Belajarlah arti kata secukupnya dari binatang

Di antara banyak rasa yang dimiliki manusia, seperti rasa gembira, marah, sedih, kecewa, terpukul, kenyang, lapar, haus dan lain sebagainya, menurutku lapar adalah rasa yang paling hebat sekaligus mengerikan.

Karena lapar ilmu maka kita belajar dan menjadi pintar.  Tapi kalau “kepintaran” bisa mengakali saudara sendiri yang kurang pintar.  Karena lapar maka kita akan menjadi kreatif.  Sangkin kreatifnya kitapun menciptakan banyak benda dan peralatan yang tidak semua dipergunakan secara positif.  Untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, manusia purba menciptakan kampak dari batu, kemudian mencoba besi, setelah itu membuat pisau, pedang dan sejenisnya.  Tapi setelah itu fungsi pisau/pedang tidak hanya untuk mencari makanan lagi, tapi lebih pada pertahanan diri atau malah menyerang orang yang lebih lemah.  Dari pedang dan tombak berlanjut pada senjata api, kendaraan tempur, kemudian granat, bom atom dan nuklir.

Coba dipikir.  Berapa persen kira-kira kebaikan adanya senjata api, granat, bom atom / nuklir itu bagi alam?  Aku tidak ingin menanya kebaikan bagi manusia, karena manusia itu tamak dan egois.  Manusia selalu alpha terhadap mahluk lain di muka bumi ini karena merasa mahluk yang paling pintar dan berkuasa.

Kembali ke rasa lapar tadi, hewan pun punya rasa lapar tapi mereka membunuh sesuai rantai makanan.  Binatang di rantai tertinggi umpamanya tidak pernah membunuh untuk maksud serakah.  Mereka membunuh “secukupnya”, sekedar menghilangkan rasa lapar.  Kalau sekiranya kijang yang dibunuh singa tidak habis dia makan, maka akan dihabiskan oleh binatang lain atau burung pemakan bangkai misalnya.  Jadi alam telah mengatur sedemikian rupa supaya tidak ada yang mubijir.  Alam mengaturnya seimbang dan terpelihara.  Betapa hebatnya system alam semesta ini.

Tapi system itu telah dihancurkan oleh mahluk yang menyebut dirinya mempunyai drajat yang paling tinggi dari semua mahluk, yakni Manusia.  Seperti binatang, Manusia pun membunuh karena lapar, membunuh binatang dan tumbuh-tumbuhan.  Tapi, eits, manusia membunuh tidak hanya karena lapar, tapi juga SERAKAH.  Rasa lapar dan sifat serakah adalah kombinasi yang sangat mematikan.  Karena kombinasi itu pula maka manusia juga saling membunuh.  Binatang sebuas apa pun hanya membunuh untuk menghilangkan rasa laparnya saja, tapi manusia membunuh karena rakus.  Bila dihitung pasti manusia membunuh lebih banyak dari semua binatang.

Coba lihat di Jepang, berapa ratus ton makanan yang mereka buang percuma tiap harinya karena sudah kadaluarsa?  Makanan segar di toko makanan dan restoran Jepang hanya tahan dalam 8 jam, dan bila lebih dari itu belum dikonsumsi, maka harus dibuang percuma.  Sayang sekali bukan??  Lihat juga di Negara-negara maju di Amerika dan Eropah.  Berapa banyak makanan yang mereka buang sia-sia setiap harinya?  Tak usah jauh-jauh, lihat pada diri kita masing-masing, berapa banyak makanan yang membusuk di kulkas dan lauk pauk yang terbuang percuma tiap hari?

Konon katanya manusia itu adalah gambaran dari Tuhan.  Tapi itu kata manusia loh ya!  Pernah tahu tidak apa kata binatang tentang ras mereka?  Manusia memandang rendah ras binatang bukan otomatis binatang memandang tinggi ras manusia.  Mana tahu dalam bahasa mereka, mereka merasa lebih tinggi derajatnya dari manusia.  Aku memang tidak pernah bicara dengan binatang, jadi tidak tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran mereka.  Tapi kadang aku melihat anjing lebih mulia dari manusia.

Serakah adalah keinginan untuk mendapatkan lebih banyak dari yang di butuhkan. Kenyangnya satu porsi tapi ngambilnya dua atau tiga porsi.  Makanya manusia banyak yang obesitas.  Jarang binatang liar yang obesitas.  Misalnya babi hutan, harimau, srigala, dan lain-lain.  Kuda Nil, ikan paus, beruang atau binatang gemuk lainnya memang ditempa alam harus gemuk untuk menghadapi iklim yang sangat dingin umpamanya.  Tapi binatang liar yang biasanya tidak gemuk menjadi obesitas kalau sudah ada campur tangan manusia, misalnya babi, ayam, sapi yang di ternakkan dengan tujuan untuk dikonsumsi manusia.

Rasa lapar manusia itu tidak hanya menyangkut benda yang dapat di makan langsung, tapi semua benda yang dapat memuaskan rasa laparnya.  Misalnya menggunduli hutan, menggali lapisan tanah untuk mengambil mineral, dan mengotori udara dengan semua pabrik dan kendaraan manusia.  Rasa lapar manusia menyebabkan ketidakseimbangan alam.

Rasa lapar pengertiannya sangat luas, tidak hanya menyangkut makanan.  Lapar akan ilmu pengetahuan maka sekolah setinggi-tingginya.  Lapar akan pengakuan eksistensi maka tampil atau menonjolkan diri di mana-mana.  Lapar akan kasih sayang maka mencari perhatian dari siapa saja.  Lapar akan materi maka bekerja keras tiada henti, atau malah merampok hak milik orang lain.  Lapar akan agama bisa menjadi fanatik dan mengkafirkan malah membunuh orang lain yang tidak sealiran.  Lapar akan kekuasaan maka mejajah kemana-mana atau menghalalkan segala cara supaya bisa sampai pada kursi yang diinginkan.  Ini yang kita lihat di dunia politik.

Pemenuhan rasa lapar yang berlebihan dalam hal apa pun saya sebut OBESITAS.

Obesitas kekuasaan akan berujung tirani dan otoriter.  Obesitas kasih sayang bisa menjadi poligami atau poliandri. *Ya saya tahu ini sensitive dan banyak yang tersinggung.  Please jangan over sensitive.  Dari dulu sudah banyak suku yang memberlakukan berpoligami dan mungkin poliandri.  Saya tidak mengaitkan ini dengan agama apapun.*  Obesitas materi bisa berujung serakah yang merampas hak orang lain.  Obesitas perhatian bisa menjadi over acting.

Demikianlah saya mengamati keserakahan manusia yang berujung pada obesitas.  Obesitas itu tidak sehat.  Coba tanya dokter.  Nasehat dokter untuk mengurangi obesitas adalah diet ketat dan mengkonsumsi makanan secukupnya.  Jadi manusia harus belajar makna kata SECUKUPNYA.  Mari muliakan nilai secukupnya  pada kamus kebutuhan kita masing-masing.  Disamping nilai itu, ramah pada lingkungan dan alam sekitar adalah nilai manusia yang berharkat tinggi.

Baiklah sahabat, mari kita belajar arti kata secukupnya, dan jangan malu, belajarlah arti kata secukupnya dari binatang!

 

Jakarta, January 19, 2012

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s