Kandang Domba Di Hati

Di malam yang syahdu ini, saya mau beri tahu

Suatu kisah yang sesungguhnya bukan baru

Tak bosan di ulang sebelum tahun baru

Banyak yang sudah tahu, banyak pula yang tak mau tahu

Kisah ini berlangsung pada abad pertama

Mengambil tempat nun jauh di Tanah Judea

Kala itu kehidupan masih sangat sederhana

Belum ada telpon, belum ada mobil, apa lagi pesawat udara

Suatu hari Kaisar Agustus bertitah:

“Masing-masing orang harus di sensus di kotanya sendiri!”

Hanya sebaris perintah Sang kaisar

Tapi menjadi perjalanan jauh yang sangat melelahkan

bagi sepasang anak manusia

Sahabat,

Seberapa jauhkan engkau sanggup menapak kaki sehari semala

Berapa harikah yang engkau butuhkan untuk menempuh jarak sekitar 80 km?

Apalagi ditemani seorang perempuan yang cuma bisa duduk terhuyung-huyung

di atas punggung seekor keledai karena sedang mengandung

tinggal tunggu hari untuk bersalin.

Malam itu cuaca sangat dingin, aat kaki mereka menapaki kota Betlehem

Sang suami sudah berusaha kesana kemari mencari kamar penginapan

Sungguh bingung dan panik pasangan itu ketika tak ada satu pintu pun sudi terbuka

Karena tampilan mereka yang lusuh menyiratkan kemiskinan

Sementara Sang Bayi sulung sudah tak betah tinggal lebih lama dirahim sang Bunda

Ooo… alangkah kumuhnya kandang itu!

Alangkah gatalnya jerami itu!

Bagaimana mungkin seorang Raja lahir di tempat sehina itu?

Sahabat, siapakah yang tahu pikiran TUHAN?

Celakalah engkau manusia, yang seumur hidup mendewakan harta!

Binasalah engkau golongan terhormat yang mengunci pintu bagi kedatangan Juru Slamat!

Karna suka cita sorgawi tidak dikabarkan bagimu!

Berbahagialah engkau hai para gembala,

Bersukacitalah engkau, hai keledai, kambing, domba, sapi dan sebagainya

Sebab Raja Damai itu lahir dengan cara yang paling hina agar semua orang layak datang pada-Nya!

Saudaraku, … adakah yang bisa membaca pikiran TUHAN?

Berbanggakah engkau jadi pendudukkotaBetlehem yang makmur?

Aku berkata kepadamu : “Bertobatlah, dan buka pintu hatimu!”

Bukankah lebih baik jadi seekor keledai dungu,

Tapi setia mengantar Bunda ketempat persalinan

Bukankah lebih terhormat, jadi domba, kambing atau sapi, yang menyaksikan proses kelahiran Bayi Kudus?

Bukankah lebih berbahagia jadi gembala, yang diundang resmi lewat malaikat Tuhan menjadi saksi kedatangan Juru Slamat?

Sahabat, sekarang saatnya, bukalah hatimu!

Buatlah kandang domba di dalamnya

Agar bayi kudus itu sudi lahir disana!

Selamat hari natal, Maranata… Amin!

By Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Poem and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s