Zona Nyaman, Kreatifitas dan Kebahagiaan

Setiap kita memiliki ruang yang disebut comport zone atau zona nyaman.  Ruang ini kita sendiri yang tahu ukuran dan dimensinya.  Ruang ini tidak ada fisiknya, tapi terasa nyata.  Zona nyaman ini ada dalam banyak hal.  Misalnya pekerjaan, keyakinan, pertemanan, keluarga juga pasangan hidup.  Biasanya semua ini saling terkait, sehingga bila keluar dari satu zona nyaman akan mempengaruhi zona nyaman lainnya.

Misalnya di tempat kerja yang sudah terbangun suasana pertemanan yang sangat baik sering menahan kita untuk keluar dari pekerjaan tersebut walaupun terasa sudah kurang baik bagi perkembangan karir.  Keluar dari satu pekerjaan dapat memperngaruhi keuangan keluarga, misalnya bila memutuskan menjadi enteprenuer.  Sangat tidak nyaman berubah dari kondisi dengan kepastian adanya gaji bulanan berubah pada keadaan penghasilannya tidak menentu.

Motivator hebat selalu berkata, keluarlah dari zona nyamanmu.  Kata “keluar” itu saja sudah kata kerja yang membutuhkan usaha, kemudian dari zona nyaman pula.  Artinya kita berusaha menjauhi sesuatu yang nyaman, mendekati yang tidak nyaman.  Keluar dari zona nyaman itu tidak pernah enak.  Selalu ada yang dikorbankan.  Ada rasa sakit, kesepian, ketakutan dan lain-lain yang mendampingi saat kita memutuskan untuk keluar dari rasa nyaman tersebut.

Padahal sesungguhnya tetap berada dalam zona nyaman ataupun keluar dari zona, sama-sama memberi rasa sakit.  Bedanya adalah zona nyaman sakitnya belakangan, sedangkan zona tidak nyaman sakitnya duluan dan tidak ada jaminan kapan penderitaan itu berakhir.  Ini yang selalu menghalangi orang keluar dari zona nyaman tersebut.  Kata orang bijak, zona nyaman akan membunuh kita secara perlahan.  Karena zona nyaman itu seperti narkoba yang menawarkan kenyamanan semu, dan akhirnya mematikan paling tidak jiwa atau kreatifitas.

Aku teringat seorang musisi senior merasa lumpuh saat hidupnya tidak ada gejolak.  Dia tidak bisa menciptakan lagu dalam kondisi hatinya terlalu nyaman.  Setelah beberapa tahun tidak bisa berkarya, dia memutuskan untuk membuat ulah dengan berselingkuh dengan wanita lain.  Setelah itu terjadi keributan dengan istrinya, dan dia merasakan lagi rasa sakit saat bertengkat dengan istrinya.  Dengan rasa sakit itu, dia bisa menciptakan lagu-lagu bagus.  Tentu ini bukan contoh yang baik untuk keluar dari zoba nyaman.  Tapi demikianlah zona nyaman itu dapat membunuh kreatifitas.  Seharusnya memang seorang seniman bisa berkarya dalam saat senang maupun susah, tapi tidak semua orang seperti itu bukan?  Namanya juga seniman, suka nyentrik.

Keluar dari zona nyaman menuntut keseriusan, kalau tidak maka kegagalan yang menanti di depan.  Kegagalan ini akan membawa depresi berkepanjangan dan dapat berujung pada kegilaan.

Aku tidak akan membahas tentang keluar dari zona nyaman pekerjaan, karena sudah biasa dan banyak dilakukan para motivator handal.  Yang jarang dikatakan orang adalah keluar dari zona nyaman berkeyakinan.  Aku mengenal beberapa orang yang sebenarnya merasa tidak lagi yakin dengan keyakinannya, tapi tetap memeluk keyakinan itu karena sangat riskan baginya untuk keluar.  Dia akan mempertaruhkan keluarga dan tradisi yang tidak akan bisa dinikmati lagi dihari-hari kemudian.  Baginya itu pengorbanan yang terlalu besar dan tidak sepadan, sehingga dia memutuskan tetap berada dalam zona nyaman tersebut.

Zona nyaman berkeluarga juga sensitive dibicarakan karena ada keyakinan yang tidak merestui perceraian.  Tapi bagiku, bila sudah sampai pada tahap hubungan yang tidak sehat terhadap setiap jiwa yang terkait dalam perkawinan tersebut, ayah-ibu dan anak-anak, maka jalan perpisahan yang dewasa layak ditempuh.  Berpisah untuk saling lebih menghormati.  Bukan perpisahan seperti anak-anak yang mementingkan ego dimana mantan pasangan tidak boleh mengunjungi anak misalnya.  Itu perpisahan yang tidak sehat sama sekali.

Sekiranya masing-masing bisa memegang komitmen pernikahan dalam kadar yang sama tinggi, maka perpisahan itu tidak akan terjadi.  Yang sering terjadi adalah, ada pihak yang mengabaikan komitmennya sehingga menyakiti pasangannya.  Tentu manusia tidak luput dari salah, selama pernikahan masih dapat diperbaiki, maka lebih baik diperbaiki.  Tempuhlah konseling bila masalah sudah tidak mampu diselesaikan berdua.

Dari status berpasangan kemudian menjadi sendiri lagi terkadang tidak nyaman terutama penyebutan statusnya pada budaya kita.  Status janda atau duda itu sering tidak disambut positif oleh yang mendengar.  Selalu ada konotasi negative dibaliknya.  Itulah yang menyebabkan orang tidak ingin menyandang status ini dan tetap bertahan pada posisi yang sangat sulit sekalipun.  Tapi ada juga sih yang tidak perduli dengan status itu sehingga dengan mudah kawin-cerai walaupun sesungguhnya pernikahannya masih dapat diselamatkan.  Hal itu kembali lagi pada tujuan hidup seseorang.  Terlalu beagam untuk dilakukan penyeragaman.

Aku sebenarnya termasuk orang yang menentang perceraian.  Janganlah bercerai bila masih ada cara untuk memperbaikinnya.  Kesampingkan ego dan pandanglah pada anak.  Bila tidak punya anak, mungkin perceraian akan lebih gampang.  Ingat, anak tidak pernah minta dilahirkan loh, jadi bertanggung-jawablah terhadap anak yang telah engkau buat.  Anak berhak memiliki kasih sayang kedua orang tuanya sama besar dan hidup dalam lingkungan keluarga yang sehat.  Anda membuat anak pasti karena ego.  Manusia butuh objek untuk dicintai, maka dibuatlah anak bagaimana pun caranya.  Bila tidak bisa dengan alami, maka tehnik bayi tabung dan inseminasi pun ditempuh.

Tapi aku tidak habis pikir kalau ada orang tua yang marah-marah pada anaknya dengan mengatakan, “Kamu anak kurang ajar, tidak tahu berterima kasih.  Sembilan bulan aku mengandungmu, tapi kamu menentangku.  Durhaka!!”

Coba deh, para orang tua, rasional dikitlah!  Emang anak itu dulu minta dilahirkan ya? Bukannya itu ego dan nafsu anda supaya dia lahir?  Kalo sekiranya anda didik dia dengan baik, anak tidak akan kurang ajar kok.  Anda kali yang kurang ajar!  Kalaupun anak itu sudah anda didik dengan baik dan dia tetap kurang ajar, anda tetap tidak berhak mengungkit-ungkit kesusahan anda selama sembilan bulan mengandungnya.  Anda yang butuh punya anak.  Bukan anak itu yang butuh orang tua.  Jangan kebalik-balik deh logikanya.

Aku juga pernah dengar orang berkata bahwa anak itu adalah asset untuk masa depan.  Siapa lagi yang akan menjaga kita kalau bukan anak?  Walau aku merasa tidak nyaman mendengarnya, ada benarnya juga sih.  Memang anak yang akan menjaga orang tuanya.  Jadi kalau menganggap anak itu asset berharga, perlakukanlah anak sebagai harta yang berharga.  Jangan sia-siakan!

Kembali ke zona nyaman tadi, ada satu kenyataan yang aku masih bingung menentukan pihak yang didukung.  Karena akhir-akhir ini aku banyak mengamati kaum LGBT, jadi aku tahu sedikit banyak tentang kelompok ini.  Ada semacam kondisi yang tidak mereka inginkan yang harus mereka jalani.  Misalnya menikah dengan lawan jenis, padahal sebenarnya mereka gay.  Banyak perempuan gay yang menikah dan punya anak tapi tetap memimpikan malah banyak yang memiliki pasangan wanita.  Demikian juga suami yang ternyata punya punya pasangan sejenis diluar pernikahannya.

Ini jelas perselingkuhan.  Walau bukan suci-suci amat, aku tidak suka perselingkuhan pada pernikahan.  Dengan menikah, tentu sudah berkomitmen untuk menjaga pernikahan tersebut dari tidakan mencederai perasaan pasangan, seperti perselingkuhan.  Tapi gay yang menikah dengan lawan jenisnya seringkali bukan karena mau mereka, tapi tuntutan keadaan atau keluarga.  Dengan menikahi lawan jenis sebenarnya mereka sudah menderita lahir batin.  Jadi kala mereka menemukan pasangan yang dicintai dalam perjalanan perkawinan mereka, aku pun seperti memakluminya.  Dan aku mendapati diriku seperti mengkhianati nilai yang aku junjung dengan memberi restu pada tindakan perselingkuhan tersebut.

Aku menjadi labil menghadapi hal tersebut.  Disatu sisi aku tidak suka pada perselingkuhan, tapi saat mengetahui wanita atau pria gay yang berselingkuh dengan sesama jenisnya, aku seperti berlaku lunak dan mengerti.  Semacam ada zona abu-abu dalam sikapku, tidak hitam-putih seperti biasanya.

Aku hanya membayangkan, bahwa manusia itu sejatinya mencari kebahagiaan dan ketenangan jiwa.  Pria gay tentu hanya akan bisa merasakan hal itu bila hidup bersama pria yang dia cintai, demikian juga wanita gay.  Trus kalau kita menyalahkan mereka kenapa menikah kalau tahu tidak akan bahagia?  Kita harus menilik jauh ke dalam, karena masalahnya tak sederhana yang dihadapi kaum heterosexual.

Kau homosexual harus berjuang menghadapi diri sendiri, orang tua, lingkungan, relasi, agama dan adat istiadat, bila memutuskan menikahi orang yang dia cintai.  Kaum heterosexual tidak akan menghadapi masalah serumit ini.  Kaum heterosexual paling-paling hanya menghadapi perbedaan agama, suku atau status sosial.  Perbedaan itu masih lebih gampang diselesaikan.  Dan masyarakat masih banyak yang akan mengulurkan bantuan atau empati bila menjadi masalah besar.

Apa yang akan dihadapi oleh kaum homosexual yang berani menikahi sesama jenisnya?  Hujatan dari segala sudud dan penjuru mata angin.  Mungkin juga akan diusir dari tempat tinggal mereka.  Kondisi ini mungkin yang membuat aku menemaklumi bila ada gay yang berselingkuh dalam perkawinan dengan lawan jenisnya, karena mengikuti norma umum dalam masyarakat.  Banyak gay yang tetap menjalin hubungan dengan sesame jenisnya walaupun mereka telah menikah dengan lawan jenis.

Sekiranya mereka (para gay menikah) berani keluar dari zona nyamannya dan hidup bersama orang yang dia cintai hingga akhir hayatnya, tentu mereka bisa lebih bahagia dan menikmati hidup.  Walaupun awalnya akan banyak tanyangan tentunya.  Tapi ini adalah hal lain, yang berbenturan dengan banyak hal dan aspek.

Kembali pada zona nyaman tadi, memang sangat gampang mengatakan atau menuliskan keluarlah dari zona nyamanmu.  Sebaik apa pun diucapkan atau dituliskan tidak aka nada gunanya tanpa dilakukan.  Tulisan ini adalah pisau bermata dua bagiku.  Sebelum dia menusuk orang lain, dia telah menusukku.  Semoga aku bertahan melewati proses zona tidak nyaman ini yang tidak tahu sampai kapan berakhirnya.  Amin!

 

Jakarta, 23 January 2012

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh, Sexual Orientation and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s