Semua Normal dalam Term Seksual

 Seperti telah saya bicarakan pada tulisan sebelumnya, bila kita membicarakan seksualitas maka ada terminology umum yang dipakai untuk membedakan orientasinya yakni heteroseks dan homoseks.  Heteroseks adalah orang yang menyukai lawan jenis, sementara homoseks adalah orang yang menyukai sesama jenis.  Dalam membicarakan seksualitas, saya selalu menghindari penggunaan kata ‘normal’ pada sebuah kelompok.  Karena dengan memberikan lebel normal pada satu kelompok berarti ada kelompok yang ‘tidak normal’.  Hanya karena jumlah mereka kecil bukan berarti homoseks tidak normal, bukan?  Itu tidak etis rasanya. 

Apa itu batasan normal?  Pada kasus seksualitas pasti ukuran normal adalah kuantitas dan menurut dogma agama.  Bagaimana bila disuatu tempat lebih banyak yang homoseks dan atheis, berarti mereka yang menjadi normal dong?  Berarti yang heteroseks yang menjadi tidak normal ya? 

Itulah sebabnya saya kurang setuju dengan pemakaian kata normal.  Menurut saya batasan normal dapat berubah seiring dengan perkembangan jaman.  Dan ukurannya tidak sama pada tiap budaya dan pola pemikiran masyarakatnya.  Sehingga terminologi ‘normal’ dan ‘tidak normal’ tidak tepat dipakai dalam menjelaskan kelompok seksualitas. 

Jika kita mengatakan normal menggambarkan ke-alamiah-an, maka apapun orientasi seksualnya pastilah natural.  Homoseks tidak hanya ditemukan pada manusia, juga hewan atau satwa.  Ratusan jenis satwa/hewan sudah ditemukan ada yang homoseks.  Jadi dengan kata lain, homoseks adalah natural.  Cek link ini untuk mengetahui hewan apa saja yang ditemukan homoseks. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_mammals_displaying_homosexual_behavior

Ada yang menyebut kondisi tersebut karena kesalahan genetika.  Kesalahan gen bukan berarti tidak natural atau tidak normal bukan?  Mata juling adalah karena kesalahan gen.  Apakah dia menjadi tidak normal dan tidak natural? 

Saya sebenarnya tidak pernah ingin membawa-bawa urusan seksual pada wilayah agama karena akan terjadi debat kusir dan berujung pada lebel kafir atau pendosa.  Tapi demi penjelasan maksud, saya akan singgung sedikit.  Kalau sekiranya homoseks adalah kesalahan dan dosa pada Tuhan, maka akan muncul pertanyaan, kenapa Tuhan yang Maha Kuasa tidak sejak awal menciptakan semua manusia heteroseks.  Jadi jelas terlihat otoritas Tuhan dalam penciptaan.  Ada juga yang mengatakan bahwa keadaan menjadi gay tidaklah dosa, tapi perbuatan melakukan hubungan sejenis itu yang dosa.  Waduh, kejam sekali ya?  Masak Tuhan memberikan gairah seks tapi tidak dapat dinikmati karena dosa? 

Bila kita memakai data survey lama yang mengatakan sekitar 10% manusia adalah gay, bila penduduk bumi ada 6 miliar orang, maka ada 600 juta orang yang tidak diperkenankan menikmati gairah seks karena mereka berdosa bila melakukannya.  Banyak banget ya manusia yang menderita karena harus menahan birahi padahal mereka bukan rohaniawan/ti keagamaan.  Tuhan tega amat…!!!  Padahal menurut survey terbaru jumlah gay bisa mencapai 24%!!!  Berapa miliar orangkah yang tersiksa dengan gairah seks nya?  Padahal manusia itu secara naluri adalah mahluk seksual.

Itulah sebabnya saya tidak ingin membawa-bawa dogma agama dalam pembahasan seksualitas.  Perdebatan ini akan sangat panjang dan melelahkan.  Satu kelompok membawa spiritual dan satu kelompok membawa ilmu pengetahuan.  Sulit mencari titik temu.

Menurut sejarah, pernah suatu masa di beberapa kelompok masyarakat, orang kidal diasiosasikan pada kelompok yang negative.  Mereka disebut sinister yang berasal dari bahasa Latin ‘sinistra’ yang berarti ‘kejahatan’ atau orang yang berperuntungan buruk.  Sementara orang yang bertangan kanan disebut ‘dexter’ yang berarti skill atau ‘keahlian’.  Mereka adalah golongan yang positive dan normal. 

Menurut data statistik ada 10% orang kidal di seluruh dunia.  Dapat dibayangkan bukan bagaimana susahnya hidup penyandang kidal pada masa itu.  Mereka termasuk orang-orang yang digolongkan ‘tidak normal’ dan dimusuhi oleh lingkungannya bila terlihat menggunakan tangan kiri, untuk melakukan hal yang umum dilakukan dengan tangan kanan.  Apakah Anda bisa membayangkan bagaimana seorang kidal harus memaksakan diri menggunakan tangan kanan untuk menulis?  Bila anda tidak dapat membayangkannya, cobalah anda menulis dengan tangan kiri.  Sulit ya?  Demikian juga susahnya orang yang kidal harus menggunakan tangan kanannya.  

Seiring kemajuan ilmu pengetahuan, manusia dapat membuktikan secara ilmiah bahwa orang menjadi kidal bukan karena kemasukan roh jahat, tapi karena faktor genetik.  Pendapat yang mengatakan tangan kidal adalah tidak normal akhirnya dapat dipatahkan. 

Saya yakin suatu saat nanti masyarakat juga dapat menerima kaum homosex seperti menerima kaum kidal.  Tapi saya tidak bisa memprediksikannya kapan. 

#this article I written as my support to gay people#

Jakarta, November 15, 2011; 2.40 AM

Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s