I Can’t Think Straight (Indonesia VS. Palestina & Israel)

Issue Timur Tengah khususnya Palestina begitu sexy bagi bangsa kita. Demi Timur Tengah banyak yang bisa terjadi di sekitar kita. TV swasta mampu menggalang dana yang besar dari masyarakat demi membebaskan seorang terdakwa di Negara Timur Tengah, yang kemudian – sangat disayangkan – menjadi masalah juga akhirnya.

Kasus itu hanya satu contoh kecil dari banyak kasus yang terjadi di Timur Tengah di mana kita selalu terlalu emosi bila melihat atau mendengar masalah di tempat yang jauh itu, dan tanpa mengerti masalah yang terjadi, sering langsung bertindak. Benar salah tindakan kita, itu urusan belakangan.

Ada sebuah film yang berjudul I Can’t Think Stright, yang mungkin bisa menjelaskan sedikit permasalahan di sana, dan secara tidak langsung berkaitan dengan masalah kita di sini. Dalam tulisan ini, aku tidak menceritakan sinopsisnya – mungkin di lain tulisan- tapi bagiku film ini sangat menarik karena mampu menggodok dengan cantik hubungan social para tokohnya yang berbeda agama seperti Kristen, Islam, Katholik & Jahudi dengan suku bangsa dari Jordania, India, Palestina dan Jahudi. Setting ceritanya di Jordania (Timur Tengah) dan London, dengan segala manis dan getirnya kehidupan. Keberagaman ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat kita yang majemuk.

Dalam film ini ada sebuah keluarga kelas atas Jordania, Kristen, yang memiliki tiga orang putri yang cantik-cantik. Putri tertua bernama Tala baru saja mengadakan pesta pertunangan di Jordan dengan Hani, pria Arab Palestina Kristen yang tampan. Dan akan segera lanjut ke pernikahan. Tala tinggal di sebuah rumah besar di London, sementara Hani bekerja di Pemerintahan Jordania yang menangani Hubungan luar Negeri dengan Israel.

Ali, pemuda Arab Muslim, sahabat Tala, berkunjung ke rumah Tala dengan maksud memperkenalkan Leyla, pacarnya. Leyla berasal dari keluarga India sukses yang tinggal di London.  Leyla adalah penulis yang sedang merintis karir.

Bersama Reema, Ibunda Tala, mereka berempat duduk santai dan ngobrol di sebuah ruangan di rumah Tala. Berikut potongan percakapan yang menurutku sangat menarik.

Di tengah percakapan, Tala mencomot sepotong kue yang terhidang di meja. Reema yang masih terihat cantik di usia lima puluhan tidak senang dan berkata, “Tala, bagaimana nanti kalau baju pengantenmu tidak muat?”

Tala cuek dan tetap mengunyah sisa kuenya. Leyla memandang Tala dan berkata, “Selamat ya atas pernikahan kamu!  Nanti akadnya di mesjid?

Dengan wajah heran, Reema berkata, “Di gereja, di gereja..!!”

Dengan tersenyum Tala menambahkan, “Tidak semua orang Arab itu Muslim!”

Leyla menjadi kikuk dan berkata, “Ooohh.. maafkan aku! Aku terlalu cepat berasumsi.”

Dengan tersenyum manis Tala bertanya pada Leyla, “Apakah kamu Muslim?”

Leyla langsung mengangguk dan berkata dengan pasti, “Iya!”

Kemudian Tala betanya lagi, “Kenapa?”

Reema langsung memotong pembicaraan sebelum Leyla sempat menjawab, katanya, “Tala, pertanyaan macam apa itu? Karena dia terlahir Muslim!”

Tala cepat menjawab dengan tetap tersenyum sambil mengelengkan kepalanya, “TIDAK. Dia tidak terlahir Muslim!”

Reema bertanya pada Leyla, “Oh ya? Kamu dulu bukan Muslim?”

Leyla kebingungan, tak tahu menjawab apa di tengah pembicaraan Ibu dan Anak yang baru dia kenal ini.

Kemudian dengan pernuh percaya diri Tala berkata pada ibunya dan sesekali melirik pada Leyla, “Dia terlahir sebagai perempuan, dan menjadi bagian dari suatu suku bangsa. Jika sekiranya dulu dia diadopsi oleh keluarga Jahudi, maka dia akan menjadi Jahudi.”

“Terima kasih Tuhan dia tidak diadopsi Jahudi!  Yang dibutuhkan Timur Tengah saat ini adalah Jahudi tidak semakin banyak.” balas Reema cepat.

“Mama, tolong jangan mulai dengan ‘Anti Semitik’!” kata Tala.

Leyla semakin kebingungan. Dia hanya diam memperhatikan pembicaraan Ibu dan Anak yang semakin panas.

Dengan wajah tidak suka Reema berkata, “Anti Semitik? Siapa yang Anti Semitik? Aku semitik.  Poinnya adalah nenek moyang bangsa Jordania kebanyakan berasal dari Palestina.”

Tala menambahkan, “Yaa… ada juga jutaan Arab Jahudi di seluruh negara-negara Arab.”

“Dan penduduk Palestina hidup di penampungan karena mereka kehilangan tanahnya.” Leyla yang dari tadi diam kemudian angkat bicara.

“Akhirnya ada juga orang yang berkata masuk akal.” Reema setuju dengan pendapat Leyla.

Ali hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.

“Benar, tapi kita harus membuat batasan masa lalu yang jelas bila ingin maju ke depan.” Tala menambahkan.

Kemudian pembantu rumah tangga datang dan mengingatkan Reema untuk minum obat.  Kemudian Reema meninggalkan ruangan. Sebelum pergi dia minta maaf pada Leyla atas sikap putrinya yang blak-blakan.  Sepeninggal Reema, Ali duduk mendekat pada kedua wanita itu.

Tala berkata pada Leyla, “Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Aku bukan Jahudi.” Jawab Leyla cepat.

Tala tertawa kecil dan bertanya nakal, “Kenapa tidak?”

“Kamu pun kenapa TIDAK?” balas Leyla cepat.

“Aku tidak terdaftar pada agama mana pun!” jawab Tala.

“Jadi kamu hidup tanpa iman/keyakinan?” tanya Leyla lagi.

“Ah!! Aku tidak berkata seperti itu.” jawab Tala diplomatis.

“Mengapa kamu menyerang keyakinanku?” tanya Leyla.

Tala mejawab dengan senyum, “Tidak. Aku tidak menyerang. Aku cuma mau tahu bagaimana dia (agama) itu menemukanmu!”

Tiba-tiba Ali memotong pembicaraan mereka dengan berkata, “Tala… hentikan…!!”

Tala senyum melirik sekilas, sementara Leyla merasa tidak senang pembicaraan mereka dipotong, dan berkata pada Ali, “Bukankah ini pembicaraan ringan di Timur Tengah?”

“Ya, ini pembicaraan ringan di Timur Tengah.” Jawab Tala cepat, “Untuk perdebatan yang serius, kita beralih ke politik.”

Ali langsung berdiri dan berkata, “Sebelum itu terjadi, aku akan membawa Leyla pergi untuk makan malam. Mau join bersama kami?” Leyla ikut berdiri diikuti oleh Tala.

“Orang tuaku besok akan kembali ke Jordan, Tapi… makasih ajakannya buat kalian berdua!” kata Tala.

Kata Leyla, “Mungkin lain waktu.”

Jawab Tala, “Aku suka itu. Dan kita semua bisa membicarakan tentang cuaca saja.”

Sebelum meninggalkan ruangan, kata Ali pada Tala, “Kamu nakal!”
==========================

Pembicaraannya menarik bukan? Bila kita menonton seluruh film, masih banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari keseharian di Timur Tengah, terutama konflik Jahudi dengan Arab. Bagaimana Lamia, adik Tara, dan Kareem, suaminya yang sok perduli dengan pengungsi Palestina, tapi cara hidupnya tidak mencerminkan demikian. Dan juga Zina, adik bungsu Tala, yang harus putus dengan pacar Jahudi-nya karena pacarnya ingin membesarkan anaknya sesuai dengan tradisi Jahudi.  Reema menolak keras anaknya berpacaran dengan Yahudi.

Dari pembicaraan di atas, ada hal yang ingin aku bahas, yaitu manusia yang terlahir bebas. Aku setuju sekali dengan perkataan Tala bahwa manusia itu lahir sebagai manusia, bukan merujuk pada entitas agama. Agama hanya mengikuti di mana seseorang dilahirkan. Jadi nilai yang terutama dalam hidup ini adalah “manusia”nya, bukan agamanya.

Bila kita amati pembicaraan tadi, ada perbedaan focus yang sangat signifikan pada masyarakat kita dengan masyarakat Timur Tengah. Bila di sana, membicarakan masalah agama termasuk obrolan ringan, maka di kita bisa menjadi diskusi atau pertikaian yang serius. Sebaliknya, di sini membicarakan politik adalah obrolan santai atau obrolan warung kopi, tapi menjadi pembicaraan serius yang dapat berujung pada pertikaian berdarah pada masyarakat Timur Tengah terutama Palestina – Israel.

Yang ingin aku katakan adalah mari kita lebih dewasa dalam menyikapi isu yang dikaitkan dengan agama yang berasal dari Negara asing. Sesungguhnya tidak hanya isu dari luar negeri, di dalam negeri saja kita gampang tersulut hanya karena isu pelecehan agama yang belum tentu benar. Seperti di Ambon yang saat ini mulai di bakar lagi oleh orang-orang yang tidak suka melihat perdamaian di negeri ini.

Ketahuilah, ujung dari semua pertikaian itu cuma satu yaitu UANG atau MATERI. Dengan menyulut isu pertikaian SARA di suatu daerah di Nusantara ini, berarti ada pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan. Keuntungan dari dana yang digalang dari masyarakat atau donasi dari luar yang “memesan” keributan tersebut. Demikian juga di Timur Tengah, pertikaian berdarah yang terjadi pasti akan menghasilkan sumbangan dari Negara-negara yang berempati, terutama dari PBB.

Apakah uang sumbangan itu untuk membantu korban yang bertikai? Mungkin. Tapi porsi yang diberikan pada korban sangat-sangat kecil. Karena sebagian besar sumbangan itu untuk kelompok atau organisasi yang menciptakan kerusuhan tersebut.

Dengan mengetahui perbedaan di atas, bagiku sangat lucu melihat pemimpin kelompok agama di negri ini selalu melemparkan isu agama untuk mendukung sentimen politik di Timur Tengah terutama Palestina. Ketahuilah, rakyat Palestina dan bangsa Timur Tengah TIDAK berperang karena AGAMA, tapi karena batasan Negara atau pun kedaulatan Negara.
Politik Palestina selalu dibungkus agama oleh orang-orang tertentu supaya laku di jual karena paling gampang meledak di sini. Mari kita belajar dan memahami kondisi di Timur Tengah, supaya tidak gampang terseret oleh gejolak yang diteriakkan satu dua orang yang mempunyai agenda.

Selalu ada kelompok yang meneriakkan Palestina sebagai jualannya. Ketahuilah saudara-saudaraku, tidak hanya Muslim saja yang berempati pada Palestina. Semua manusia berempati pada rakyat Palestina. Pada kemanusiaannya. Rakyat Palestina itu terdiri dari bermacam-macam Agama, seperti Islam, Kristen, Jahudi, Ateis, dll. Dan sesungguhnya di Palestina sendiri mereka tidak terlalu membawa-bawa masalah Agama.

Ada dua hal yang selalu menyulut peperangan di Palestina, satu: masalah internal Palestina sendiri, yakni perebutan kekuasaan diantara partai politik. Hamas dan PLO hanyalah 2 dari banyak partai politik di Palestina.  Termsuk Partai Komunis (Popular Front for the Liberation of Palestine). Yang kedua adalah masalah external, yakni persoalan politik dengan Israel. Masalah ini sangat komplek dengan sejarah panjangnya. Aku tidak ingin membahasnya di sini, mungkin di lain tulisan.

Masih ingatkan dengan istri Yasser Arafat? Suha Arafat. Dia adalah wanita Kristen Palestina. Ayah Suha adalah lulusan Oxford dan ibunya politisi dan penulis.  Orang tua Suha berimigrasi ke Prancis saat pendirian negara Israel.  Suha telah menjadi ketua organisasi pelajar Palestina dan aktif mengorganisir demonstrasi untuk Palestina sejak dia bersekolah di Prancis. Kemudian dia menikah dengan Yasser Arafat yang Muslim. Perbedaan agama tidak menjadi masalah diantara mereka. Sebelum menikah pun Arafat senantiasa hadir dalam kebaktian Malam Natal di Gereja Netivity, Bethlehem. Itu salah satu bukti bahwa di Palestina isu Agama adalah obrolan ringan. Tapi yang sangat-sangat serius di sana adalah masalah batas wilayah, kekuasaan dan pengakuan. Dan itu semua berhubungan dengan politik.

Sudah baca novel “My Salwa my Palestine” karangan Ibrahim Fawal? Dia adalah Arab Palestina yang kini menjadi warga Negara Amerika. Dia menceritakan gejolak yang terjadi saat Israel akan berdiri. Saat itu banyak sekali warga Arab Palestina yang beragama Kristen di Jaffa dan kota-kota lainnya. Mereka hidup damai bersama dengan warga Muslim dan Jahudi. Karena gejolak itu sebagian besar warga Palestina terusir dari tanah Palestina, dan sebagian besar hingga saat ini berdiam di camp-camp penampungan.

Demikian juga di Negara Israel saat ini. Taukah anda bahwa demografi di Israel adalah 75% Jahudi, 20,5% Arab dan 4,5% bangsa lain? Berbagai agama juga diakomodir dalam Negara tersebut. Jumlah muslim di Israel lebih banyak dari pada Kristen.  Bahkan ada anggota Knesset (Senat/DPR) dari etnis Arab dan beragama Islam.

Taukah anda bila Israel lebih banyak memberikan sumbangan pada rakyat Palestina dibandingkan semua Negara-negara Arab? Taukah anda bahwa Bangsa-bangsa Arab itu mendua hati terhadap Palestina? Taukah anda bagaimana perlakuan orang Mesir, Turki, Arab Saudi, dll terhadap orang Palestina yang ada di Negara mereka?

Berikut cuplikan tulisan Irshad Manji dalam bukunya “Beriman Tanpa Rasa Takut.” Nona Manji adalah Muslim, imigran dari Uganda yang kini menjadi warga negara Kanada.

“Setelah Perang Teluk tahun 1991, Kuwait mengusir setidaknya 300.000 orang Palestina dari perbatasan-perbatasan negerinya sebagai balas dendam terhadap Arafat yang mendukung Saddam Hussein, yang menginvasi Kuwait. Sebagian besar dari yang terusir itu “tidak pernah mengetahui Palestina atau negara lain selain Kuwait.  Mereka lahir dan besar di Kuwait. ” kata Kanan Makiya, penulis sebuah buku tentang kekejaman dan kebisuan di dunia Arab. “Selain memeras orang-orang yang tak berdosa”, kata Kanan Makiya, “kelompok-kelompok penjaga keamanan semiresmi di Kuwait dengan sewenang-wenang menangkap orang-orang Palestina.  Jika orang Palestina tersebut tidak ‘hilang’, maka mereka ditembaki di depan umum atau disiksa dan dibunuh.”

Pemerintah Libanon, Suriah, dan Irak pun bertingkah seolah-olah jika mereka ikut menyelesaikan masalah Palestina, maka mereka hanya akan mengacaukan koeksistensi-yang-rapuh antara kaum Syiah dan Sunni.

Libanon? Setali tiga uang! Hukum Libanon sesungguhnya melarang sebagian besar pengungsi Palestina bekerja penuh waktu, membeli tanah, atau menjadi pekerja profesional. Orang Palestina bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan.  Kenyataannya, satu-satunya negara Arab Islam yang memberikan kewarganegaraan kepada pengungsi Palestina adalah Yordania. Itu pun disebabkan karena kebanyakan orang Yordania secara etnis adalah orang Palestina.

Berikut ini adalah barometer lain dari kemunafikan Arab. Selama bertahun-tahun, Kuwait mendonasikan lebih sedikit daripada donasi Israel kepada badan-badan PBB yang peduli terhadap nasib pengungsi Palestina. Arab Saudi juga tak mampu mengungguli donasi Israel meskipun uang mereka dari penjualan minyak terus menebal. Dan sekarang? Meskipun pundi-pundi uang mereka begitu berlimpah dan luas negaranya begitu besar untuk bisa ditinggali pengungsi Palestina, namun pemerintah Saudi tidak akan pernah menerima orang Palestina sebagai warga negara mereka.

Demikian aku kutip dari buku Irshad Manji.  Bila ada yang ingin membaca tentang buku Irshad Manji dapat dibeli di Gramedia. Dia memaparkan dengan sedikit vulgar tapi sangat menarik.

Ada pertanyaan yang selalu menggangguku dan sebaiknya kita jawab masing-masing dalam hati, yakni: Jika sekiranya warga Palestina tidak ada yang Muslim, masihkah ada oraganisasi massa itu turun ke jalan dan mengirim pasukan ke sana untuk membantu berperang? Juga sekiranya warga Israel itu semuanya Muslim, masihkah mereka dikutuk dan dimurkai oleh kita-kita?

Tujuan saya menuliskan ini adalah supaya kita tidak mudah terbakar dengan isu agama yang selalu dihembuskan oleh pihak-pihak yang mempunyai tujuan tertentu, terutama uang. Mari kita lebih bijak dan tidak mudah terpancing.

Dan bila kita ingin membantu seseorang atau suatu bangsa, pandanglah mereka dari sisi manusianya, tak perduli agama apa yang mereka anut. Manusia tak beragama pun layak kita bantu, karena mereka manusia. Jangankan manusia, binatangpun sering membuat kita jatuh hati dan hati kita selalu tergerak untuk membantu binatang yang kesakitan.

Manusia menderita yang butuh pertolongan tidak hanya di Palestina, banyak suku bangsa yang saat ini sedang berperang dan rakyatnya menderita. Mari kita ulurkan bantuan kita tanpa mengenakan baju agama, tapi baju kemanusian. Sesungguhnya tidak usah jauh-jauh ke Afrika atau Palestina, di Negara kita sendiri masih banyak kok saudara kita yang kelaparan dan kesulitan!  Rakyat Palestina secara berkala mendapat bantuan dari PBB.  Apakah bantuan itu sampai pada rakyat yang menderita? Lihat saja hasilnya! Berapa banyak rumah penduduk, sekolah, rumah sakit yang telah mereka dirikan? Dibanding sumbangan yang diterima pimpinan mereka, fasilitas-fasilitas umum itu sangat-sangat minim. Kemanakah semua uang sumbangan itu???

Oleh sebab itu, pertama-tama mari kita bergandeng tangan membantu saudara-saudara kita yang bisa kita lihat terlebih dahulu, yakni tetangga kita, saudara se-negara kita, setelah itu baru pada saudara-saudara kita yang jauh. Saudara kita ada di Mentawai, Gunung Kidul, pedalaman Papua, Kalimantan dan Sulawesi, dan di bawah kolong jembatan di dekat Istana Negara. Di bawah lubang hidung kita sendiri bukan?!

Aku akhiri tulisan ini dengan harapan semoga kedepannya sentimen agama yang dihembuskan oleh orang-orang jahat yang ingin mengeruk keuntungan dari kondisi yang kacau itu TIDAK LAKU LAGI!
Semoga rakyat semakin dewasa dan Indonesia semakin Jaya!

Jakarta, September 16, 2011; 3.26AM
Mery DT.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Movie Review, Negeriku & Politik and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to I Can’t Think Straight (Indonesia VS. Palestina & Israel)

  1. Pingback: Review film I Can’t Think Straight | Apaja

  2. Lathiifatus says:

    satu kata untuk ulasan ini ; CERDAS!

    Like

  3. Pingback: Palestina Riwayatmu Dulu (dan Kini) | Apaja

  4. Zoey says:

    Saya sangat suka dengan artikel diatas, kalau bsa lebih mendetail lagi ulasan tentang I can’t think straight, film yang disutradarai shamim “the world unseen” juga bagus. Lisa Ray benar2 mengagumkan! pretty and smart.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s