punggungnya.  Tangan halus itu bergerak ke atas menggapai ujung rambut di pundaknya.  Lelaki itu tetap tak membuka matanya, tapi kepalanya didonggakkan seperti sedang menikmati hembusan angin malam.  Senyum tipis langsung tergambar di wajahnya saat tangan halus itu mengelus pipinya.

Gadis cantik itu mengenakan jins ketat dengan kaos off shoulder yang memamerkan bahu kirinya yang putih mulus.  Lelaki itu membuka matanya, menatap sekilas ke si gadis yang sudah bergelanyut manja di lengannya.

“Kamu pulang sekarang ya!”

“Bentar lagi ah.”  Si gadis melengos dan duduk di kursi balkon.

“Sudah malam, Tara!  Besok kamu kuliah kan?”

“Iya, tapi agak siangan kok.”

Tara, gadis berambut ombak besar-besar sepunggung yang dicat dengan warna coklat tampak sangat seksi.  Sebagian rambut keritingnya itu menutup bahunya yang terbuka.

Si lelaki menarik kursi dan duduk di samping gadis itu.

“Aku suka duduk di sini.  Rasanya damai lahir batin.”

Tara meraih tangan lelaki itu dan mengenggamnya erat dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mengelus-elus lengan berotot itu, “Tangan ini dulu yang berjasa menyelamatkan aku dari bajingan tengik itu.”

Lelaki itu meliriknya dan tersenyum tipis.  Kemudian dia kembali menatap langit yang luas.  Ingatannya mundur sekitar 7 bulan lalu.

Saat itu dia sedang misi memantau Tara.  Dia mengamati setiap kegiatan dan jalan yang biasa dilewati gadis belia itu, selama berminggu-minggu.  Dia mengikuti Tara dari rumahnya di kawasan kelas menengah di bilangan Jakarta selatan hingga ke kampus.  Juga mengamati siapa saja teman mainnya sepulang kampus.  Dia harus berkenalan dan mendapat simpati gadis cantik itu dengan cara yang simpatik.  Sebenarnya gampang saja dia berkenalan di café saat dia nongkrong dengan teman-temannya, tapi rasanya seperti om-om yang mencari korban anak kuliahan.  Dia tidak mau seperti itu.  Tak bisa ditipu, tampang pria ini memang jauh lebih matang karena paling tidak usia mereka beda sekitar 13 atau 14 tahun.

Lelaki ini tersenyum kembali mengingat cerita “kepahlawanan” yang dulu dia lakukan itu.  Setelah mengetahui semua rutinitas gadis incarannya, dia minta bantuan dua orang anak didiknya di tempat latihan karate untuk melaksanakan rencananya.  Suatu malam mereka menunggu mobil Tara lewat di daerah sepi, persis sebelum masuk ke kompleks tempatnya tinggal.

Ceritanya persis seperti di sinetron murahan itu.

Mobil Tara lewat.  Tiba-tiba sebuah sepeda motor menyalip di depannya, nyaris menabrak.  Tara memberhentikan mobilnya.  Motor itu persis berhenti di depan mobil Tara.  Pemuda yang di bonceng turun dan menghampiri pintu mobilnya.  Dengan gerakan kasar dia menyuruh Tara membuka mobilnya.  Gadis itu terlihat ketakutan luar biasa di dalam mobilnya.

Laksana ksatria baja hitam, tiba-tiba pria ini muncul dengan mengendarai motor besar, kemudian menyuruh kedua orang itu pergi.  Pengganggu itu melawan.  Dia menghajar mereka dengan beberapa kali pukulan.  Kemudian penganggu itu kabur.  Dia melihat Tara masih gemetaran di dalam mobilnya.  Dengan kode tangan dia menyuruh melanjutkan perjalanan pulang, dan dia akan mengiringinya dari belakang.  Tara menjalankan mobilnya perlahan hingga sampai di pos satpam.  Tara keluar dari mobilnya saat lelaki itu melambaikan tangan hendak pergi.  Mereka berkenalan dan saling menukar nomor telpon.

Lelaki itu menahan diri untuk tidak menghubungi Tara lebih dahulu walaupun dia sangat ingin.  Dia harus memberikan kesan bahwa bukan dia yang mengejar gadis cantik itu.  Benar saja, setelah seminggu lebih, telponnya berdering dengan nama Tara tertulis di layar.  Sejak itulah mereka menjadi dekat.

Lelaki kekar itu menyandarkan badannya dan menatap langit yang bersih tanpa awan.  Dia selalu suka menatap langit di malam hari.  Matanya selalu mencari bulan.  Tak pernah dia melepaskan kesempatan menatap bulan purnama, terutama sejak ibunya meninggal dunia sebelas tahun silam.  Dia teringat saat hidup berdua ibunya di kampung.  Mereka sangat miskin.  Ibunya bekerja keras untuk mencari makanan dan uang sekolahnya.  Bila bulan purnama, seberapa capekpun ibunya bekerja, mereka selalu duduk di teras rumah yang sangat sederhana itu dan menatap bulan yang merekah indah itu.

“Kenapa Ibu suka sekali melihat bulan purnama?” tanyanya suatu kali.

“Tidakkah kau suka pada bulan yang bulatannya penuh itu?  Indah bukan?  Sekiranya suatu saat nanti kamu pergi merantau, entah dimanapun, tataplah bulan saat purnama maka pandangan kita akan bertemu!”

Lelaki itu selalu mengingat kata-kata ibunya dan tak pernah absen menatap bulan purnama terutama sejak Ibunya meninggal.  Dia selalu menghabiskan waktu berjam-jam duduk di teras atau di tempat terbuka seorang diri saat bulan purnama tiba.  Baginya saat itu adalah saat yang berharga di mana rohnya dan roh Ibunya bisa bersatu lagi.

“Nahkan…., Bang Anton ngelamun lagi!”

Lelaki yang bernama Anton itu tampak sedikit kaget.  Segera dia tersenyum dan menatap Tara yang berlagak sedang ngambek.  Dia mengulurkan tangan dan membelai rambut gadis itu.

“Lagi mikirin apa sih?”

“Nggak ada.”  Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti menguatkan ucapannya.

“Nggak ada, tapi kok keknya lagi ada beban berat gitu?”

Anton tetap membelai-belai rambut gadis itu dengan lembut. “Anak-anak tadi salah ngecat mobil orang.”

“Kok bisa?”

“Mereka nggak teliti.  Ada dua mobil client bermerek dan warna sama di bengkel.  Yang satu ganti AC, satu lagi di cat.  Anak-anak main cat aja mobil yang harusnya ganti AC.”

“Ya ampuuuunn…!!  Abang pecat dong anak-anak itu?”

“Enggaklah.  Mana sampai hati aku mecat mereka.  Sudah bertahun-tahun mereka bersamaku.  Nggak apa-apa, mungkin aku lagi apes aja.”

“Abang emang orang terbaik sedunia.” Kata gadis itu bangga.

“Karena kamu tidak tahu siapa aku.  Kamu cuma lihat sisi baikku saja.” Anton tersenyum masam.

“Aku nggak percaya abang jahat.  Aku sudah membuktikannya.  Abang itu malaikat.”

Anton berdiri.

“Sebelum kamu bilang aku Tuhan, sebaiknya aku antar kamu pulang sekarang.  Hayoo.. nanti Mama kamu cemas.”

“Bentar dulu!  Aku nggak akan bilang abang Tuhan.  Takut amat!” Tara tetap duduk. Dia menengadah melihat wajah Anton yang menjulang disampingnya. “Abang duduk dulu, aku mau ngomong sesuatu.”

Anton duduk lagi dan menantap serius pada Tara.  Gadis itu senyum-senyum melihat Anton yang kebingungan.

“Ada apa?”

“Hmm… minggu depan ada acara ucapan syukur di rumah.”

“Ucapan syukur untuk apa?”

“Pelantikan Papa jadi Rektor.”

“Oh iya.”

“Abang datang ya!”

“Emang aku di undang?”

“Aku yang undang.  Biar abang kenal sama keluargaku.  Mama sudah beberapa kali nyuruh Abang ke rumah.  Abang sih nggak pernah mau.”

“Aku malu.  Aku dari keluarga miskin.  Gak pernah punya keluarga terpandang seperti keluargamu.  Aku bingung bagaimana harus bersikap.”

“Ih, Abang.  Kan sudah berkali-kali Tara bilang kalo keluargaku nggak pernah memandang status sosial seseorang.  Lagian abang sudah berhasil begini!  Punya bengkel mobil yang besar.”

“Ah, tapi aku tetap anak kampung.  Nggak tahu harus bagaimana berkomunikasi dengan orang terpelajar seperti keluargamu.”

“Iiihh sebel deh.  Selalu itu yang dijadikan alasan.  Abang itu sudah punya segala.  Cowok paling sopan yang pernah aku kenal.”

Anton tertawa.  Tara tersenyum merayu.

“Kamu akan mengenalkan aku sebagai apa?”

“Sebagai pacarlah!  Kalau Abang mau sekalian ngelamar aku juga boleh.  Aku bersedia jadi istri Abang sekarang juga.”

“Huuuss… kamu harus lulus kuliah dulu.”

“Iya-iya… setahun lagi juga aku sudah lulus.”

“Ya sudah, ayo pulang!”

Tara belum juga mau berdiri dari kursinya.  Anton menariknya berdiri.  Tara menahan badannya.  Anton berusaha mengangkat supaya Tara berdiri.

“Tara… kamu jangan suka begitu deh!  Ayo pulang!”

“Bang, Pliiiss…!  Sekali ini saja!”

“Tidak bisa, Tara.  Bisa bahaya nanti kalau kamu nginap disini.”

“Bahaya bagaimana?”

“Kamu paham yang aku maksud.”

“Abang bukan gay kan?”

Anton menatap Tara lama.  Kemudian dia menggeleng, “Belum saatnya kita melakukannya.”

“Aduuuhh… abang ini malaikat apa orang suci sih?” Tara berdiri dengan sikap ngambek.

“Lihat photo itu.  Dia tidak mau kita melakukannya sebelum pemberkatan.”

Tara melihat photo Yesus di figura dalam ukuran besar tergantung di dinding.

“Iya..iyaa..  Kalo cium boleh dong!”  Tara memejamkan matanya.  Anton mencium bibir gadis itu sekilas kemudian memeluknya.

Anton mengantarkan Tara ke rumahnya.  Dia tidak pernah masuk ke rumah besar itu, hanya sampai pintu kemudian langsung pamit pulang.  Anton melambai pada Tara yang berdiri di pintu terbuka.  Perlahan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Tara.

Sebelum keluar dari komplek perumahan itu, Anton mengeluarkan ponselnya dan menelpon.

“Lis, ke tempatku ya!”

==@@@@@==

 

Menjelang siang sebuah mobil memasuki sebuah bengkel besar, kemudian parkir di depan.  Anton keluar dari mobil.  Dia tersenyum dan mengangkat alis saat mendengar sapaan dari karyawan bengkel.  Dia melihat-lihat mobil yang sedang didandani karyawannya.  Sesekali dia memberikan arahan.  Dia berpindah dari satu mobil ke mobil lainnya.  Setelah merasa cukup, dia masuk ke ruang dalam yang tampak nyaman dan sejuk.  Dia duduk di meja kerjanya.  Matanya menatap lembut photo dalam pigura bagus yang diletakkan di meja kerjanya.  Seorang wanita kampung berumur 30an dengan pakaian sederhana.  Wajahnya tampak lebih tua dari umur sesungguhnya.  Photo itu buram karena memang usianya sudah lebih dari dua puluh tahun.  Anton mengusap photo itu dengan senyum.

“Sayang sekali Ibu tidak sempat menikmati semua ini.”  gumamnya.

Dia teringat masa kecilnya yang sangat menderita.

Dia tidak punya kenangan banyak dengan ayahnya karena sang Ayah meninggalkannya  saat masih berumur 2 tahun.  Konon ceritanya Ayah mau mengadu nasib di Jakarta karena dia tidak mau hanya sebagai petani di kampung.  Kabarnya Ayah yang berambisi untuk maju itu kuliah lagi.  Hanya itu kabar yang diketahui, sejak itu tidak ada kabar lanjutan.  Ibu yang hanya perempuan kampung tidak mau mencari ke Jakarta.  Dia bilang, “Kalau dia masih hidup dia tahu kok jalan pulang.  Aku lebih baik bekerja dan membesarkanmu.”

Setelah sepuluh tahun tanpa kabar, Ibu mengatakan supaya tidak perlu mengharap kepulangannya lagi.  Tapi Anton adalah anak yang punya kemauan keras.  Dia mau mencari ayahnya.  Saat usianya 13 tahun, dia minta izin ke Ibunya supaya mengizinkannya mencari Ayah.  Dengan berat hati sang Ibu melepaskan anaknya ke Jakarta dengan bekal duit seadanya.

Anton remaja canggung yang kurus dan dekil berangkat ke Jakarta dengan tekad kuat tidak akan pulang sebelum bertemu Ayah.  “Kenal sama Bapak Andreas Gunawan?  Ini photonya.”  Demikian selalu dia bertanya pada semua orang yang dia temui.  Penjual sayur, tukang warung, tukang ojek, sopir angkot, orang yang berseragam tentara, polisi, pegawai negeri bahkan mahasiswa.  Menurutnya, pasti salah satu dari mereka itu kenal dengan Ayahnya.  Saat duitnya sudah habis, dia menawarkan jasa menjadi pengangkat barang di pasar.  Sambil bekerja, dia tetap bertanya.  Dia juga tidur dari satu terminal ke terminal lainnya.  Setelah pencarian tanpa lelah selama sebulan, akhirnya ada juga yang mengenali Ayahnya.

Betapa senangnya hati Anton ketika itu.  Tanpa menunggu hari berganti, saat itu sudah sore, dia menaiki angkot jurusan rumah Ayahnya.  Dia minta sopir angkot menurunkannya di alamat yang dia tuju.  Hari sudah malam saat dia tiba di depan rumah yang menurut orang tersebut bernama Andreas Gunawan, Ayahnya.  Dia berdiri lama di depam pintu sebelum mengetuknya.  Ketika hendak mengetuk pintu, sebuah mobil tua berhenti di depan rumah.  Dia melihat seorang pria dewasa di dalam mobil itu.

Anton mendekati mobil tersebut, “Ayah…”

Lelaki berkacamata dan berseragam pegawai itu melihat dia dengan tidak percaya.  Dia segera keluar dari mobilnya dan mendekati Anton.

“Iyus!!!”

“Iya Ayah, ini Iyus.”  Senyum Anton mengembang.  Wajahnya benar-benar menyiratkan kemenangan.  Kelelahannya selama sebulan ini terbayar lunas dengan melihat wajah Ayahnya yang tampak semakin ganteng.  Dia senang sekali melihat ayahnya yang tampak sudah kaya dengan memiliki mobil.

“Ngapain kamu ke sini???”

Senyum di wajah Anton tiba-tiba sirna.  Dia ketakutan mendengar suara lelaki itu membentaknya.

“Aku, aku… aku ingin ketemu Ayah.”

“Cepat naik ke mobil!”

Lelaki itu menarik tangan Anton ke mobil.  Saat mobil dinyalakan pintu rumah terbuka.  Seorang wanita berdiri di sana.

“Loohh, Papa mau ke mana lagi?”

Anton melihat wajah Ayahnya pucat dan dia tampak gugup.

“Aku pergi bentar, Ma!  Ini anak teman tadi minta diantar ke rumah keluarganya.  Deket kok di sini.”

“Oh.  Makan aja dulu.  Anak itu kayanya belum makan deh.”

Wanita yang di panggil Ma oleh Ayah Anton itu mendekati mobil dan tersenyum pada Anton.  Anton bingung berganti-ganti menatap Ayahnya dan wanita baik hati itu.

“Anak ini sedang di tunggu keluarganya, Ma!  Aku pergi dulu ya!  Bentar kok.”

Ayahnya langsung menjalankan mobil meninggalkan wanita berkulit putih bersih itu berdiri kebingungan.

Anton menatap Ayahnya dari samping.  Ayahnya tampak tidak senang.  Berkali-kali tangannya memukul stir mobil.

“Kamu ku antar ke Rambutan.  Kamu harus pulang malam ini juga.“ katanya tanpa melihat pada Anton.

“Kenapa?  Ayah membenciku?  Ayah tidak mau mengakuiku?”

Ayahnya diam saja.  Tatapannya tajam melihat jalanan.  Anton menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.  Secara perlahan rasa rindu yang dia pupuk selama belasan tahun ini berganti warna menjadi amarah.  Dia memejamkan mata dan melihat wajah Ibunya di depannya.

“Aku sudah menikah lagi dengan wanita yang banyak berjasa menyekolahkanku.  Keluarganya telah banyak berkorban.  Aku tidak mungkin menyakitinya dengan mengatakan aku sudah punya anak.  Aku harap kamu mengerti.”

Anton tidak menjawab. Dia semakin menumpuk amarah dalam dadanya.  Amarah itu kini berganti warna menjadi kebencian.  Sesampai di terminal Kampung Rambutan, Ayahnya membelikan tiket ke Sumatera.  Dia mengantarkan Anton ke dalam bis yang akan berangkat.  Dia juga memberikan uang sebagai pegangan Anton di jalan.  Dengan jijik Anton menerima uang tersebut.  Dia tak mengucapkan apa-apa lagi pada lelaki itu.

Sesampai di kampung, dia mengatakan pada Ibunya bahwa dia tidak bertemu Ayah. “Ada yang bilang dia sudah meninggal, Bu!” katanya.  Dan dia memang sudah mengubur sosok ayah di hatinya.  Ayah sudah mati.

Berbanding lurus dengan rasa bencinya, dia bertekat akan mengubah nasib sehingga tidak ada orang yang akan memandang dirinya.  Dia menamatkan SMAnya, kemudian merantau lagi ke Jakarta.  Dia bertekat akan melakukan apa saja demi bisa sukses.

Jakarta memang kejam.  Dia bergabung dengan preman-preman di terminal.  Dia direkrut menjadi penagih utang.  Suatu kali dia pernah berkelahi yang berujung pada penjara, karena pisaunya menusuk perut lawannya hingga ususnya terburai.  Dia sempat mendekam selama empat tahun di penjara.

Selama masa tahanan itu dia berkelakuan baik dan mendapat kesempatan ikut kursus otomotif.  Setelah keluar dari tahanan, dia kerja di bengkel orang.  Setelah paham semua seluk beluk mesin dan mobil, dia membuka tempel ban di pinggir jalan.  Dia menawarkan servis setiap mobil yang mampir ke tempatnya.

Anton tidak putus asa ketika awalnya dia harus makan sekali sehari karena pelanggannya masih sedikit.  Tapi dia tak putus asa.  Akhirnya perjuangannya membuahkan hasil.  Seorang pelanggan yang terkesan dengan hasil kerjanya menawarkan kerja sama membuka bengkel di ruko.  Usaha itu terus maju hingga Anton memiliki bengkel sendiri dan berpisah dengan partnernya.  Dua belas tahun perjuangannya akhirnya membuahkan hasil yang manis.  Sayang sekali Ibunya meninggal saat dia masih merangkak di pinggir jalan membuka tempel ban.  Dia sedih karena tidak bisa pulang saat ibunya dimakamkan.

Sampai saat ini berumut tiga puluh enam tahun, dia belum menetapkan hati untuk beristri.  Banyak wanita yang dengan senang hati menjadi istrinya, hanya saja dia masih mencari yang sama dengan pigur ibunya.  Dan hingga kini dia belum menemukannya.

==@@@@@==

 

Untuk yang kesekian kalinya ponsel Anton berbunyi.  Dia menatap lama nama Tara yang muncul di layar sebelum mengangkatnya.  Tara berulang kali menelpon untuk mengingatkan supaya Anton datang ke acara ucapan syukur di rumahnya.

Anton berkali-kali mengganti bajunya.  Semua tidak membuat dia merasa nyaman.  Padahal selama ini dia tidak pernah kesulitan menentukan baju yang harus dipakai.  Anton bukan lelaki pesolek, bajunya tidak terlalu banyak model dan ragamnya.  Dia ragu, acara itu pasti didatangi oleh orang-orang terhormat dan berpendidikan.  Dia bingung pakaian mana yang pantas untuk dia pakai.

“Lisa, baju apa yang pantas aku pakai ke acara begituan?” akhirnya dia menelpon perempuan yang sudah bertahun-tahun menemaninya tanpa komitmen apa-apa.

Lisa menyarankan supaya dia memakai batik dan celana jins saja.

“Jadi tidak perlu pakai jas dan dasi?” tanya Anton lagi.  Lisa terdengar tertawa di ujung sana.

Sesuai saran Lisa, Anton mengenakan batik berwarna merah marun dengan celana jins dan sepatu yang senada.  Rambut sebahunya dibiarkan terurai sehingga dia tampak semakin gagah.

Sesampai di depan rumah Tara, dia turun dari mobil.  Tampak Tara lari kecil mendapatkannya.  Gadis itu berpakaian gaun sederhana tapi memperlihatkan bentuk tubuhnya yang aduhai.  Wajah Tara tampak sumringah saat menggandeng Anton memasuki rumah yang dipenuhi oleh undangan bertampang serius.  Banyak yang sudah ubanan dan botak.

Dada Anton bergemuruh hebat.  Dia berusaha sekuat tenaga supaya Tara tidak merasakan perubahan sikapnya.

“Tangan Abang kok dingin?” kata Tara saat mengandengnya ke pintu depan.  Anton hanya tersenyum berusaha senormal mungkin.

“Mau makan dulu atau ketemu Papa Mama?”

“Terserah.  Makan juga boleh.” Kata Anton sambil mengedarkan pandangan ke semua manusia yang ada dalam ruangan.  Mungkin ada sekitar dua ratus orang termasuk yang duduk di tenda di halaman depan.

“Oh itu Papa sama Mama!” Tara melambai pada wanita paruh baya di sudut ruangan yang sedang berbincang dengan beberapa ibu-ibu.  Wanita berkebaya anggun itu mendekati mereka dengan senyum merekah di wajahnya.  Anton memejamkan mata untuk meredakan gemuruh dalam dadanya yang semakin berdentum keras.  Saat dia membuka matanya, dia melihat wanita itu sudah ada di depannya mengulurkan tangan.  Anton menyambut tangan itu dengan senyum seramah mungkin.

“Ayo bawa Nak Anton makan, Tara!”  kata wanita itu lagi.

Tiba-tiba Tara menghilang.  Anton kebingungan.

“Oh itu, Papanya Tara.” Kata wanita itu lagi.  Tara datang dengan menggandeng seorang pria separoh baya.

“Papa, ini Bang Anton.  Bang, ini Papa!”  kata Tara dengan suara ceria.

Pria dengan kepala yang sudah dipenuhi rambut putih itu tampak tersenyum dan mengulurkan tangan.  Anton menyambutnya dengan tangan berkeringat.  Gemuruh di dadanya semakin kencang mendentum-dentum.

“Tara sering bercerita tentang nak Anton.  Dia sangat bangga dengan Anda.”  kata Papa Tara.

Tara tersenyum bahagia karena merasa penerimaan orang tuanya sebagai tanda restu mereka akan hubungannya dengan Anton.

“Bang Anton akan melamar Tara kalo sudah lulus.  Itu janjinya.” Kata Tara lagi.

“Oh, bagus itu.  Memang harus lulus dulu.”  Kata wanita berkebaya yang dari tadi memperhatikan Anton yang tampak grogi.

“Iya, memang harus seperti itu.” kata Papa Tara.

Anton membasahi bibirnya sebelum berucap, “Pak, bisa kita berbicara berdua saja?”

“Oh boleh, mari ke pojok di sana saja!”

Anton mengangguk ke Mamanya Tara dan mengusap rambut Tara sekilas sebelum dia meninggalkan mereka kebingungan kemudian mengikuti langkah Papanya Tara.

“Ada yang Nak Anton mau katakan?”

Anton menatap pria itu dengan tajam.  Papa Tara menjadi kebingungan dengan tatapan Anton yang seperti ingin membakarnya.

“Ada apa dengan anda?  Mengapa menatapku seperti itu?”

Tanpa melepaskan tatapannya, Anton mengeluarkan sebuah poto dari kantong celananya dan menunjukkannya pada pria yang kemudian wajahnya berubah jadi pucat.  Dia menatap photo wanita sederhana di tangannya dan menatap Anton dengan tidak percaya.

“Iyus..???”  Pria itu menunjuk lemah ke arah Anton.

“Ya, itu ibuku yang Anda khianati dan aku Iyus, anak kurus, hitam, dekil yang Anda usir puluhan tahun silam.”

Pria itu tampak menjadi ringkih.  Dia menundukkan kepala.  Kemudian pundaknya bergetar.  Tangannya meraih Anton, tapi Anton menepiskan tangan itu.

“Anda tahu, Tara sangat sangat mencintaiku.  Dia berkali-kali minta aku menikahinya.  Sekarang ini pun dia bersedia aku nikahi!”

“Tapi dia adikmu.”

“Oh, ya??”

“Kamu tidak bisa menikahinya, dia adikmu!  Kalian sedarah.”

“Ok, kalau begitu.  Sekarang anda umumkan di depan semua undangan ini bahwa aku anakmu!”

“Tolong Iyus, aku tidak mungkin melakukannya.  Mereka tahunya aku dulu bujangan ketika mengawini Mamanya Tara.”

“Terserah anda.  Kalau anda tidak mengumumkan, malam ini aku akan meniduri Tara.”  Anton membisikkan kalimat itu di telinga pria yang semakin ringkih itu, kemudian meninggalkan.

Tara datang menghampiri mereka.  Anton menangkap Tara dan memeluknya mesra di hadapan pria tua yang tampak semakin ringkih itu.

“Iyus, tunggu!”  suara Papa Tara terdengar bergetar saat Anton hendak keluar dari ruangan.  Tara di sampingnya tampak bingung karena papanya memanggil Anton dengan sebutan lain.  Demikian juga Mama Tara yang segera mendekati suaminya dengan wajah ketakutan.

Anton berhenti dan memandang tajam pada pria tua yang mulai berlinang air mata itu.

“Iyus ini, Antonius ini adalah anakku dari istri yang kutinggalkan di kampung.” Pria tua itu tak kuat lagi menahan tangisnya, dia nyaris saja jatuh bila tidak langsung di tahan oleh orang-orang yang berdiri di dekatnya.  Mama Tara tampak tidak percaya dan menatap suaminya yang sudah lemas.  Tara pun tidak kalah kaget mendengar ucapan Papanya.

Anton tersenyum sekilas kemudian berbalik meninggalkan ruangan.  Tara mengejarnya hingga ke halaman.

“Bang Anton!”

“Tara, kamu adikku, kita tidak akan pernah menikah… jaga papamu ya!”

Kemudian Anton meninggalkannya.  Tara duduk dikursi.  Kebingungan.  Wajah Anton dipenuhi senyum kemenangan sambil meninggalkan rumah itu.

“Ibu, aku sudah membalasnya dengan manis!  Tenanglah engkau di sana!” gumam Anton, kemudian mengambil ponselnya, “Lisa, kujemput kamu sekarang!  Ada yang layak kita rayakan.”

Senyum tak beranjak dari wajah keras Anton “Aku akan melamar Lisa segera.” Katanya dalam hati saat memacu mobilnya dengan kencang dengan diiringi musik cadas.

==@@@@@==

 

= Sebuah Cerpen =

Inspirasi: John Birong, saat perjalanan pulang kampung.

Jakarta, Oktober 2011

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kemenangan Manis

  1. bujur turang , tapi enggo ngantuk aku ……………..besok kubaca lg ya

    Like

  2. vin says:

    very nice one mery! 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s