Selamat Jalan, Om! Tenang kini jiwamu bersama Sang Khalik!

Pagi ini saat mengerjakan kerjaan, seperti biasa aku sambi dengan bbm-an dengan teman atau bercanda di group BBM.  Ternyata ada 2 berita duka pagi ini, keduanya dari teman kuliah.  Satu adalah mertua Sandy dan satunya lagi adalah bokap sahabatku, Yulia Lindholm.

Jelas ada rasa syok karena aku kenal banget Om (bokapnya Yaya / Yulia).  Pertama kali menetap di Jakarta, aku tinggal di rumah Yaya di Kelapa Gading, sehingga aku kenal semua saudara2nya dan orang tuanya.  Dan aku merasa dekat dengan Om.  Dia orangnya ramah dan sangat kebapakan, seperti bapakku rasanya.

Ketika itu, di suatu hari Minggu,  aku pernah menemaninya ke kebun di Pandegelang, kami bertiga dengan sopir.  Kini jelas teringat dalam benakku, saat kami bertiga makan di rumah kosong di tengah kebun itu.  kami membawa bekal makanan yang banyak dari Jakarta.  Mulai dari Jakarta, saat di kebun dan saat pulang, kami saling bercerita hangat.  Om bercerita tentang pekerjaannya sebagai apoteker dan pengalaman-pengalamannya yang lain.  Dan dia juga banyak bercerita tentang rasa bangganya pada putrinya yang bernama “Yulia/ Yaya”.

“Yaya, gw lupa apakah gw pernah menceritakan ini ke elu.  Pada kesempatan ini gw mau mengatakan bahwa Om sangat bangga sama elu.  Jadikan ini pengingat akan dia.” 

Tadi sempat chatting dengan Yaya yang 10 tahun terakhir ini menetap di Swedia.  Tentu dia sangat sedih karena tidak bisa pulang. (dia baru pulang lebaran yang lewat, Agustus 2011).  Semua anak pasti sedih dengan kepergian orang tua yang dikasihi, terutama bagi anak-anak yang tinggal jauh dan tidak memungkinkan pulang.

Aku jadi ingat dengan kepergian bokap 1o tahun yang lalu, 21 Januari 2001.  Tanggal yang cantik bukan?  Ketika itu aku gak ngerti dengan perasaanku.  Bokap meninggal di depan mataku karena setahun terakhir dia bersamaku.  Dia sakit stoke (seperti bokap Yaya).  Aku melihat penderitaannya setiap hari.  Aku yang mengantar dia bolak balik ke rumah sakit, bersama nyokab dan saudara2 lain tentunya.

Saat itu aku sangat berharap Tuhan memberikan muzijat sehingga bokap bisa sembuh seperti sedia kala.  Tetapi aku sadar, keinginanku bukan kehendak Tuhan.  Akupun merubah pokok doaku setiap hari, “Bila Tuhan berkenan berikan kesembuhan total buat bapakku, tapi bila Tuhan menginginkannya pulang ke rumah Bapa di sorga, kami merelakannya.” Dan tiga hari sebelum kepergiannya aku diberi semacam pengetahuan.  Dan tanpa sadar aku bilang ke adikku “Bapak akan pergi tidak lebih dari 3 hari ini.” Dan ternyata benar, dua hari kemudian, di hari Minggu jam 10 pagi, dia pergi.  Saat aku ingin memberinya minum, dia sudah tidak ada.

Aneh juga ketika itu, aku sama sekali tidak menangis.  Aku cekatan menelpon semua sodara, om dan tante, juga teman gereja.  Pun besoknya aku tidak menangis. Pun saat kami bawa pulang ke Balige untuk dikubur disana.  Aku mulai menangis sesunggukan saat pulang ke Jakarta.  Aku menangis melihat tempat tidurnya dan obat-obatan yang tersisa.  Dan sampai sekarang aku masih menangis kalau mengingat masa-masa itu.

Menurut Dr. Elisabeth Kulber-Ross, ketika kita sedang menderita karena kehilangan orang yang kita kasihi, (Juga kehilangan pekerjaan dan kehilangan2 lainnya) kita semua akan melewati 5 tingkatan berduka, The Five Stages of Grief – Grief Cycle, yaitu: Denial, Anger, Bargaining, Depression, Acceptance.  Urutannya memang tidak selalu persis seperti itu.  Anger dan bargeningku sudah berjalan saat melihat dia masih sakit.  Aku denial saat dia sudah kulihat pergi, dan kemudian aku depressi setelah pulang menguburkannya.  Dan kurasa aku setelah itu aku bisa menerima semuanya dengan baik kini.

Menurutku, penghiburan apa pun yang kita ucapkan pada orang yang dalam masa denial pasti akan sulit diterima.  Ketika ada kebaktian malam penghiburan –saat itu aku lagi depressi- semua mengucapkan kata2 bernada sama, tapi saat itu yang ingin kuucapkan adalah “Shut your mouth up!”  Artinya, tak perlulah semua mengucapkan “begini begono” pada orang yang sedang berduka, apa lagi kalau terlihat dia mengucapkan itu karena tugasnya sebagai paman, tante dll.  Tidak terdengar tulus.

Yang sangat dibutuhkan orang yang sedang berduka adalah seseorang disampingnya dan “shoulder to cry on”.  Kita tidak perlu mengumbar kata-kata penghiburan, seperti  “Tuhan bla-bla… dan bla…” itu tidak akan masuk.  Hanya akan menjadi kontra produktif.  Cukup kita ada, hadir disampingnya.  Itu saja.  Merasa tidak sendiri saat berduka itu sangat berarti.  Saat seperti itu kita akan mengerti arti, teman untuk tertawa itu banyak, tapi teman menangis bersama itu yang akan diingat selamanya.

Anyway, siapa yang dapat menghindari ajal?  Tiada yang pasti di bumi ini kecuali kematian.  Hanya saja dia selalu datang seperti pencuri, dia mengambil di saat yang tidak kita sangka.  Bila tidak sebentar lagi, esok lusa, ajal itu pasti akan datang.  Siap-siap sajalah!  Aku sering bilang pada ibuku, sekiranya aku mati duluan…  dan Ibuku tidak suka kalau aku ngomong seperti itu.  Aku sudah belajar, kematian itu sebenarnya tidak mengerikan.  Hanya pergantian wadah kita sebagai pengembara.  Saat ini kita mengembara dengan fisik yang bisa disentuh, nanti kita akan mengembara dengan ROH.

Selamat jalan Om… Engkau sudah menyelesaikan tugasmu di dunia yang fana ini.  Hilang sudah segala rasa sakit yang engkau rasakan.  Tenang kini jiwamu bersama Sang Khalik!  Kamilah yang seharusnya ditangisi karena masih berjalan terlunta-lunta sebagai pengembara di dunia yang penuh rasa sakit ini.  Sampai bertemu kembali, Om!

Jakarta, 20 December 2011

Mery DT.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Friendship and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s