Orientasi seksual berdasarkan Skala Kinsey

Skala Kinsey (The Kinsey Scale) juga disebut Skala Rating Heteroseks – Homoseks yang berusaha menggambarkan sejarah seksual seseorang pada waktu tertentu.  Skala ini adalah salah 1 dari 200 skala yang dibuat oleh ahli seksologi yang mencoba menggambarkan varian orientasi seksual yang ada pada manusia.  Hingga saat ini Skala Kinsey yang dibuat oleh Dr. Alfred Kinsey masih dianggap skema penggambaran diversitas / keragaman seksual manusia yang paling mudah dipahami.

  • Skala 0    :  Heteroseks murni.
  • Skala 1   :  Dominan Heterosex, tanpa sengaja punya pengalaman berhubungan dengan sesama sejenis.
  • Skala 2   :  Dominan Heterosex, punya pengalaman beberapa kali berhubungan dengan sesama sejenis.
  • Skala 3   :  Biseks; ketertarikan pada lawan jenis dan sesama jenis sama kuatnya.
  • Skala 4   :  Dominan Homosex, punya pengalaman beberapa kali berhubungan dengan lawan sejenis.
  • Skala 5   :  Dominan Homoosex, tanpa sengaja punya pengalaman berhubungan dengan lawan sejenis.
  • Skala 6   :  Homoseks murni.

Skala tersebut menunjukkan 3 kelompok besar yaitu: Heteroseks – Biseks – Homoseks

Dr. Alfred Kinsey telah melakukan penelitian di Amerika pada tahun 1948 dan 1953.  Jumlah responden adalah 5300 pria kulit putih dan 5940 wanita kulit putih, Alfred Kinsey menemukan secara umum adalah sebagai berikut:

  • Skala 0 (Heteroseks murni) adalah 71%
  • Skala 1-5 (Biseks) adalah 23%  (15% di Skala 1)
  • Skala 6 (homoseks murni) adalah 6%

Data yang dianggap menarik adalah sebagai berikut:

Pria : 11,6%  usia 20-35 tahun menandai skala 3 (Biseks); 10% usia 16-55 tahun menandai skala 5 & 6.

Wanita : 7% wanita single usia 20-35 thn dan 4% wanita menikah usia 20-35 tahun menandai skala 3 (Biseks); 2-6% wanita menikah usia 20-35 thn menandai skala 5; 1 -3% wanita tidak menikah usia 20-35 tahun menandai skala 6.

Harus diingat penelitian itu dilakukan pada tahun 1948 dan 1953 dimana stigma negative pada kaum gay masih sangat tinggi.  Mereka dianggap kelompok pendosa, najis, mengidap gangguan jiwa dan lain sebagainya.  Dengan stigma yang sangat buruk itu orang cenderung menutupi diri walau pada survey.  Bila kaum biseks masuk pada golongan gay, maka jumlah gay saat itu nyaris 1/3 jumlah responden.  Tapi menurut saya no 1 & 2, terutama no. 1 tidak dapat dikatakan gay karena kejadiannya hanya 1 atau 2 kali.  Mereka tetap dominan ke heteroseks.  Seperti sering orang bilang punya hubungan sekali dengan sesama jenis tidak menjadikan engaku gay.  Jadi kalo no 1 & 2 bukan gay, maka jumlah gay tentu lebih kecil lagi.

Sekarang mari kita cermati survey lain yang dilakukan lebih baru dan hasilnya cukup mencengangkan!

National Survey of Sexual Attitudes and Lifestyles (NATSAL)

Penelitian National Survey of Sexual Attitudes and Lifestyles (NATSAL) dilakukan pada tahun 1989 – 1990 di seluruh Inggris Raya dengan responden sekitar 19.000 orang.  Survey dengan topik yang sama diulangi 10 tahun kemudian yakni pada tahun 1999-2000 dengan responden 11.000 orang.  Hasilnya sangat menarik karena prilaku seksual berubah.

Hasil survey tersebut menunjukkan dengan jelas perubahan prilaku dan orientasi seksual manusia.  Perubahan yang sangat signifikan tampak pada kelompok wanita.  Angka yang sangat fantastik bukan?  Saya sangat penasaran hasil survey tahun 2010.

Apa kata ahli tentang perubahan angka ini?  Seperti saya sudah jelaskan di artikel sebelumnya ….  Bahwa nyaris semua ahli dan pelaku riset/studi yang dihormati sepakat bahwa prilaku sexual adalah kombinasi dari faktor sosial, biologi dan psikologi.

Saya terpancing untuk membuat kesimpulan sendiri yang menarik dengan mengaitkan ketiga faktor diatas dengan Skala Kinsey.  Saya katakan kesimpulan sendiri karena saya belum menemukan ada ahli yang menyimpulkan demikian (atau saya yang belum menemukannya).  Bahwa ketiga faktor tersebut ada di dalam setiap tingkatan skala hanya saja kekuatan dari masing-masing faktor berbeda sehingga menghasilkan adonan yang berbeda pula.

Misalnya pada skala nomor 6, factor biologi atau genetic sangat dominan sehingga tindakan apapun yang dilakukan terhadapnya tidak akan pernah dapat membuatnya menyukai lawan jenis.  Kelompok ini berhak mengatakan mereka “terlahir gay”.  Demikian juga pada kelompok skala nomor 0, mereka berhak mengatakan “terlahir heteroseks”.  Merubah gay menjadi heteroseks sama sulitnya dengan merubah heteroseks menjadi gay.

Pada titik ini saya harus katakan pada orang tua yang tidak menerima keberadaan anaknya yang gay, belajarlah!  Mereka tidak akan berubah walau didoakan puluhan alim ulama atau rohaniawan.  Terima saja mereka apa adanya.  Gay hanya identitas, tidak akan merubah sifat dan siapa dia.  Baik tidaknya prilaku seorang anak berpulang pada pola asuh dari orang tua sejak bayi dan faktor lingkungan (sekolah dan tempat tinggal).  Bila Anda mendidiknya dengan baik, maka dia akan tetap anak baik walaupun dia gay.  Tapi bila Anda tidak memberi didikan yang baik, anak Anda akan tidak baik apapun orientasi seksualnya.

Yang menarik dari faktor-faktor tersebut pada skala 1 – 5.   Di sini komposisi ke tiga factor tersebut bervariasi sehingga menghasilkan skala 1-5.  Saya kurang setuju bila no 1, 2, 4 dan 5 disebut biseks karena mereka kemungkinan tertarik pada lawan jenis atau sesama jenisnya karena factor tertentu yang kuat.  Misalnya kedekatan emosional.  Dan dia hanya punya prasaan itu pada orang tersebut, tidak pada semua orang.  Rasa empati terhadap permasalahan teman berlanjut pada kedekatan yang mendalam, baik yang sejenis ataupun lawan jenis bisa menimbulkan rasa suka dan dorongan seksual.

Saya lebih setuju mengelompokkan heteroseks di no 0-2, Biseks no. 3 dan homoseks no. 4-6.

Mengamati kejadian pada kelompok 1-5 ini memang menarik dan sering terjadi silang pendapat.  Misalnya ada gay yang berubah menjadi straight atau sebaliknya straight menjadi gay.  Penyebutan heteroseks dan homoseks itu memang terlalu sempit.  Ketertarikan seksual itu tidak bisa hanya dikelompokkan kedalam 2 wadah saja.  Diversitasnya lebih luas dari itu.  malah ada ahli yang membuat sekala diversitas hingga 10.

Kita tentu pernah mendengar ada orang yang pada masa tuanya berubah menyukai sesama jenisnya.  Akan terlalu premature bila kita menyebut dia gay.  Bisa saja dia tertarik dengan sejenis karena faktor psikologi.  Seperti kata Profesor Stevi Jackson, Seksualitas itu cair.  Dia mencari zona nyaman (perasaan) bersama orang yang bisa mengerti dia dengan sepenuhnya.  Pria tentu lebih memahami pria, demikian juga wanita lebih memahami wanita.  Itu salah satu dasar mengapa terjadi hubungan sejenis.

Beberapa kali saya pernah mendengar orang berkata (bahkan saya juga dulu percaya demikian) kaum gay selalu berusaha menggoda kaum straight.  Mungkin benar juga.  Tapi siapa yang tidak?  Kaum heteroseks juga melakukan yang sama bukan?  Saling menggoda itu biasa selama tidak berlanjut pada pelanggaran susila.  Kalau tidak suka bilang saja tidak suka.

Seperti saya katakan di awal, mengubah straight (murni) menjadi gay sama sulitnya seperti mengubah gay (murni) menjadi straight.  Jadi bagaimanapun kerasnya usaha seorang gay mengubah seorang straight, kalau dia berada di skala 0 maka dia tidak akan pernah bisa diubah.  Yang kebanyakan terjadi adalah, si straigt itu mungkin ada di skala 1 atau 2, sehingga dia tergoda untuk mencoba hubungan lain dari yang biasa dia lakukan.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut.  Tapi akan menjadi masalah ketika dia menyukai hubungan itu tapi tidak mau mengakuinya, kemudian menyalahkan orang lain yang menyebabkannya jadi gay.  Kalau hanya karena satu atau dua kali hubungan dengan sesama jenis, Anda masih straight kok.  Anda masih bisa kembali dengan lawan jenis kalau menginginkannya.  Tapi kalau Anda lebih menyukai hubungan dengan sesama jenis, nikmati saja, jangan menyalahkan orang lain.

Sebaliknya ada orang yang sudah nyata-nyata gay, kemudian karena beberapa sebab dia memutuskan menikahi lawan jenisnya.  Seperti yang dilakukan Sang Jagal, Ryan dari Jombang.  Konon kabarnya dia ingin menikah karena alasan ingin menjalankan syariat agama.  Itu tidak masalah, itu haknya.  Menurut saya, dia mungkin di skala 5.  Secara seksual, dia memang mampu menikahi lawan jenisnya.  Hanya saja saya kurang yakin dia dapat total berubah menjadi straight.  Seorang homoseks (terutama skala 4 & 5) mampu menikahi lawan jenisnya karena suatu factor misalnya agama, keluarga, lingkungan sosial, dll.

Menurut saya, orang tua mempunyai andil yang cukup besar dalam pembentukan hasrat seksual si anak.  Selain factor genetic, lingkungan sangat berpengaruh.  Orang tua yang sering bertengkar, ayah yang melecehkan ibu atau ibu yang melecehkan ayah, absennya peran ayah atau ibu dalam keluarga,  memasukkan anak ke dalam asrama yang ketat dan tidak bisa berhubungan dengan lawan jenis, pernah disodomi waktu kecil, bisa  menjadi salah satu factor pemicu anak menjadi gay.  Sungguh ironi bukan, di kala orang tua membentengi anaknya dari pergaulan dengan lawan jenisnya dengan cara memasukkannya ke dalam asrama misalnya, tapi berakhir dengan hubungan sesama jenis.

Bila masyarakat kita tidak memberi stigma buruk pada kaum gay, maka tidak akan ada masalah bila si anak menjadi gay atau straight.  Tapi masyarakat kita masih belum ramah terhadap kaum gay.  Kalaupun tidak menganiaya secara fisik, tapi memandang mereka seperti orang berpenyakit menular dan aneh.  Itu penganiayaan tersendiri yang dampaknya tidak kecil bagi mental anak-anak gay.  Stigma ini juga yang menyebabkan banyak remaja gay mengakhiri hidupnya dengan cara-cara tragis.  Saya akan membahas dan memberika angka statistic tentang bunuh diri remaja gay di tulisan lain.

Menurut saya, orientasi seksual itu hanya masalah rasa atau pilihan.  Ada yang suka manis, asam, pedes, asin dan lain sebagainya.  Bisa saja hari ini dia suka manis besok suka asam.  Atau seumur hidup dia suka asin.  Tidak perlu di salahkan apa pun pilihannya.  Orientasi sexual sebagai pilihan atau pun tidak, juga tidak layak di diskriminasi.

Jika orientasi seksual bukan pilihan, diskriminasi terhadap gay sama seperti diskriminasi terhadap seseorang karena warna kulitnya, dia tidak bisa memilih berkulit hitam, berwarna atau putih.   Kalaupun orientasi seksual adalah pilihan, diskriminasi pada gay sama dengan diskriminasi pada orang karena agama yang dianutnya atau jenis musik yang dia sukai atau busana yang dia pakai.  Apapun itu, pilihan atau pun tidak, diskriminasi terhadap gay adalah tindakan yang memalukan.

Orientasi seks seseorang tidak dapat dilihat dari penampilan kesehariannya.  Lelaki kekar dan jantan belum tentu straight.  Pria yang tampak kemayu ternyata menikah dan punya anak.  Tomboy belum tentu lesbian.  Perempaun yang sangat feminin belum tentu straight.  Banyak contoh artis terutama dari Amerika yang membuat kita ternganga.  Misalnya Ricky Marthin dan Goerge Michael ternyata gay.  Portia de Rossi dan Chely Wright yang cantik dan feminine ternyata Lesbian.  Tokoh biseks yang paling terkenal adalah Angelina Jolie.

Pada akhirnya, yang paling dicari manusia dalam hidup adalah CINTA.  Cinta akan indah bila binarnya terpancar dari mata orang yang saling mencintai, tidak perduli bila pasangan itu straigt atau gay.

Jakarta, November 04, 2011

Mery DT

Source:

  1. The Kinsey Institute; http://www.kinseyinstitute.org/about/index.html
  2. How many gay people are there; http://www.avert.org/gay-people.htm
  3. Homoseks, Bisa Karena Lingkungan; http://nasional.kompas.com/read/2008/03/28/02170012/Homoseks.Bisa.Karena.Lingkungan
  4. Is Sexual Orientation Fixed at Birth?; http://www.narth.com/docs/bornway.html
Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Sexual Orientation and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Orientasi seksual berdasarkan Skala Kinsey

  1. irni says:

    mba Mery DT, kalau tidak keberatan, saya mau discuss ttg artikel mba ini, karena saat ini saya lagi meneliti tentang orientasi seksual Gay. so.. saya sangat terima kasih waktu ketemu artikel ini, ternyata ada skala yang sudah paten untuk melihat orientasi seksual. kalau mba Mery tidak keberatan, saya tunggu sambutan hangatnya di email saya irni.psyche@ymail.com

    Like

  2. Pingback: Pergulatan Batin Seorang Bisexual | Apaja means whatever

  3. Pingback: Jumlah Lesbian semakin meningkat di usia remaja? | Apaja

  4. Pingback: Miss Jinjing and Prejudice | Apaja

  5. Pingback: Testimony Pembaca Novel Mariage Blanc dan Questioning Phase | Apaja

  6. Pingback: Review Buku Re: Pelacur Lesbian | Apaja

  7. lynn says:

    saya perempuan 22 tahun dan seorang mantan lesbian. yang awalnya berada di skala 6. sejak kecil menyukai sesama jenis. dan menanggapi tulisan ada ini :
    “Pada titik ini saya harus katakan pada orang tua yang
    tidak menerima keberadaan anaknya yang gay,
    belajarlah! Mereka tidak akan berubah walau
    didoakan puluhan alim ulama atau rohaniawan.
    Terima saja mereka apa adanya.”
    saya kurang setuju. saya bisa menjadi hetero justru karena agama,kedekatan saya (menjadi lebih dekat dengan mengikuti pengajian dll) dengan-Nya ..telah merubah pola pikir saya yang sebelumnya berpikir saya terlahir lesbia. lesbian,gay,biseksual,transgender semuanya adalah penyakit dan itu bisa disembuhkan dengan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, dengan puasa, dengan di rukiyah dll…
    sewaktu saya di rukiyah. .saya (maaf) muntah2..dan ntah kenapa.n.sejak saat itu saya jadi hetero sepenuhnya. tapi itu jugda dibarengi dengan niat saya yang ingin sembuh sih.

    Like

    • Mery DT says:

      Hi Lyn,
      Terima kasih sudah mampi. Dalam beberapa artikel yang lain, saya lupa judulnya yang mana, saya katakan bahwa gay bisa menjadi berubah cara hidupnya menjadi straight bila dia memiliki nilai lain yang dianggap lebih penting dari pada menjadi gay. Misalnya agama. Contohnya ya anda sendiri. Atau juga mungkin rasa malu karena gay, atau karena merasa menuruti keinginan keluarga/orang tua lebih tinggi nilainya.

      Jadi perubahan itu biasanya karena orang tersebut merasa ada hal lain atau nilai lain yang lebih berharga untuk diperjuangkan dari pada orientasi seksual. Itu pilihan hidup masing-masing.

      Yang saya maksud terima saja apa adanya adalah pada anak yang tidak bisa berubah atau tidak ingin berubah. Tidak semua orang sama nilai-nilai yang dianut.

      Demikain. Salam.

      Like

      • lynn says:

        wah ini jawaban yang sangat tepat mbak.
        #Jadi perubahan itu biasanya karena
        orang tersebut merasa ada hal lain
        atau nilai lain yang lebih berharga
        untuk diperjuangkan dari pada
        orientasi seksual.#
        ya memang itulah kata kuncinya bagi org homoseks yang ingin berubah..adalah ambisinya. (y)

        Like

        • Lola says:

          Mbak iynn, bileh share gak gimana mbak bisa smbuh dr lesbian, saya punya adik yang lesbian yang ingin berubah, dan dimana mbak rukiyah untuk lesbian?? Trims mbak

          Like

        • Lola says:

          Mbak iyyn boleh share gmna pnymbhan lesbian adik saya lesbian mbak, dan dimana ya tmpat rukiyah untuk lesbian??? Trims

          Like

    • rini says:

      Itu berarti anda bukan homoseksual murni tapi biseksual.
      Denial terhadap lesbi anda sendiri sehingga seolah-olah hetero.

      Like

  8. Pingback: Mengapa Pernikahan Sejenis Harus Dilegalkan? | Apaja

  9. Pingback: Beberapa Pertanyaan Tentang Biseksual | Apaja

  10. Pingback: Homoseksual TIDAK Menular | Apaja

  11. Anonymous says:

    Saya adalah seorang lesbian dan saya sendiri sebenarnya masih belum bisa menerima dan sepertinya tidak akan pernah bisa menerima faktor-faktor yang menjadikan seorang manusia menjadi LGBT dengan alasan pernah mengalami pelecehan seksual, melihat orangtua yang sering bertengkar, tidak adanya peran ayah atau ibu, atau dibatasi pergaulannya dengan lawan jenis sebagai sesuatu yang bersifat pasti atau tepat.
    Saya lahir dari keluarga baik-baik, orangtua saya akur-akur saja (tentu ada perkelahian, tapi saya rasa itu pemandangan yang tidak aneh karena semua orangtua pasti pernah bertengkar), orangtua saya juga adalah orang yang cukup relijius dan membesarkan saya dengan ilmu-ilmu agama yang sangat cukup, saya juga tidak pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual. Jika ingin mengikuti pola faktor-faktor di atas, seharusnya semua orang yang pernah mengalami pelecehan seksual menjadi homoseksual, anak-anak yang orangtuanya bercerai jadi homoseksual, anak-anak yang mungkin sekolah di pesantren dan tidak mendapatkan ilmu agama yang cukup juga homoseksual, tetapi kenyataannya bahkan sebagian besar dari mereka masih heteroseksual dan akan terus menjadi seorang heteroseksual. Jadi menurut saya alasan-alasan tersebut tidak bisa dijadikan hal yang tepat atau benar mengapa seorang anak menjadi seorang homoseksual.
    Menurut saya, skala Kinsey ini ingin menyampaikan bahwa ketika kita lahir, orientasi seksual kita sama halnya seperti “fluid” atau “cairan” yang tidak benar-benar merujuk pada heteroseksual, biseksual, maupun homoseksual. Dia mengikut ke mana wadahnya bergoyang. Dan semakin lama “cairan” ini akan semakin mengeras seiring waktu sampai akhirnya benar-benar solid seperti batu di salah satu sisi wadahnya. Dan bagaimana caranya kita mengetahui ke sisi mana “cairan” ini akan mengeras sepenuhnya? Semuanya hanya bisa dijawab oleh waktu dan bagaimana kita merasakan “sesuatu” yang ada pada diri kita ketika kita bertemu dengan lawan jenis atau sesama jenis. Dan saya percaya kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol “sesuatu” itu di dalam diri kita, seperti sama halnya kita tidak bisa menentukan kepada siapa kita akan jatuh cinta.
    Harapan dan pesan saya sih sederhana. Just date whoever you like and you want, label yourself later. Karena saya sebenarnya agak gerah mendengar ada wacana-wacana miring tentang LGBT yang disebabkan oleh orang-orang yang merasa dirinya heteroseksual sepenuhnya, kemudian (katanya) “terjerumus” ke dunia homoseksual karena rasa trauma dengan lawan jenis, dan bagaimana dia berusaha keluar dari “dunia gelap” itu sehingga kembali menjadi heteroseksual yang pada akhirnya membuat orang berpendapat bahwa menjadi LGBT itu hanyalah sebuah “fase gelap” yang akan berakhir juga, yang pada kenyataannya it doesn’t work that way.

    Like

  12. rossi says:

    Mba Mery DT, terima kasih artikelnya, ternyata sudah ada skala paten untuk melihat orientasi seksual. kalau mbak Mery tidak keberatan, saya mau diskusi tentang artikel ini, karena saya saat ini sedang melakukan penelitian tentang orientasi seksual. Kalau tidak keberatan, saya tunggu sambutan hangatnya di email saya rossimetrika@gmail.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s