Gay Hanyalah Bagian Dari Diriku

Note:  Aku (Mery DT) sedang menulis buku “Anthology Kisah Gay”.  Nara sumbernya adalah teman-teman gay yang tidak ingin disebutkan identitasnya.  Ini adalah cerita dari nara sumber yang pertama.  Dia ingin sekali berbagi dan memberi dukungan bagi gay muda yang sedang kebingungan dalam menjalani hidup.  Silakan disimak, semoga dapat menginspirasi kita untuk lebih ramah pada teman atau keluarga yang kebetulan gay.

=======================================

Sebutlah namaku Lia, dan inilah kisahku.

  1. I.              Rekonsiliasi

Aku kembali menapakkan kaki di tanah air, setelah meninggalkannya selama dua tahun lebih.  Ada gelembung rindu yang terlepas saat aku berjalan menyusuri lorong-lorong bandara Sukarno Hatta.  Hilang sudah kelelahan yang sebelumnya tergambar jelas di wajahku karena penerbangan yang panjang selama 20an jam.  Wajah tambah ceria, begitu keluar dari ruang kedatangan dan menemukan wajah pahlawanku diantara para penjemput yang bergerombol.  Ibuku pahlawanku.  Aku senang bisa berkumpul lagi dengan keluarga.

Aku melihat jalanan Jakarta yang semakin padat dari mobil yang membawaku pulang.  Jakarta berubah menjadi tambah padat, terlihat dari jalanannya yang semakin padat.  Dua tahun saja kutinggalkan, kota terpadat di Indonesia ini sudah berubah.  Seperti aku, dua tahun di negeri orang telah merubah beberapa hal dalam pola pikirku.  Aku dapat merasakan bahwa aku yang pergi dulu bukan lagi aku yang pulang kini.  Dan aku bangga bahwa perubahan yang kualami adalah perubahan pada kebaikan.

Saat meninggalkan kota ini aku adalah remaja dengan segala gejolak dan emosi, kini aku adalah wanita dewasa yang sangat tahu apa yang kuinginkan dan bagaimana aku akan mengejar impianku, walau aku masih 19 tahun.

Setelah beberapa hari di Jakarta, aku memutuskan untuk kembali ke Malang, kota kelahiranku, sebelum aku memasuki dunia kerja yang akan menyita waktu.  Aku harus pulang untuk menyelesaikan satu masalah yang selama ini tak kuperdulikan tapi teramat penting demi ketenangan jiwaku dan mungkin juga ketenangan jiwanya, lelaki yang telah menyebabkan aku ada di dunia ini.

Ya, aku harus pulang menemui ayahku.  Aku harus mengahiri episode kelabu ini dengan manis dengan bertatap muka secara langsung dan melepaskan pengampunan padanya.  Aku mengemasi pakaian secukupnya kemudian berangkat seorang diri ke Malang.

Dalam perjalanan, aku mencoba membangkitkan kenangan manis tentang ayah.  Tidak banyak – jika tidak ingin mengatakan tidak ada – yang bisa kuingat.  Bagaimana bisa mengingat kenangan saat berusia 3 tahun?

Ibu adalah gadis Jawa yang cantik, putri seorang Ahli Hukum yang punya reputasi bagus di Malang.  Pada usianya yang cukup matang pada jamannya, sekitar 27 tahun, dia bertemu dengan seorang pria ganteng, anak seorang mantan pejabat penting yang kaya raya, ketika itu juga sudah cukup umur, sekitar 30an tahun.  Setelah berpacaran beberapa bulan, mereka memutuskan menikah.  Setahun kemudian lahirlah aku.

Ternyata bahtera rumah tangga orang tuaku tidak kuat diterpa gelombang besar, yang kemudian hancur berantakan menghantam karang.  Karena perbedaan latar belakang keluarga dan nilai-nilai yang dijunjung, banyak konflik yang terjadi yang tidak mampu mereka atasi.  Saat aku masih berusia 3 tahun, mereka resmi berpisah.  Kemudian kakek, bapak dari Ibu, memboyong semua keluarganya pindah ke Jakarta, termasuk ibu dan aku.  Kami tinggal di rumah kakek, di daerah Jakarta Selatan.

Bagiku, Ibu adalah orang yang paling aku kagumi di muka bumi ini.  Dia memutuskan tidak menikah lagi demi memberi kehidupan yang terbaik bagiku.  Ibu tidak mau bergantung hidup pada kakek yang aku yakin masih mampu membiayai kami berdua.  Ibu adalah wanita pejuang yang mau bekerja keras seorang diri untuk membiayai aku dan dirinya.  Aku melihat kerja keras beliau dan merasakan kasihnya yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagiku, terutama bidang pendidikan.  Aku tahu dia punya ambisi tersendiri bagi pendidikanku walau tak dia ucapkan, tapi di atas itu dia lebih mendukung apapun yang kuinginkan.  Itulah Ibuku.

Aku beruntung punya kakek yang berpikiran moderat.  Dia seorang muslim yang telah melampaui doktrin dan lebih mementingkan nilai spiritual.  Kakek penggemar filsafat sehingga melihat segala sesuatu dengan pandangan seorang philosopher.  Bagi dia warna kehidupan ini tidak hanya hitam dan putih saja.  Dia memiliki warna semeriah pelangi dengan spectrum yang luas.  Cara pandangnya terhadap hidup dan kehidupan banyak mempengaruhi tindakan-tindakan yang kuambil dalam menjalani hidup.  Betul ayahku tidak mendampingi dalam masa pertumbuhan, tapi kakek adalah pigur ayah yang sempurna bagiku.  Jadi, tidak benar bila dibilang aku kehilangan pigur ayah.

Memang, ada satu masa dimana aku sangat membenci ayah dan semua yang berhubungan dengan dia.  Aku kecewa karena dia jarang sekali mengunjungiku dan tidak pernah menafkahi aku dan ibu.  Aku kecewa karena aku tahu dia bukan orang berkekuarangan yang tidak mampu membeli tiket ke Jakarta.  Juga ada rasa kecewa karena dia menikah lagi.  Masa-masa itu sangat membebani hidupku.

Tapi kini aku melihat dengan mata yang lebih jelas dan paham bahwa dulu aku kecewa karena dia tidak mendampingi dalam masa pertumbuhanku, sedangkan semua teman memilihi ayah yang dapat mereka andalkan.  Kini terpikir, tidak ada jaminan sekiranya dia ada disisiku mendampingi sepanjang hidupku maka aku menjadi manusia yang lebih baik.  Bisa saja sebaliknya bukan?

Dalam masa pencarian jati diri dan mempertanyakan segala hal, aku banyak berkontempelasi dan mencoba memahami yang telah terjadi dalam garis hidupku.  Dari masa perenungan yang tidak singkat itu – saat remaja hingga aku tinggal di Kanada – aku memahami suatu hal yang sangan fundamental dan memerdekakanku bahwa memelihara rasa benci dalam hati hanya akan membunuhku dari dalam secara perlahan-lahan.  Seperti kanker yang perlahan-lahan mematikanku.  Atau seperti memelihara racun mematikan dalam tubuh.

Kesimpulan dari perenungan itu adalah aku ingin men-detoks racun yang ada dalam tubuhku dengan cara memaafkan Ayah.  Kini aku memandang Ayah dengan persepsi yang berbeda sama sekali.  Dan aku butuh mengunjunginya sebagai konfirmasi pada diriku bahwa aku sudah benar-benar berdamai dengan masa lalu, terutama Ayah.

Malah kini aku berpikir, sekiranya dulu perkawinan orang tuaku baik-baik saja – bukan berarti aku mensyukuri perceraian mereka – aku pasti akan tumbuh dan besar di Malang dan mungkin menjadi anak manja yang arogan, karena aku cucu mantan pejabat tinggi yang disegani dan kaya raya.  Mungkin aku tidak akan pernah mengalami pertualangan dua tahun di Vancouver, Kanada.  Mungkin aku akan bersekolah disekolah terbaik tapi dengan nilai yang pas-pasan, karena semua kebutuhan tercukupi dan tidak ada motivasi untuk segera bekerja sekarang ini.  Dan juga mungkin aku tidak akan semandiri sekarang.  Mungkin aku terjebak pada obat-obatan dan kehidupan yang tidak sehat.  Mungkin dan sejuta kemungkinan lainnya.

Dan inilah aku sekarang.  Aku bangga dengan segala pencapaian yang telah kuraih walau usiaku masih tergolong muda.  Dan yang terpenting adalah aku mampu menerima diriku apa adanya dan aku bahagia dengan segala yang kumiliki.

Saat memasuki rumah Ayah, jelas jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya walaupun aku sudah mempersiapkan diri serileks mungkin.  Ini adalah pertemuan rekonsiliasi.  Aku ingin keluar dari rumah ini sebagai pemenang yang mampu memaafkan dan berdamai dengan Ayah.  Aku tidak ingin tersandera masa lalu.  Hanya itu satu-satunya cara untuk menenangkan jiwa sehingga aku dapat menggapai masa depanku dengan langkah yang lebih ringan.

Begitu kakiku menapak pada ruangan dalam rumah besar itu, mataku langsung menangkap sosok Ayah yang sedang duduk di sofa.  Aku memejamkan mata sesaat sambil menarik nafas untuk menenangkan gemuruh yang tiba-tiba bergejolak dalam dadaku.  Kakiku seperti terpaku pada lantai.  Aku kembali membuka mata dan menatapnya.  Aku sedih.  Sangat-sangat sedih.  Hilang sudah gambaran ayah yang tinggi besar, tegap dan ganteng.  Yang duduk disana itu adalah lelaki tua ringkih, super kurus dengan muka yang tirus dan… buta!!!  Saat itu juga aku dapat merasakan hatiku telah melepaskan pengampunan yang sangat tulus.  Dia tidak perlu meminta, aku sudah mengampuninya.

Aku bisa merasakan dengan nyata bilik gelap dalam hatiku yang dulu terisi dendam, amarah, kekecewaan dan kebencian itu tiba-tiba kosong plong.  Aku bisa merasakan senyata tanganku menjabat tangannya, hatiku telah menjadi ringan dan lebih bersih karena bilik kosong itu kini diisi oleh kasih sayang yang hangat.

Aku memeluk ayah dan dia memelukku.  Kami menangis bersama.  Tangisan yang melegakan.  Bagiku ini adalah tangisan yang telah mengangkat semua bebanku.  Aku yakin, Ayah juga merasakan hal yang sama.  Kini aku bisa melihat dan merasakan bahwa selama ini dia juga sangat menderita dengan semua yang telah dia alami dan lalui.  Aku melihat ada senyum suka cita di wajahnya yang kurus.  Aku menghembuskan nafas kelegaan dengan wajah kemenangan.  Pertemuan ini singkat tapi sangat penting tonggak hidupku dan perjalananku ke depan.  Kini aku bisa berjalan tegak tanpa beban kebencian dan kekecewaan menggayuti bahuku.  Aku akan berlari kencang mengapai cita-citaku.

Satu hal yang tidak pernah terbayang adalah, aku bisa menerima keberadaan ibu tiriku dengan ringan dan juga menyayangi adik tiriku.  Aku merasa dia adalah bagian dari diriku.  Tapi aku tidak ingin mendramatisir keadaan.  Pertemuan ini tidak otomatis bisa menjalin kembali hubungan ayah dan anak yang normal.  Tidak.  Pertemuan ini hanya sebagai rekonsiliasi, untuk saling memaafkan dan berkomitmen tetap menjalin tali silaturahmi.

Bagiku, Ayah dalam tataran konsep tetap kakekku.  Sementara Ayah yang ini hanyalah ayah biologis.  Aku menerima kondisi seperti itu dalam hati yang damai.  Bohong kalau aku mengatakan hubungan kami langsung pulih seperti normalnya ayah dan anak.  Itu terlalu mengada-ada.  Terlalu panjang episode hidupku tanpa kehadirannya.  Aku juga tidak mau menuntut dia membayar tahun panjang keabsenannya.  Aku cukup puas dengan hidupku dan tidak ingin menuntut apa-apa.  Kalaupun aku bisa meminta, itu kutujukan pada Tuhan, semoga Dia memberi kesehatan dan umur panjang pada Ayah.

Aku kembali ke Jakarta dengan hati yang baru yang lebih muda dan segar.  Rasanya aku siap menantang dunia.  Apa pun yang ada di depan siap kuhadapi, termasuk penolakan masyarakat akan cara aku menjalani hidup.

Ya, aku adalah perempuan yang menyukai perempuan dan aku bahagia.

Aku jadi teringat jalan panjang yang kulewati hingga sampai titik sekarang aku berdiri.  Jalan panjang penuh liku dan kebingungan akan orientasi seksualku.

###@@###

  1. II.            Penerimaan Diri

Cara pandang dan philosofi kakek tentang hidup menurun ke anak-anaknya termasuk pada Ibu.  Mereka penganut Islam yang super duper liberal.  Jangan salah, Ibuku mengenakan jilbab loh.  Sejak kecil mereka – Ibu dan Kakek – lebih menanamkan nilai kemandirian dari pada penegasan batasan gender.  Aku tidak pernah mendengar mereka mengatakan ‘anak perempuan tidak boleh begini atau begitu’, atau ‘anak perempuan harus memakai ini dan itu’.  Jadi aku terbiasa memakai atau melakukan apa yang aku sukai.   Aku menjalani semuanya tanpa merasa harus berlaku seperti gadis cilik umumnya yang berbaju, bersepatu bahkan berpita rambut berwarna pink.  Tidak musti aku memakai pakaian perempuan dan teman bermainku pun tidak dibatasi oleh gender.  Aku bebas bermain dengan anak laki maupun perempuan.  Dan aku menikmati masa kanak-kanak yang demikian.

Memang ada kalanya aku marah dengan keadaan karena tidak sama seperti teman-teman lain yang memiliki ayah.  Rasa marah dan kecewa itu aku pendam sendiri.  Tidak sampai hati aku memperlihatkannya pada Ibu yang sudah berjuang sedemikian keras untuk memberikan yang terbaik bagiku.  Bagiku, ibu adalah pahlawanku.  Kalau hanya satu permintaanku yang bisa dikabukan, maka aku meminta untuk kebahagiaan Ibu.

Menurutku tidak ada yang salah dengan didikan Ibu dan Kakek.  Aku merasa didikan yang mereka berikan telah berhasil memberikan fondasi yang kuat bagiku.  Mereka telah memberikan kehidupan terbaik yang bisa diberikan orang tua pada anaknya.  Jadi jika sekiranya ada yang berkata aku menjadi gay karena didikan yang salah dari orang tua, dan perceraian orang tua, aku akan membantah keras pernyataan itu.

Menurutku, orientasi seksual hanyalah bagian dari diriku.  Aku tetap aku.  Aku gay tidak akan merubah apa-apa.  Aku tetap perempauan yang ingin bahagian dan sukses seperti pada umumnya manusia.  Aku tidak memilih gay sebagai orientasi seksualku, tapi juga aku tidak menolaknya.  Aku menerima keadaanku dengan santai dan mensyukurinya.  Adakah yang lebih baik daripada mampu menerima diri sendiri apa adanya?  Tentu ada proses yang panjang dan sakit hingga aku bisa sampai pada tahap sekarang ini.

Aku jadi ingat saat aku duduk kelas 5 SD.  Aku suka sekali menepuk pantat temen cewek.  Membayangkan yang kulakukan dulu, lucu sekali rasanya sekarang.  Saat itu aku tidak sadar dan tidak tahu kenapa.  Rasanya aku tidak bisa menahan tanganku untuk tidak memukul pantat teman perempuan yang aku suka.

Kemudian ketika di SMP kelas 1, aku suka pada salah satu teman cowok.  Dia ganteng dan manis sekali hingga kecewek-cewekan.  Aneh juga aku bisa menyukainya.  Dia memang tidak tahu aku ada rasa padanya dan kami tetap berteman seperti biasanya.  Ketika itu yang aku rasakan adalah, aku selalu ingin melindungi kalau ada yang mengganggunya.  Sekarang aku bingung, kenapa dulu aku bisa menyukainya.  Apakah karena dia cowok?  Berarti aku punya kemungkinan straight.  Atau karena dia cowok kemayu sehingga di mataku sebenarnya dia cewe.  Ah, ribet juga analisanya.  Penasaran juga, di mana dia sekarang ya?  Semoga dia mengalami hidup yang luar biasa.

Kemudian saat aku kelas 3 SMP aku menyukai seorang teman wanita.  Rasa suka itu membawa aku pada pertanyaan yang lebih serius tentang orientasi seksualku.  Apa yang salah?  Mengapa aku bisa menyukai wanita?  Ini adalah periode “questioning” atau mempertanyakan orientasi seksualku.

Seperti umumnya anak-anak gay, jelas aku pun tidak merasa nyaman pada masa-masa itu.  Aku ingat, saat itu aku gemuk, pendek dan hitam.  Keadaan fisikku membuat rasa percaya diriku sangat rendah.  Ditambah lagi dengan perbedaan kebutuhanku dengan teman-teman sejenisku.  Mereka mulai bisik-bisik tentang teman cowok, aku malah lebih memperhatikan mereka yang berbisik-bisik tentang anak cowok dari pada gerombolan anak cowok itu!  Lama-kelamaan aku depresi melihat perbedaanku dengan teman-teman cewek.  Depresi itu berkelanjutan semakin dalam hingga aku merasa asing dengan diri sendiri.  Aku mencoba menyangkal perasaanku.  Aku tidak bisa menerimanya.

Tapi aku ingat saat masih kecil, aku suka sekali membaca komik Sailer Moon.  Pada komik itu ada karakter yang menceritakan percintaan antara dua wanita.  Kini aku sadar, betapa hebatnya komik itu sudah berani menampilkan tokoh lesbian, padahal komik itu di baca oleh anak-anak secara luas di manca negara.  Aku masih ingat dengan jelas, percintaan karakter di komik itu, mereka berpelukan dan ada gambar berciuman.  Ada cincin sebagai tanda pengikat cinta mereka.  Aku melihat mereka pasangan yang sangat indah.  Saat itu terbersit keinginan bahwa suatu saat nanti aku ingin seperti mereka.

Penegasan bahwa aku suka pada anak cewek kudapatkan setahun kemudian.  Ketika itu aku masuk di SMA bertaraf Internasional.  Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah.  Pada saat istirahat aku melihat seorang murid cewek melintas sekitar 5 meter di depanku.  Aku memandangnya tanpa berkedip, mungkin mulutku sedikit terbuka.  Aku tidak sadar diri untuk bebrapa saat.  Seperti istilah Oprah Winfrey, saat itu adalah ‘Aha moment’ ku.  Penegasan bahwa aku memang bener-bener menyukai wanita.  Tidak salah lagi, aku gay.  Akhirnya aku tahu bahwa murid cewek anak kelas dua dari warga Negara Filipina.  Positif, aku menyukai cewek, kakak kelasku.

Aku selalu merasa tidak suka dengan sekolah di Indonesia.  Tepatnya aku tidak menyukai kurikulum dan system pendidikannya.  Aku tidak mengerti mengapa UAN harus sama untuk semua anak.  Apa dasar yang mereka pakai sehingga menganggap otak dan bakat semua siswa sama?  System pendidikan itu seperti mengatakan kalau kamu tidak pintar matematika, maka kamu anak itu bodoh.  Padahal seorang anak tidak bodoh karena dia tidak pintar dalam satu bidang.  Mungkin saja dia jenius dibidang lain, music atau bahasa misalnya.  Bodoh sekali orang yang membuat system pendidikan seperti ini.  Yang menjadi korban adalah anak-anak.  Mereka berusaha memperbaiki kelemahan dalam diri mereka, bukan mengejar apa yang sudah kuat dalam dirinya.  Demikianlah kira-kira system pendidikan di Negara kita tercinta ini.

Aku sangat lemah di matematika.  Aku tidak pandai berhitung.  Tapi aku tidak mau menyebut diriku bodoh, karena aku pintar di bidang lain, misalnya bahasa.  Di sekolahku ada 2 sistem kelulusan siswa, yaitu ikut UAN (Ujian Akhir Nasional) dan O Level Test.  UAN diikuti setelah kelas tiga sedangkan O Level Test dapat diikuti kapan saja dan bila lulus punya kesempatan melanjutkan kuliah di luar negeri.  Aku yakin tidak akan tahan melewati 3 tahun di sekolah ini, sehingga aku langsung mengikuti O Level Test.

Alhamdulillah, aku lulus.  Aku mengirimkan lamaran ke sebuah collage di Vancouver Canada dan diterima.  Tanpa pikir panjang, aku langsung berangkat.  Jadi aku hanya melewati SMA sekitar 4 bulan.  Itulah sebabnya aku sudah kuliah di saat usiaku masih 16 tahun.

Aku ingat saat itu, rasanya keadaan berjalan cepat dan aku membuat lompatan yang besar.  Lompatan yang mengubah hidupku.  Di saat aku masih mempertanyakan tentang orientasi seksualku, aku juga harus merantau ke negera orang, jauh dari ibu dan keluargaku.  Aku memilih kota Vancouver yang lebih bersahabat dengan gay sehingga aku merasa lebih diterima dan bisa berkonsentrasi sekolah.  Vancouver adalah kota yang telah berkontribusi banyak membantuku menetapkan pondasi saat pencarian jati diri dalam masa-masa penuh pertanyaan itu.

Keadaan di Vancouver menuntutku harus bersikap dewasa.  Aku kuliah dan nyambi kerja sebagai pelayan restoran.  Dalam situasi itu aku mulai ‘coming out’ (pernyataan) pada diriku sendiri.  Bagi semua gay, proses coming out adalah pergumulan batin yang terberat.  Dalam hal ini caming out itu sendiri ada beberapa macam atau tingkatan, yaitu coming out pada diri sendiri, kemudian coming out pada sahabat dan orang tua, selanjutnya adalah coming out pada relasi, rekan kerja atau masyarakat terdekat.

Menurutku, coming out yang sangat kritikal adalah coming out pada diri sendiri.  Ini sangat penting karena bermakna mampu menerima diri sendiri dan berdamai dengan hati nurani.  Berdamai itu tidak hanya pada orientasi seksual (itu hanya sebagian), tapi juga berdamai terhadap keyakinan, penampilan, kondisi fisik, selera berbusana, gaya berbicara dan lain sebagainya.

Aku banyak berinteraksi dengan teman-teman gay dan sering berdiskusi dengan mereka.  Satu hal yang menjadi momok terbesar seorang gay hingga membenci dirinya sendiri adalah doktrin agama yang mengatakan homoseks adalah dosa terbesar yang akan berujung pada neraka.  Aku tidak ingin berpolemik atas benar tidaknya doktrin ini, karena sangat tergantung pada individu masing-masing dan latar belakangnya.  Banyak gay remaja yang menghadapi pertarungan batinnya, tentang dosa tidaknya menjadi gay.  Aku sangat prihatin melihat banyak teman yang depresi berat karena tidak mampu mengatasi masalah ini.  Mereka berada dalam dua ekstrim yang bertolak belakang.  Di satu ujung mereka tidak mungkin bisa mencintai lawan jenisnya, tapi di ujung lain doktrin dosa dan neraka menghantui mereka.

Kini aku merasa beruntung dengan philosofi hidup yang ditanamkan kakek dan ibu sejak kecil sehingg aku tidak merasa terbebani oleh doktrin dosa dan neraka itu.  Aku bisa melompati halangan itu dengan mulus.  Aku percaya, Tuhan yang menciptakan aku tidak membenci orientasi seksualku karena Dia yang memperkenankan hal ini terjadi padaku.

Penerimaan diri dalam semua aspeknya dan merasa nyaman dengan fisik sendiri itu mutlak dilakukan.  Saran saya pada gay remaja atau malah yang sudah dewasa, Anda tidak perlu coming out pada orang lain bila proses coming out pada diri sendiri belum selesai.  Jangan buru-buru karena Anda hanya akan memperparah keadaan.  Sebab kehidupan di luar sana jarang bersahabat dengan gay.

Kapankah kita tahu bahwa coming out pada diri sendiri itu sudah selesai?  Saat kita sudah bisa menerima dengan sadar dan merasa nyaman pada diri sendiri sebagai gay.  Pada saat itulah kita sudah selesai dengan diri sendiri dan siap melanjutkan tahap selanjutnya yaitu coming out pada teman atau keluarga.  Bila kita sudah selesai dengan diri sendiri, kita sudah siap dan tidak akan kecewa menerima reaksi yang paling menyakitkan sekalipun.  Kita sudah siap mental dan siap jawaban bila ditanya.  Bila di dalam diri kita sudah selesai, maka tidak akan ada serangan dari luar yang bisa menyakiti kita.  Penolakan dan penghinaan dari orang lain bukan lagi momok yang dapat menghancurkan rasa percaya diri kita.

Aku sudah mengatakan kalau Ibu adalah pahlawanku bukan?  Ibu bagiku adalah segala-galanya.  Hingga aku tinggal di Kanada, aku belum punya keberanian untuk coming out pada beliau.  Tapi aku berjanji dalam hati akan mengatakannya secara langsung saat kami bertatap muka.  Suatu hari – seperti biasanya – Ibu menelpon.  Setelah membicarakan hal-hal rutin dan lain sebagainya, tiba-tiba beliau bertanya apakah aku lesbian.  Aku sempat terdiam.  Bukan karena mau menghindar.  Tapi karena rasanya lebih nyaman sekiranya bisa mengatakannya saat saling berhadap-hadapan sehingga aku bisa dapat melihat reaksinya.  Tapi rupanya coming outku pada Ibu tidak sesuai rencanaku.  Aku harus menjawabnya sekarang.  Kemudian aku menjawab “Iya”.  Aku tidak paham kenapa tiba-tiba aku menangis setelah mengiayakannya, dan Ibu juga ikut menangis.  Kami menangis cukup lama.  Tapi tidak ada sepatah katapun dari Ibu yang menentangku.  Dia menerimaku apa adanya.  Aku putri tunggalnya yang menyatakan diri sebagai lesbian.  Betapa besar ukuran hati Ibuku dan betapa lapang dadanya menerima keadaanku.

Aku menangis karena rasa bersalah.  Bukan rasa bersalah karena menjadi lesbian, tapi karena seharusnya aku yang mengatakan hal tersebut lebih dahulu sebelum dia tanya.  Aku menangis juga karena ada kelegaan dalam hatiku seiring kata ‘iya’ keluar dari mulutku.  Kata ‘iya’ tersebut laksana beban berat yang kemudian terlepas.  Walaupun aku tahu Ibu berpikiran sangat moderat, tapi aku sempat juga ragu.  Bagaimana tidak?   Aku anak beliau satu-satunya.  Aku yakin dia berharapkan suatu saat aku berkeluarga dan mempunyai anak seperti orang-orang pada umumnya.  Aku merasa keberadaanku sebagai lesbian telah menutup semua kemungkinan itu.  Terutama di Indonesia.  Pengakuan perkawinan sesama jenis masih jauh panggang dari api.

Setelah telpon Ibu, aku merasa lega.  Tapi kepikiran juga kenapa sampai beliau menanyakan itu saat menelpon?  Saat itu aku memang tidak bertanya kenapa beliau bertanya seperti itu.  Tapi setelah kupikir-pikir aku teringat paman, adik ibu, yang menetap di San Fransisco.  Pasti Paman yang mengatakannya.  Mereka memang kakak beradik yang sangat terbuka.

Suatu saat ketika sudah di Kanada, aku berkesempatan mengunjungi Paman di San Fransisco.  Seperti sudah kuceritakan di awal, keluarga ibuku sangat terbuka.  Saat berbincang santai dengan Paman – dia tahu aku sangat mengidolakan Ellen De Generes – dia bertanya apakah aku lesbian.  Dengan santai aku pun menjawab, ‘iya’.  Tidak ada rona keterkejutan di wajahnya.  Paman hanya mengangguk dan tersenyum.  Aku mengartikan pertanyaannya itu sebagai konfirmasi saja karena sebenarnya dia sudah melihat “itu” ada pada diriku.  Itu adalah coming out pertamaku pada orang lain.

Setelah itu dengan ringan Paman menunjukkan situs-situs lesbian yang bisa kuakses untuk mendapatkan informasi tentang komunitas lesbian yang ada di sana.  Hanya seperti itu coming outku pada Paman.  Sangat simpel.  Mungkin bagi Paman pertanyaan itu senilai, “Kamu suka model baju apa?”  Kemudian aku jawab, “Sporty”, Lalu dia menunjukkan contoh-contoh baju sporty yang mungkin cocok dengan seleraku.  Tidak ada drama seperti pada umumnya yang dialami rekan-rekan gay.  Dan aku merasa sangat-sangat beruntung mendapat Paman seperti beliau.  Ya, keluargaku memang luar biasa.

Apakah anda mengenal Ellen De Generes?  Ya, dia adalah artis multitalenta Amerika Serikat.  Pelawak, bintang serial tivi, dan pembawa acara terkenal.  Dialah tokoh Lesbian yang aku idolakan.  Dia mengalami masa sulit pada saat coming out pada media, tapi dia dapat bangkit lagi malah lebih sukses dari sebelumnya.  Mengapa aku mengidolakannya?  Apakah karena dia salah satu wanita terkaya di Amerika.  Bukan.  Tapi karena dia seorang lesbian dan “ke-lesbian-annya” tidak menjadikan dia aneh.  Dia seperti perempuan lain pada umumnya.

Menurutku, seperti itulah seharusnya gay.  Menjadi gay tidak membuat engkau aneh.  Kalau memang engkau hendak menjadi eksentrik, eksentriklah karena pekerjaanmu, atau hobbymu, tapi bukan karena orientasi seksualmu.  Gay berasal dari masayarakat dan hidup di tengah masyarakat.  Tidak aneh.

Aku senang saat akhirnya Ellen resmi menikahi pacaranya, artis cantik dan juga terkenal, Portia De Rossi, yang sekarang berubah nama menjadi Portia De Generes.  Mereka kini menjadi pasangan Lesbian yang paling terkenal dan banyak dikagumi, tidak hanya dari kalangan gay juga masyarakat secara umum.  Bagiku mereka adalah simbol yang baik sebagai kampanye kehidupan gay yang sehat bagi masyarakat umum.  Jelas suatu saat aku pun ingin punya pasangan dan hidup bahagia seperti mereka.

###@@###

  1. III.           Romantika

Berbicara tentang pasangan hidup, aku bukanlah orang yang gampang jatuh cinta, tapi aku memang gampang jatuh hati.  Tahukan bedanya?  Karena terlahir sebagai anak tunggal yang dididik mandiri, aku tumbuh menjadi anak yang kuat.  Karena anak tunggal, ada kekosangan dalam hati yang ingin selalu kupenuhi dengan berteman dengan banyak orang.  Orang yang mengenalku pasti mengatakan aku orang yang suka bergaul.  Dan itulah aku.  Aku gampang menjalin komunikasi dengan semua lapisan.  Aku selalu mencari orang untuk kuajak berbicara.  Bila duduk sendirian di café, aku akan mengajak ngobrol pelayan-pelayan di café itu.

Ada sisi dalam diriku untuk selalu ingin mengulurkan tangan pada yang membutuhkan.  Aku pikir itu muncul karena rasa sepi yang sejak kecil yang aku rasakan.  Itulah makna dari pernyataan gampang jatuh hati.  Sementara untuk urusan jatuh cinta saat pandangan pertama baru dua kali kurasakan.  Pertama pada gadis Filipina kakak kelasku saat SMA.  Dan yang kedua adalah gadis bule yang ku kenal ketika di Vancouver.

Aku bukan orang yang pemalu, malah selalu membuka diri.  Saat di Kanada, aku join di situs pertemanan (dating) lesbian.  Tujuan utamaku adalah mencari teman.  Kalau nantinya bisa menjadi pacar itu bonus.  Aku bukan tipe yang agresif yang selalu memulai hubungan.  Biasanya aku hanya menanggapi pesan di kotak suratku, tanpa berniat memulai mencari.  Dari pesan itu dilanjut dengan janji bertemu.  Aku ingat suatu kali aku mendapat surat dari seorang gadis yang ingin berkenalan.  Aku melihat profilenya dan aku langsung suka.  Dia memang 2 tahun lebih tua dariku, tapi kami sama-sama mahasiswa.  Aku merasa kami mempunyai banyak kesamaan.  Kita sebut saja namanya Lauren.

Kencan pertama, kami bertemu di coffee shop jam 5 sore.  Lauren cantik sekali dengan rambut yang dikuncir kecil-kecil.  Hingga saat ini aku masih bisa menggambarkan dengan jelas penampilannya sore itu.  Aku langsung jatuh cinta padanya saat pandangan pertama.  Rasanya aku seperti menemukan belahan jiwa.  Kami langsung klik.  Obrolan mengalir lancar dengan segala macam topik.  Kami punya banyak sekali kesamaan pandangan dan nilai yang kami junjung. Tanpa terasa waktu telah pukul 1 tengah malam.  Aku mengantarkannya ke stasiun kereta, memeluknya dan melambaikan tangan saat keretanya bergerak meninggalkanku sendirian di stasiun.  Aku tetap berdiri hingga kereta itu hilang dari pandangan.  Betapa romantisnya.

Kencan kami berjalan lancar.  Aku sempat main ke apartemennya dan bertemu dengan kakak perempuannya.  Mereka tinggal berdua di apartemen itu.  Aku sangat menikmati hubungan kami karena aku jatuh cinta padanya.  Saat itu Lauren adalah hidupku.  Dan akupun bisa rasakan kalau dia juga punya rasa yang sama seperti yang aku rasakan.

Oh iya, sebelum Lauren, aku pernah kencan dengan cewek bule lainnya.  Tapi tidak ada ‘chemistry’ sama sekali.  Kami berpisah setelah tiga atau empat kali kencan yang tak bermakna.  Aku ke timur dia ke barat.  Tidak ada koneksi sama sekali.  Tidak ada rasa kehilangan saat berpisah.

Suatu hari, entah setan apa yang tiba-tiba merasuki Lauren, dia menelponku dan mengatakan tidak siap dengan hubungan kami.  Dia cuma mengatakan ada sesuatu yang belum selesai dengan pacar yang sebelumnya.  Duniaku tiba-tiba berhenti berputar.  Masa hubungan kami yang baru berjalan 3 bulan ini harus berakhir?  Kami sama sekali tidak pernah berselisih paham.  Semua baik-baik saja kok!  Aku tidak bisa terima.  Di sinilah drama di mulai.  Patah hati pertama yang aku rasakan.  Aku sempat depresi.  Syukurnya aku mampu segera keluar dari kondisi itu.  Aku kembali ke fokus awal, yakni kuliah, dan bekerja sebagai pelayan restoran dalam waktu senggang.

Setelah kembali ke Jakarta aku sempat dua kali pacaran.  Yang pertama tidak berjalan baik karena dia ketahuan berselingkuh di belakangku.  Kami putus.  Tidak ada deperesi atau patah hati, karena aku memang tidak jatuh cinta padanya.  Hanya jatuh hati karena kegigihannya mengejarku.

Kemudian aku ketemu seorang gadis disebuah acara.  Dia mengaku straight.  Sebutlah namanya Indah.  Ketika itu aku berumur 19 tahun dan dia 31 tahun.  Aku terus terang padanya bahwa aku lesbian.  Aku memang sudah coming out ke semua orang termasuk bossku di tempat kerja.  Tidak ada masalah yang kuhadapai sejauh ini.  Akupun sama sekali tidak ada niat merayunya karena aku tidak jatuh cinta padanya.  Umur kami juga berbeda 12 tahun.  Aku hanya ingin berteman saja.  Tapi lucunya, malah dia yang selalu ingin bertemu denganku.  Dia pula yang lebih dulu mengutarakan jatuh cinta padaku.  Bahkan saat pertama kali bertemu dia sudah merasakan itu.

Jujur saja aku tidak jatuh cinta padanya.  Aku hanya menyukainya sebagai teman baik atau sahabat.  Tapi karena aku melihat keseriusannya, aku mau mencobanya.  Dan cinta itu akhirnya tumbuh tanpa kusadari.  Aku mengatakan jatuh cinta padanya saat kami merayakan ulang tahun pertama hubungan kami.

Karena satu dan lain hal, akhirnya kami mengakhiri hubungan kami setelah berjalan dua tahun.  Walaupun kami putus, tapi kami masih tetap bersahabat.  Kami masih bertemu untuk makan malam bareng atau sekedar ngopi.

Kemudian visa bekerja yang kuajukan ke Kedutaan Kanada disetujui.  Desember ini aku akan berangkat untuk tinggal dan bekerja di sana.  Aku merasa sangat diberkati.  Aku sudah membayangkan akan tinggal di sebuah perkampungan lesbian di Vancouver.  Aku sangat semangat untuk memulai kehidupanku di sana.  Aku berharap suatu saat bertemu dengan wanita yang kucintai, dan aku juga berdoa semoga Indah bertemu dengan pasangan hidup yang dia cintai dan mencintai dia, entah itu lelaki atau perempuan.

Sebagai penutup, aku punya kerinduan untuk memberi bantuan atau advokasi bagi remaja gay yang kebingungan akan orientasi seksualnya dan juga yang menjadi korban penyiksaan keluarga atau masyarakat.  Semoga suatu saat aku bisa membantu remaja gay Indonesia walaupun aku sudah menetap di Kanada.  Bagaimana caranya, belum terpikir.  Tapi aku yakin suatu saat kelak pasti ada jalan.  Sekiranya Tuhan tidak merestui, aku percaya semesta akan memberkati.

###@@##

Keterangan tambahan dari Penulis:

Wawancara ini dilakukan di Citos pada pertengahan November 2011 dari jam 4 – 8 PM.  Setelah itu Lia ada janji makan malam dengan Indah di café berbeda.  Saat ini sang Lia sudah berada di Kanada.  Semoga dia berhasil dalam cita-cita dan cintanya.  Good luck, buddy!

Penulis,

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Cerpen, Novel & Non Fiksi and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s