Sepercik Bara Asmara di Twitter

 Aku mengantri memasuki lobby utama sebuah mall.  Untuk kesekian kalinya aku melirik jam di tanganku.  Sudah telat lebih dari setengah jam dari janji.  Di dalam hati, aku sibuk mengutuki Nan yang tadi menahanku saat hendak meninggalkan kantor.  Nan menarikku ke ruang meeting, kemudian kami duduk berhadap-hadapan di pojok meja.  Sebelum dia cerita, aku tahu pasti dia akan bercerita tentang Ricky, lagi.  Dengan setengah hati aku mendengarkan ceritanya sambil sesekali melirik jam di pergelangan tangan kiriku.  Aku yakin akan telat kalau tidak berangkat sekarang.  Tapi Nan sepertinya tidak perduli dengan kegelisahanku.  Beberapa kali aku menunjukkan dengan jelas gerakan melihat jam, tapi dia tidak terganggu atau merasa tersindir.  Nan tetap bercerita menggebu-gebu tentang prasaannya yang katanya semakin dalam pada Ricky dan juga ketakutannya yang sangat jika suaminya sampai mengetahui hubungan terlarang mereka.

Nan sangat terbuka padaku.  Apapun yang dia lakukan dengan selingkuhannya, akan diceritakan padaku.  Detail.

“Gue percaya elu dan gue yakin lu nggak akan cerita sama siapa pun.” katanya saat kutanya pertama kali mengapa dia menceritakan hubungannya itu padaku.  Dan aku memang tidak pernah menceritakannya pada siapa pun.  Bagiku, kepercayaan adalah harga mati.  Nan tahu itu, dan dia memanfaatkannya.  Aku kenal Nan sejak bekerja di kantor ini sekitar dua tahun yang lalu.  Dapat dikatakan pertemanan kami dekat.  Aku juga mengenal suaminya, Isar dan kedua anak mereka yang lucu-lucu.

Setiap ada acara di rumahnya, misalnya ulang tahun anak-anaknya, aku wajib datang.  Terkadang, aku berbincang ringan dengan Isar.  Kesan yang kutangkap dari cerita dan tutur katanya, Isar adalah suami yang baik.  Dia memiliki pekerjaan yang bagus, selalu punya waktu untuk kedua anaknya, dan dia sangat mencintai Nan.  Demikian penilaianku.  Tapi kenapa Nan selalu merasa kurang?  Ah, manusia memang selalu tidak pernah puas dengan apa yang telah dimiliki.

Nan kembali mengulang-ulang betapa dia tidak nyaman hidup seperti ini.  Ada rasa bersalah menggelitik nuraninya tiap kali dia memasuki pintu rumahnya, terutama sehabis menyewa kamar hotel bersama Ricky.  Nan tidak ingin keluarganya hancur, tapi rasa cintanya pada Ricky pun semakin dalam.  Beberapa kali Nan menangis saat sholat.  Isar yang menjadi imam sempat memergokinya dan menanyakan masalahnya.  Nan hanya bilang masalah kerjaan di kantor.

Sebagai teman aku berusaha berkata jujur, tapi tidak ingin menghakimi apa yang dia perbuat.  Mungkin karena itu dia tidak pernah sungkan bercerita padaku.  Sebagai sesama wanita, aku paham yang dia rasakan.  Setelah sembilan tahun menjalani kehidupan rumah tangga, dia mulai merasakan kehambaran dalam perkawinannya dengan Isar.  Beberapa kali aku menganjurkan supaya mereka konsultasi ke konsultan pernikahan.  Nam setuju, tapi Isar menolak karena menurutnya perkawinan mereka baik-baik saja.  Isar mengerti bila sesekali Nan pulang agak larut karena pekerjaan menuntut demikian.  Entahlah, apakah suaminya memang merasa perkawinan mereka baik-baik saja atau dia terlalu takut menghadapi kenyataan bahwa hubungan mereka sebenarnya ada masalah.

Berulang kali kukatakan pada Nan bahwa bila ingin hidup tenang dia harus membuat keputusan; bercerai dengan Isar atau putus dengan Ricky.  Simpel.  Tentu jawabannya tidak pernah bisa sesimpel itu.

“Nggak mungkin gue cere, Cha!  Anak-anak gue gimana dong?  Mereka dekat banget sama ayahnya.” demikian jawaban Nan.

Ya aku tahu itu.  Soal kedekatannya dengan anak-anak, Nan kalah jauh dibanding suaminya.  Nan yakin bila sekiranya mereka bercerai, maka kedua anaknya akan memilih ikut Isar dari pada ikut dia.  Aku juga tahu, walaupun kelihatannya Nan cuek pada anak-anak, dia tidak akan bisa hidup tanpa mereka.

“Hak asuh anak di bawah umur pasti jatuh ke tangan ibunya.” kataku menguatkannya.  Tidak ada maksudku menyetujui perceraian mereka.  Aku hanya ingin memberikan pemikiran padanya, atau juga mungkin untuk menyadarkan posisinya.

“Memang.  Tapi kalau anak-anak lebih memilih ayahnya bagaimana?  Lagi pula aku tidak setelaten Isar mengurus anak-anak.  Mereka hanya mau makan bila Isar yang menyuruh.”

“Ya mulai dari sekarang lu harus merubah sikap dong!  Beri perhatian yang cukup buat anak-anak.  Jadi bila saatnya tiba, lu sudah merebut hati mereka.” kataku geregetan.

“Hmm… masalah yang lain adalah……” Nan menunduk dan diam beberapa saat.

Aku tak sabar menunggu dia melanjutkan ceritanya.  Masalahnya sekarang aku sudah pasti telat dengan janjiku bertemu seseorang.  Nan hanya memandangku.  Aku mengangkat alis tanda menunggu kelanjutan ceritanya.  Dia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan, lanjutnya, “Masalahnya gue nggak yakin sama Ricky.  Maksud gue.. eeeemm… gue nggak yakin dia mau meninggalkan anak dan istrinya.”

Aku menghembuskan nafas panjang sambil menyandarkan punggungku.  Dia sebenarnya sudah tahu jawabanku, tapi mengapa dia harus menceritakan semua itu?  Aku menatapnya beberapa saat tanpa berkata apa-apa.  Dia menundukkan kepalanya.  Sungguh, aku menatapnya bukan karena kaget atas apa yang baru saja dia ucapkan.  Bukan.  Pikiranku melayang pada jalanan yang mulai macet dan kerepotan yang akan aku hadapi untuk mencapai sebuah cafe di sebuah mall.

Sesungguhnya yang ada dalam pikiranku saat itu adalah bagaimana menyelesaikan pembicaraan ini secepatnya.  Karena bila diikuti bisa sampai subuh juga tidak selesai.  Beberapa kali aku ingin menutup pembicaraan ini dengan mengatakan bahwa putus dengan Ricky adalah yang terbaik dan dia akan baik-baik saja.  Tapi seperti yang sudah-sudah, aku yakin Nan akan membuat argumen-argumen yang hanya akan memperpanjang percakapan.  Saat Nan mengangkat kepalanya dan menatapku, aku langsung melirik jam di pergelangan tanganku. Usahaku yang kesekian kalinya supaya dia paham.

“Kepikiran untuk nikah siri saja, jadi kami tidak merasa berdosa lagi bila melakukannya.”

“What???”

Aku terkadang tidak mengerti cara pikir orang-orang ini.  Tahu berselingkuh itu adalah salah menurut hukum manusia dan Tuhan, tapi tetap dilaksanakan.  Juga sangat sadar sesadar-sadarnya bahwa Tuhan tidak tidur, dengan kata lain Dia melihat semua yang kita lakukan, sehingga timbullah ide gila nikah siri.  Bukakah itu menipu Tuhan?  Demi menghilangkan rasa berdosa, dilakukanlah tindakan yang tampak agamais.  Ah, Tuhan saja dikadali, apalagi manusia?

“Setidak-tidaknya kan menurut agama sah, bok!  Jadi nggak merasa berdosa lagi.”

Aku tidak bisa berkata-kata.  Hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.  Namanya manusia ya, sejahat apapun atau sesalah apapun tindakannya, pasti masih punya nurani yang mengatakan bahwa hal yang dilakukannya salah.  Kemudian untuk berdamai dengan nurani itu dilakukanlah tindakan pembenaran atau membayar kompensasi.

Tiba-tiba aku teringat film-film yang bertema mafia.  Boss mafia selalu digambarkan kejam dan melakukan berbagai pekerjaan kotor.  Tangan mereka bersimbah darah.  Para mafia itu sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak benar menurut kemanusiaan apalagi Tuhan.  Dan untuk menutupi rasa bersalahnya dia menyumbang materi yang sangat besar bagi gereja tempatnya beribadah dan membangun fasilitas umum untuk komunitas di sekitar tempat tinggalnya.

Sikap yang sangat kontras.

Seperti perusahaan-perusahaan perusak alam, supaya tetap punya nama baik di masyarakat dan konsumen produknya, dia banyak memberikan sumbangan pada kegiatan-kegiatan sosial dan pendidikan.  Dimana logikanya?  Mereka yang menggunduli hutan dan merusak lapisan bumi kemudian mendukung penghijauan dan berkoar-koar tentang pentingnya penghijauan dilaksanakan.  Kalau memang mereka sadar lingkungan, tentu mereka tidak akan menggali lapisan-lapisan tanah itu hingga kedalaman ratusan meter dan menghancurkan ekosistem puluhan hingga ratusan hektar.

Aku menatap Nan dengan pandangan tidak percaya.  Tapi aku tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.  Kemudian aku menunduk dan menggeleng-gelengkan kepala.  Aku tahu wajahku memerah.

“Itu hanya pikiran selintas aja, Cha!  Kayanya sulit juga dilaksanakan.  Kalau ketahuan, Isar bisa bunuh Ricky kali.”

“Syukurlah kalau lu sadar itu nggak mungkin dilaksanakan.  Gue nggak ngebayang aja elu poliandri.  Dan pliss, pikiran gila lu itu jangan dilanjutkan.”  Aku berdiri.

Nan menatapku.

“Sorry, gue harus segera cabut.  Ada janji.”

“Oh.  Sorry sudah nahan lu!”

Aku buru-buru keluar dari ruang meeting.  Aku yakin Nan juga tidak langsung pulang walau tidak ada kerjaan di kantor.  Paling tidak dia akan makan malam bersama Ricky.

Sekarang aku sudah telat empat puluh menit.  Padahal tadi saat baru keluar dari kantor, aku membaca DM-nya (Direct Message di Twitter) yang mengatakan bahwa dia sudah sampai di cafe tempat kami janjian.  Biasanya parkir penuh jam segini, lebih baik aku memakai jasa valet saja.  Aku bergegas masuk ke dalam mall.  Ada rasa senang, ketakutan, penasaran dan nafsu setiap kali kakiku menjajak di mall berlantai marmer ini.

Hatiku berdebar.  Aku kembali dapat merasakan sensasi deg-degan yang sama seperti saat jatuh cinta pada usia remaja.  Sensasi ini sungguh menegangkan sekaligus menggairahkan.  Kini aku bukan remaja lagi.  Angka 32 menghiasi kue ulang tahunku lima bulan lalu.  Tapi debaran di dada ini masih sama seperti ketika aku jatuh cinta pertama kali, kedua dan seterusnya.

Kalau dihitung dengan cinta monyet, ini adalah jatuh cintaku yang ke enam.  Tidak terlalu banyak dan tidak minim juga. Aku mulai jatuh cinta pada yang ke enam ini saat akrab dengan sebuah akun di twitter.  Aku mengenal microblog ini setahun lalu.  Akunku memakai nama anonim artinya tidak menggunakan namaku yang sebenarnya.  Aku sengaja, supaya dapat menulis apa saja yang mau kutulis tanpa diketahui orang lain siapa aku.  Dibanding para selebtwit, tentu aku bukan siapa-siapa.  Followerku masih dua ratusan, jauh lebih sedikit dari pada akun yang kufollow.  Itu tandanya aku masih di kelas kambing di dunia twitter.

Tapi itu bukan masalah, karena bagiku twitter adalah alat untuk menyalurkan kekesalan, amarah, dan canda bernuansa jorok.  Aku cuman ingin bersenang-senang, bukan mencari follower.  Aku suka media ini karena bisa dengan leluasa menyuarakan apa saja, termasuk menyumpahi pemerintah, menyindir artis yang sok kecakepan, atau meneriakkan kerinduan yang terlarang.  Tak mungkin kutuliskan semua itu di facebook yang sebagian besar temanku adalah orang yang mengenalku dan keluargaku.  Itulah sebabnya mengapa banyak orang yang memakai akun anonim di twitter.  Ada kebebasan dan kemerdekaan bersuara, tentang apa saja.

Aku lupa dulu pernah ngetwitt apa, kemudian sebuah akun mengkomentari tweet tersebut dan aku membalasnya.  Kejadian itu mungkin sekitar empat bulan lalu.  Sejak itu akun yang bernama Apasaja itu selalu hadir membalas twitku.  Awalnya kita berdua bersikap formal.  Saling menanya kabar.  Saling cerita masa lalu, dilanjut saling cumbu rayu.  Ya, saling cumbu rayu sangat biasa di twitter.  Bagiku itu hanya iseng.  Tidak akan kemana-mana, kupikir.  Aku tidak kenal dia, dia tidak kenal aku.  Dia memakai avatar atau photo profil yang bukan gambar manusia di twitternya, aku pun demikian.

Rayuan berbobot ringgan hingga berat mulai terlontar.  Bila sudah menjurus vulgar, pembicaraan pindah ke jalur Direct Messege, jalur pribadi sehingga orang lain tidak bisa membacanya.  Aku menikmati pembicaraan itu.  Aku seakan bercumbu dengan figure yang hanya ada dalam fantasiku.  Dengan leluasa aku memvisualisasikan profilnya.  Diimajinasiku, dia adalah campuran Blake Shelton, Leonardo De Caprio dan Matt Damon.  Ya, aku memang sangat menyukai figur-figur jantan itu.  Terasa nyaman dipelukan Blake yang berpostur tinggi besar, dan aman di dekat Matt Damon karena membayangkan kelincahannya berkelahi sebagai Bourne dan kegantengan wajah Leo pada masa mudanya.  Aku menikmati fantasiku yang liar.

“Tidurnya pakai apa malam ini, Beb” tulisnya di DM.  “Bebeb suka aku pakai apa?” balasku.  “Hmm.. aku lebih suka kamu nggak pakai apa-apa.” Jawabnya cepat.  “Nggak masalah, tapi kamu yang bukain ya!  Aku malas buka sendiri.” Kataku lebih liar, sambil membayangkan Bourne yang membuka baju tidurku.

“Kok baru keliatan, Beb?  Ngapain seharian ini?” katanya suatu malam. “Di kantor tadi banyak banget kerjaan.  Aku capek banget hari ini.” balasku.  “Mau aku pijit?  Aku paham banget loh urat-urat wanita.” katanya.  “Aduh mau banget, Beb.  Tegang banget nih!”  jawabku.  “Nanti aku lemaskan.  Etapi Bebeb lemaskan aku juga ya! Ada yang ikutan tegang disini.” Oh, rasanya nyeeesss, aku langsung melayang ke langit ketujuh.  Terasa Leo memijit kakiku perlahan dengan penuh sensasi, kemudian naik, naik dan terus naik.

“Beb, aku tidur dulu ya, besok pagi ada meeting sama client.” Twitku setelah beberapa saat saling menanya kabar.  “Bobok bareng dong, Beb!” tulisnya.  “Boleh.  Peluk aku dari belakang ya!” balasku.  “Ouch, itu posisi yang sangat berbahaya. Semoga adikku nggak bangun ya!” balasnya cepat.  Aku tertawa dalam hati membayangkan Blake memelukku dengan tanggannya yang kekar dan besar itu.  Terasa hangat, walau hanya dalam bayangan.

Begitulah beberapa contoh percakapan panas kami melalui twitter.  Dan aku sungguh-sungguh menikmatinya.  Aku bisa bermain dengan figur-figur yang menjadi idolaku itu.  Dia pernah meminta PIN blackberry atau alamat Facebook-ku.  Tapi aku tidak pernah mau memberikannya, karena aku tidak mau dia tahu siapa aku, dan juga aku tidak ingin melihat foto aslinya.  Alasanku, kita sama-sama tidak eksis dalam dunia sebenarnya.  Biar saja seperti ini.  Tapi ternyata kami tidak hanya puas di dunia maya.  Terbersit keinginan untuk bertemu di dunia nyata.  Sebenarnya dia yang paling ingin untuk bertemu.  Aku, antara ingin dan tidak.  Tapi akhirnya aku setuju bertemu.  Kemudian kami janjian bertemu malam ini sambil merayakan ulang tahunnya yang telah lewat seminggu lalu.

Tempat dan waktupun ditentukan.  Aku tetap tidak mau memberikan PIN blackberry ataupun nomor ponselku.  “Kita komunikasi pakai DM ini saja.  Nanti kita saling tukar PIN kalau sudah bertemu.” kataku.  Tidak mungkin dia protes.

Langkah kakiku semakin dekat ke cafe tempat kami janjian.  Aku memejamkan mata.  Ada ketakutan yang tiba-tiba menyusup dalam hatiku.  Bagaimana sekiranya penampilannya jauh dari profil yang kubayangkan selama ini?  Bagaimana kalau dia gendut dan… dan… ??  Aku tidak berani melanjutkannya.  Aku takut reaksiku akan segera berubah menjadi dingin.  Atau, bagaimana sekiranya dia super duper ganteng menyerupai profil-profil idolaku itu, dan ternyata dia mendapatiku seperti ini adanya?  Mungkin dia juga membayangkan aku seperti Luna Maya atau Ayu Ting-ting yang masih kinyus-kinyus.  Dan aku pasti seperti si bebek buruk rupa dibandingkan Luna Maya atau Ayu Ting-Ting.

Bagaimana pula sekiranya dia sesuai profil yang kubayangkan dan aku menyukainya, tapi dia tidak menyukaiku?  Tiba-tiba saja rasa percaya diriku turun sampai titik nol.  Ampun, apa yang harus kuperbuat?  Aku semakin khawatir.  Langkahku terhenti persisi disebelah cafe yang kutuju.  Aku menjadi ragu untuk melanjutkan langkah.  Kakiku seperti terpaku pada lantai marmer mall ini.  Aku melihat ada DM di twitter, pasti dari dia.  “Beb, kamu di mana?  Jadikan ke sini?  Buruan ya, Beb!  Rasanya sembentar lagi aku mati kedinginan kalau kamu tidak muncul”

Ada gelombang hangat mengaliri darahku yang tadi nyaris membeku.  Kembali aku mengumpulkan semangat.  Bolak-balik aku menyakinkan diri bahwa aku akan baik-baik saja.  Nothing to lose.  “Cha, katanya kamu cuma iseng!  Kok sekarang serius dan deg-degan gitu sih?  Kamu jatuh cinta ya?”  kata hati kananku. “Tidak.  Ngapain jatuh cinta sama orang yang nggak dikenal.  Aku memang iseng aja kok.” Kata hati kiriku.  “Kalau begitu masuk dong!  Ngapain seperti anjing kalah berantem gitu!”  kembali hati kananku menggelitik.  Aku langsung menegakkan pundak.  “Aku bukan anjing kalah berantem.  Lihat aku akan masuk dan menemuinya.”  kataku membesarkan hati.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.  Lumayan, terasa lebih ringan.  Aku melemaskan punggungku dan menghentakkan tanganku sambil mengepalkan telapak tangan.  Dengan mengucapkan doa singkat aku melangkahkan kaki.

Café ini bercita rasa Jepang.  Tempat duduknya bersekat-sekat, dibatasi oleh kain putih seperti kelambu yang diikatkan pada tiang pojok sekat.  Kita tidak akan melihat pengunjung dari pintu masuk.  Pelayan yang berdiri di pintu masuk menanyaiku, “Berapa orang?”  Aku bilang, temanku sudah ada di dalam.  Pelayan itu mengangguk dan dengan gerak tubuhnya mengatakan akan mengantarkanku.  Aku berjalan perlahan sambil melirik setiap meja yang kulewati.  Aku seperti berjalan di lorong gelap dan aku tidak tahu apa yang akan kudapati di depan sana.  Rasanya kakiku seperti digantungi pemberat 100kg pada masing-masing kaki.

Pelayan muda yang cantik dan ramah itu berhenti di dekat sebuah meja dan tersenyum padaku.  Silakan, katanya.  Aku melihat lelaki berkacamata berbaju biru lengan panjang yang digulung sedang menatap serius pada laptopnya.

Aku kaget luar biasa.  Sekali lirik aku bisa bilang dia ganteng, tidak seperti Leo memang tapi bisa dapat angka tujuhlah.  Dia tidak gemuk, standar eksekutif muda ibukota.  Wajahnya menyiaratkan kepintaran dan ambisi.  Tapi, sebelum dia melihatku, aku harus segera menghilang.  Tiba-tiba aku ingin sekali punya ilmu penghilang raga atau dapat menciutkan tubuh hingga seukuran semut sehingga aku bisa lenyap seketika.

Ketika aku hendak mengambil langkah seribu, kudengar suaranya memanggil namaku, “Cha!”  Aku berdiri kaku tak sanggup melihatnya, tapi aku harus menoleh dan bersikap sebiasa mungkin.  Aku memaksakan senyum yang pasti tidak tampak wajar, tepatnya seperti meringis.

“Hei, kamu disini?”  kataku tidak jelas.

“Iya.  Kamu, kamu sendiri?” dia tampak bingung.

“Eeee…, tadi Wim minta aku nyariin tempat untuk dinner, dia masih di jalan.  Ternyata sudah penuh.”  Untung ilmu ngelesku yang secanggih bajaj masih bisa menyelamatkanku.  Kurasa.

“Itu masih ada yang kosong, mbak!” kata pelayan yang masih berdiri di dekatku.  Tiba-tiba aku ingin menampar wajah manisnya itu.  Aku kembali mengeluarkan senyum menyeringai sambil mengelengkan kepala.  Aku melirik lelaki berkemeja biru itu memijat keningnya.  Dia tampak kebingungan.  Keringat dingin membanjiri tubuhku.

“Kamu nggak lembur, Cha?  Tadi Nan bbm aku, dia lembur katanya.”

Aku memejamkan mata.

“Nan aja yang lembur.  Aku mau dinner sama lakiku malam ini.  Yuk, Sar! ”

Gemuruh di dadaku semakin membahana.  Aku berusaha tersenyum padanya.

“Salam sama Wim ya, Cha!  Oh iya, anak-anakku kangen tuh sama anakmu.  Kapan-kapan kita maen bareng lagi ya!”

Aku mengangguk tapi tidak berani lagi menatapnya.  Aku mengayunkan langkah pertama saat kudengar dia berucap, “funNme!”

Aku pura-pura tidak mendengar dan meneruskan langkahku keluar dari restoran Jepang itu.  kakiku semakin cepat dan semakin cepat seperti hendak berlari.  Hanya satu yang ingin kulakukan sesegera mungkin: membunuh “funNme” selama-lamanya.

                                                          ∞

= Sebuah Cerpen =

Jakarta, November 12, 2011

By, Mery DT.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sepercik Bara Asmara di Twitter

  1. Saras says:

    Whuaaaaaaaaa…….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s