Mengapa bisa menjadi Gay?

Pengenalan Seksualitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seksualitas adalah (1) ciri, sifat, atau peranan seks; (2) dorongan seks; (3) kehidupan seks. Seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk di bicarakan. Saat seorang anak lahir, yang pertama ditanyakan bukan nama atau agamanya tapi jenis kelaminnya (dalam bahasa Inggrisnya “sex”). Dan jawabannya hanya ada 2, laki-laki atau perempuan.

Jadi sebenarnya, sejak bayi kita sudah membicarakan seksualitas sebagai identitas. Tapi kita risih bila membicarakan seksualitas yang berkaitan dengan dorongan seks ataupun aktifitas seks, terutama dengan anak-anak. Orang tua lebih suka mengalihkan topik pembicaraan atau kelabakan mencari jawaban dengan mengarang istilah lain demi penghalusan arti. Dan sering kali jawaban penghalusan ini berakhir dengan salah pengertian bagi si anak. Menurut para ahli, sejak kanak-kanak manusia sudah bisa merasakan sensasi sexual, contohnya anak kecil suka memegang alat kelaminnya. Orang tua pun akan kebingungan bila penis anak lelakinya tidak tegang di pagi hari.

Orang tua jaman sekarang harus lebih sadar untuk mengedukasi diri tentang sexualitas. Jangan hanya diserahkan pada sekolah dan guru. Kepada para orang tua, didiklah dirimu membaca gejala dan prilaku anak, apa saja yang dia lakukan bersama teman-teman terutama bila di depan komputer yang terhubung internet. Lebih bijak bila tidak membiarkan anak bermain internet di warnet. Situs-situs porno sering muncul dengan sendirinya tanpa dicari. Dengan sekali klik anak-anak bisa masuk ke situs tersebut dan menikmati foto-foto dan adegan syur di internet tanpa tahu dengan pasti apa yang mereka sedang lihat.

Kali ini saya ingin berbagi fakta tentang sexualitas. Mari berbicara, ini bukan tabu, semoga bisa membantu kita memahami walau sedikit. Ok, saya tidak mau mengaitkannya dengan agama atau kepercayaan, karena menjadi kabur nantinya.  Saya hanya mau berbicara berdasarkan sains. Bila anda tidak setuju sebaiknya jangan dilanjutkan membacanya.

Secara umum, kita mengenal 2 kelompok besar seksualitas yaitu: Heteroseks dan Homoseks. Kemudian muncul lagi istilah biseks. Bagi yang belum paham, Heteroseks adalah orang yang mempunyai hasrat pada lain jenisnya, sering juga disebut “straight”. Homoseks adalah orang yang memiliki hasrat pada sesama jenisnya, sering juga disebut gay (gay wanita disebut Lesbian, dan gay pria tetap disebut gay). Biseks adalah orang yang memiliki ketertarikan pada lawan jenis dan sesama jenisnya. Tidak ada angka yang pasti tentang jumlah masing-masing kelompok tersebut, baik per Negara atau pun diseluruh dunia.

Sungguh mencengangkan membaca report dari berbagai survey tentang kekerasan yang dialami atau dilakukan oleh masing-masing kelompok. Misalnya; kekerasan kaum heteroseks pada kaum homoseks, dan pelecehan seksual orang dewasa (pedofil) terhadap anak-anak, seperti yang dilakukan Robot Gedek dan Pakde terhadap banyak anak lelaki dibawah umur. Tentang kekerasan seksual ini akan saya sajikan dalam postingan tersendiri.

Mengapa bisa menjadi Gay?

Banyak sekali orang tua yang tidak bisa menerima kenyataan bila anaknya memiliki orientasi seksual dengan sesama jenis. Yang lucunya lagi orang tua mengambil tindakan yang sangat-sangat salah dengan membawanya ke alim ulama / rohaniawan ataupun dukun untuk diobati. Pak, Bu, anak anda tidak sedang sakit ataupun mengalami gangguan jiwa. Mereka sehat kok, sama sehatnya dengan anak-anak heteroseks.

Menurut Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) pada 17 Mei 1990 dan sudah dicantumkan Depkes RI dalam buku Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993); Homoseks dan biseks bukan penyakit atau gangguan jiwa, jadi tidak akan bisa diobati.

Apakah yang menyebabkan ada anak yang heteroseksual, biseksual dan homoseksual? Mari kita lihat beberapa pendapat para ahli:

1. Prof. Stevi Jackson; Direktur Penelitian Wanita di Univeristas York, UK mengatakan bahwa seksualitas sangat cair. Dia bisa berubah tergantung dari lingkungan dan psikologi orang tersebut. Prof. Stevi Jackson percaya kebanyakan orang bisa menjadi gay.

2. Dari Dr. Dean Hamer, Peneliti “Gay Gene” menyatakan, “Gen adalah Perangkat keras (hardware)… data adalah pengalaman hidup diproses melalui perangkat lunak (software) seksual dan menghasilkan identitas. Saya menduga perangkat lunak seksual adalah percampuran dari gen dan lingkungan, sebagaimana software computer adalah campuran yang dipasangkan kedalam pabrik dan penambahan data oleh penggunanya.” Dia menambahkan bahwa gen adalah salah satu factor, tapi ada factor lain yang sangat berkontribusi sperti psikologi dan lingkungan.

3. Menurut J. Satinover, M.D., Homosexuality and the Politics of Truth (1996). Grand Rapids, MI: Baker Books, Homoseksual adalah buka semata-mata karena biologis juga bukan semata-mata factor psikologis, tapi hasil dari – yang masih sulit dihitung secara jumlah – percampuran factor genetic, pengaruh kandungan intrauterine (air seni)… lingkungan paska dilahirkan (misalnya orang tua, saudara kandung dan prilaku kultur) dan rangkaian yang kompleks dari pengulangan yang memperkokoh pilihan yang berlangsung pada saat phase kritis saat pertumbuhan.

4. Menurut Prof. DR.Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And; Pakar andrologi dan seksologi dari Universitas Udayana, Bali; Perilaku seksual dipengaruhi oleh empat faktor yaitu dorongan seksual, pengalaman seksual sebelumnya, lingkungan sosiokultural dan psikologis.

Hampir semua ahli dan pelaku riset/studi yang dihormati sepakat bahwa prilaku sexual (Heterosex, Bisex & Homoseks) adalah kombinasi dari fator social, biologi dan psikologi. Jadi jangan salahkan si anak bila dia menjadi gay, karena bukan dia yang memilih gen dalam tubuhnya ataupun lingkungan tempat tinggal setelah dia lahir. Menurut saya, pola asuh setelah kelahiran hingga remaja sangat menentukan orientasi seksual si anak. Jadi jangan sampai pernah menyalahkan si anak bila dia memiliki orientasi seksual yang berbeda. Orang tua sangat punya andil di dalamnya.

Saya menyempatkan diri berselancar di forum-forum diskusi yang disediakan situs gay dan cukup syok membaca, begitu lancar dan gamblang mereka mengungkapkan dorongan seksualnya dan ditanggapi oleh teman-temannya yang memiliki masalah yang sama. Anak-anak itu berusia 11- 14, masih sangat muda dan polos dimata kita, tapi bahasanya sangat-sangat dewasa, seperti ingin mencoba mencium (bibir) sahabatnya. Saya pernah tanya pada teman gay, umur berapa dia mempertanyakan orientasi seksualnya, dan dia mengatakan umur 8 tahun. Dan nyaris semua anak-anak itu tidak berani mengatakannya pada orang tua karena takut di marahi, dianggap sakit atau bahkan diusir.

Bagi orang tua yang mempunyai anak remaja, jadilah sahabat bagi anak-anak anda supaya dia tidak mencari informasi diluar yang kadang-kadang malah menyesatkan. Mereka tahu hubungan sejenis tidak akan menyebabkan kehamilan dan mereka bisa saja mencoba-coba melakukannya sebelum fisik dan mentalnya siap. Saya tidak mengatakan melakukan hubungan sesama jenis itu tidak boleh. Yang ingin saya katakan adalah hubungan intim apapun (straight atau gay) dalam usia yang belum cukup dan mental yang belum siap dapat menimbuklan efek yang tidak baik bagi perkembangan mental dan prestasi si anak.

Oleh sebab itu, saya tantang para orang tua supaya mengedukasi diri tentang seksualitas. Hanya itu satu-satunya cara supaya anak anda tidak mencari informasi dari luar. Bila anak anda kebetulan gay, tidak ada yang dapat Anda lakukan kecuali menerimanya dengan tangan terbuka dan memperlakukannya sama dengan anak yang lain. Memarahi atau berusahan mengubahnya menjadi straight hanya akan menimbulkan prasaan “tertolak” dan “tidak diinginkan” pada si anak yang bisa membekas menjadi luka batin hingga dia dewasa. Seperti yang sudah dikatakan di atas, gay bukan penyakit, tidak bisa diobati!

Satu hal yang ingin saya tekankan adalah, apapun orientasi seksual si anak, itu hanya bagian dari dirinya. Kaum homoseks dan biseks tetap anak-anak yang normal yang dapat berprestasi seperti anak-anak lainnya. Bertindaklah yang benar sebelum engkau kehilangan anakmu!(Suatu saat nanti saya akan tampilkan data remaja yang bunuh diri karena merasa ditolak atas orientasi seksualnya yang berbeda.)

Sekian uraian saya, semoga bermanfaat.

Berikutnya akan saya lanjutkan dengan fakta-fakta menarik tentang Gay yang dikaitkan dengan Skala Kinsey. Ikuti terus ya!

Baca juga artikel sebelum ini yang berjudul “Mari Mengenal Seksualitas Lebih Intim”

Jakarta, November 2, 2011
Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Sexual Orientation and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Mengapa bisa menjadi Gay?

  1. Pingback: Arab Saudi, Membenci Homoseksual Tapi Memfasilitasi Prakteknya. | Apaja means whatever

  2. wira says:

    Thanks buanget u/ postinx moga kelak dpt sy aplikasikan kepada keturunanqu moga sj jejakqu tak ad yg mengikuti krn sy ad bisex

    Like

  3. vixo says:

    yap. (y) (y) dua jempol deh. q bis. wlau ntar ank q jdi kyk q gpp. q bkl ttp cyanx ma dya. yg pnting dya jdi ank baik gk nakal. n stidak a dya tw pangkat dya ma ortu a n tw sikap ap yg hrus d ambil dri kluarga. knalan yuk: zosczvxxoo@gmail.com

    Like

  4. Pingback: Homoseksual TIDAK Menular | Apaja

  5. Pingback: Arab Saudi, Membenci Homoseksual Tapi Memfasilitasi Prakteknya. | Apaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s