Mengurai Nostalgia

Aku duduk diam mengamati jalanan yang kulalui dari balik jendela mobil. Sekuat tenaga aku mengorek timbunan memori dua puluh tahun lalu, tapi tidak ada satu signal pun yang mengingatkanku akan jalanan ini.

“Kita tidak salah jalankan?” kataku dengan tetap memandang aneh pada jalanan yang kami lalui.

Rara, teman satu kampung yang sama-sama datang dari Jakarta, yang duduk disebelahku melirik sekilas ke arahku, kemudian menggeleng. Pertanyaanku pasti aneh baginya.

Aku kembali memperhatikan jalanan berbatu tanpa lapisan aspal itu. Tanaman di kanan kiri tampak kuning kecoklatan dilapis debu yang beterbangan tebal di jalanan. Seperti semburan asap gunung Sibayak saja. Bila mobil melaju berselisihan, maka butuh beberapa menit untuk dapat melihat jalanan di depan karena tebalnya debu yang membumbung.

“Waktu kampanye kemaren, Bupati berjanji akan mengaspal jalanan ini hingga ke kampung.” Kata teman lain di dalam mobil, seperti mengerti kegalauan hatiku.

Saat kutinggalkan dua puluh tahun lalu, berarti sebelum reformasi, jalanan ini masih mulus dengan aspal hotmix. Bukannya aku berkata jaman orba lebih baik, tidak! Tapi proses kemajuan bangsa ini lambat sekali. Malah terjadi kemunduran kualitas infrastruktur. Seperti jalanan ini.

Perjalanan terus berlanjut dengan hentakan-hentakan kecil dan besar karena jalanan banyak yang berlobang. Lobangnya tidak main-main, ada yang sampai kedalaman setengah meter. Seharusnya aku mengingat desa-desa kecil sebelum memasuki kampungku, tapi semuanya tampak asing dimataku. Sebuah desa sebelum memasuki kampungku, dulu begitu hijau dan asri, tapi sekarang? Bangunan rumahnya memang sudah berganti batu, tapi tampak sembrawut. Aku kurang menyukainya.

Mobil pun melewati sungai yang dulu akrab denganku. Petanda kami sudah mulai memasuki kampung. Ketika masa kecil, aku tiap hari mandi di sungai ini bersama teman-teman. Ya, sungai ini memang sudah lama di tinggalkan, sejak air PAM masuk ke rumah penduduk. Aku tersenyum saat melewati sungai itu. Sepotong kenangan masa lalu menghiburku.

Kami sampai. Mobil berhenti. Aku turun dan berdiri. Sejenak mataku mengidentifikasi sekitar. Perempatan ini sudah sangat berubah.
Bentuknya masih sama seperti dulu, hanya saja banyak bangunan lama yang direnovasi. Juga sudah banyak toko dan pedagang buah yang dulu tidak seramai ini. Aku berjalan ke arah selatan, aku ingin melihat rumah tempat aku dilahirkan. Sepanjang jalan yang tidak seberapa jauh itu tampak perubahan yang cukup signifikan. Tidak ada lagi ruang kosong diantara rumah warga yang dulu menjadi jalan pintas menuju jalanan lain. Banyak rumah yang dulunya terbuat dari kayu kini berubah menjadi gedung batu dengan sentuhan minimalis.

Seorang pria keluar dari sebuah warung. Kami saling melihat. Sepertinya aku mengenal karakter wajahnya, tapi siapa dia? Dia pun tampak berpikir keras mengingat-ingat aku. Kami saling pandang beberapa saat. Nayris bersamaan kami saling tersenyum dan menebak nama masing-masing.

“Josh” kataku. “Dian” tebaknya. Kami bersalaman dan tetawa bersama. Kami saling bertukar kabar. “Datang ya ke reuni kita besok di SMA.” Kataku sebelum melanjutkan perjalanan. Dia mengangguk.

Aku melanjutkan perjalanan napak tilas kecil-kecilan ini. Aku menatap rumah masa kecilku yang kini telah berpindah tangan, milik orang lain, sejak dua puluh tahun lalu dan kami meninggalkan kampung ini. Aku nyaris menangis melihat bangunan itu. Tiba-tiba semua kejadian masa lalu terulang lagi dalam pikiranku. Terlalu banyak kenangan di rumah itu. Aku dilahirkan disana. Yang manis, yang pahit semua jadi satu.
Aku mengetuk rumah tetanggaku. Dulu keluargaku sangat dekat dengan keluarga ini. Tante itu tidak mengenaliku lagi. Dia kaget waktu aku memperkenalkan diri.

Banyak wajah yang berubah, terutama yang dulu seusiaku. Pasti akupun berubah di mata mereka. Ada wajah yang sama sekali tidak bisa lagi kulihat jejak masa kecilnya di sana. Tapi dia tampak senang bisa bertemu aku lagi. Akupun tak kalah senangnya. “Tolong kabarin teman-teman yang lain untuk datang besok reuni ke SMA kita ya!” kataku padanya.

Perjalananku berlanjut ditemani Rara. Jelas, penilaianku dan Rara berbeda terhadap kampung ini karena dia sering pulang, sehingga melihat proses perubahanan. Sementara aku? Terlalu drastis bagiku.
Aku memperhatikan semua sudut kota kecil ini. Ya, kampung ini sudah sangat berubah, aku nyaris tidak mengenalinya. Ketika aku datang, aku membawa ingatan dua puluh tahun lalu. Dulu jalanan dan bangunan tampak asri. Sekarang bangunan memang lebih banyak, tapi ada satu yang kurasakan sangat mengganggu. Tidak ada keindahan. Tidak ada estetika. Kesan yang kutangkap yang mau dikatakan kota kecilku yang menggeliat ini adalah “Come on, man! Apa perlunya estetika? Yang penting warganya makmur!”

Jalanan berbatu tanpa aspal ini sangat menggangguku. Dulu tidak seperti ini. Sangat kontradiksi. Saat ekonomi masyarakat semakin baik, malah kondisinya jadi tidak nyaman dilihat. Terkesan kumuh dan gersang. Debu beterbangan bikin tidak betah.

Kemanakah pemerintah kota kecil ini? Mengapa pemerintah terkesan tidak hadir? Atau itu prasaanku saja? Tidakkah dia mampu memperbaiki jalanan? Bila memang tidak ada dana dari Negara, swadaya warga rasanya bukan masalah. Karena hasil bumi kampung ini sangat bagus. Hanya masalah cara dan kemauan saja.

Tidak bisakah Camat atau perangkat desa menggerakkan warga untuk menanam pohon di sepanjang jalan supaya menghijau, agar indah di pandang mata? Tidak bisakah dibuat aturan sehingga warga tidak sembarangan meletakkan milik pribadinya di ruang publik? Ach, mungkin aku yang terlalu ribet mikirin itu semua, padahal warga yang tinggal disini merasa nyaman-nyaman saja.

Aku sengaja pulang kampung disamping memang sudah sangat amat kangen, juga untuk melaksanakan reuni SMA. Kami alumni yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya telah mengatur rencana itu dari 8 bulan sebelumnya. Aku salah satu panitianya.

Jam 9 pagi, sekolah yang penuh kenangan itu sudah mulai di datangi teman-teman alumni. Walau sekolah telah libur, hampir semua guru datang, termasuk yang sudah pensiun. Juga beberapa murid yang mewakili kelasnya masing-masing. Dengan sekali sapuan pandangan aku bisa melihat bahwa sebagian besar alumni yang datang ke sekolah adalah teman-teman yang biasa aku jumpai di Jakarta. Ditambah beberapa teman dari Medan dan Kaban Jahe. Hanya satu dua orang alumni yang berdomisili di kampung yang datang.

Aku dan beberapa teman menjadi kecewa karena teman-teman yang seharusnya menjadi tuan rumah malah tidak datang. Syukur, acara reuni berjalan lancar dan sukses. Semua bergembira. Walau alumni hanya sedikit, tapi kemeriahan dan semangat saat SMA dulu kental terlihat. Kami menari dan menyanyi seperti remaja yang masih belum punya tanggungan. Lepas.

Tapi sayang sekali, terdengar kabar bahwa reuni itu dilakukan hanya untuk anak-anak perantauan khususnya yang dari Jakarta yang merasa kangen pada sekolah. Kami yang dari Jakarta tentu geleng-geleng kepala dan tersenyum masam. Kenapa masih ada yang berpikiran seperti itu??? Kami memang datang dari Jakarta dan kangen pada sekolah dan teman-teman, tapi kami bukan pamer seperti yang disangkakan bebepa teman. Kami malah ingin berkomunikasi dengan semua teman di kampung. Tapi tidak banyak yang menunjukkan diri. Kita bertujuan membantu sekolah sekiranya ada yang bisa kita lakukan untuk kemajuan mutu. Mereka beralasan, tidak tahu atau tidak ada undangan. Aku hanya bisa memijit keningku. Teman yang malam sebelumnya ku datangi, jelas-jelas itu undangan, juga tidak ada yang datang. Yah, apa pun itu, semua sudah terjadi. Pesta sudah usai. Sekarang saatnya membenahi kekurangan.

Sebelum balik ke Jakarta, aku sempat mengunjungi sahabat masa kecilku. Lina & Monik, mereka adik kakak. Menemui mereka memang menjadi agenda utamaku. Tapi yang ku tahu hanya Lina yang tinggal di kampung. Malam sesampai di kampung pun aku sudah mencoba mencari ke rumahnya, tapi dia tidak ada. Aku juga sudah menelpon dan mintanya datang ke reuni. Ternyata dia pun tidak datang. Bersama Rara, yang juga teman baiknya saat SMA, aku ke rumah Lina.

Sekali lagi, sekiranya bertemu di jalanan, aku pasti tidak mengenal Lina. Penampilan fisiknya berubah total di mataku. Untung ada Rara yang memastikan dia adalah Lina. Aku langsung memeluknya. Aku senang akhirnya bisa melihatnya lagi. Dia mempersilakan kami masuk ke rumah. Dalam bayanganku sebelumnya, kami akan saling bertanya apa kabar, tentang keluarga, tentang kerjaan atau menertawakan masa lalu.

Ternyata… sejak duduk di dalam rumahnya, dia sibuk bercerita dan saling bernostalgia dengan Rara. Aku sama sekali tidak dihiraukan. Aku mencoba membuat kontak mata dengannya, tapi dia terlalu seru bercerita dan tertawa dengan Rara. Dia sama sekali tidak mau melihat ke arahku. Untung orang tuanya ikut bergabung sebentar, dan merekalah yang berbicara denganku. Seketika itu juga moodku jadi hilang. Aku hanya duduk memandangi mereka satu persatu seperti orang asing yang baru pertama kali bertemu. Aku hanyalah teman Rara yang menemaninya menemui teman lamanya. Aku banyak menunduk dan menyibukkan diri dengan melihat-lihat gambar di kameraku atau mengecek twitter dan facebook di ponselku.

Sambil tertunduk, aku teringat bagaimana saat kecil dulu kami, bertiga dengan Monik, selalu makan siang bareng sepulang sekolah. Kami makan di belakang rumah, atau aku membawa makananku ke rumahnya atau sebaliknya. Selesai makan, kami bertiga bercanda bareng hingga tidur siang, di rumahku atau di rumahnya. Kami bertiga sangat akrab ketika itu. Main congklak bareng, main merdeka, bola bekel dan lain sebagainya. Mereka teman mainku di rumah hingga aku SMA dan mereka SMP. “Ach, dia mungkin sudah tidak menganggapku teman lagi, atau dia lupa dengan nostalgia masa kecil itu. Tak mengapa.” Kataku mencoba menghibur diri. Rara pasti tidak tahu kalau beberapa kali aku menghapus air mataku saat itu. Ketika Rara bilang “Bagaimana, cabut kita?” Aku mengiyakan dan langsung berdiri. Tak sabar rasanya keluar dari rumah itu.

Ya… aku belajar bahwa pengharapan kita terhadap sesuatu tidak selamanya sama dengan orang lain. Aku harus bisa menerima hal itu. Suasana hatiku memang menjadi kacau hingga malam. Sedih rasanya. Itulah kenyataan, kadang tidak seindah hayalan. Face it, and deal with it, buddy!

Seminggu lebih kemudian aku kembali pada rutinitasku di Jakarta. Andy, seorang sahabat yang juga sepupu Lina menelponku. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, dia cerita bahwa dia sempat pulang kampung beberapa hari lalu dan bertemu Lina di acara keluarga. Aku menceritakan pertemuanku dengan Lina padanya. Dia juga tahu betapa akrabnya aku dulu dengan sepupu-sepupunya itu. Kemudian dia bilang, bahwa Lina juga cerita tentang itu. “Dia minder, makanya dia gak tahu harus ngomong apa sama kamu!” kata Andy di ujung telpon.

Kenapa dia harus minder? Kenapa dia tidak minder pada Rara yang jelas-jelas lebih sukses dari aku? Aku mau ketemu dia karena kangen, bukan mau pamer. Dan sama sekali tak ada yang bisa aku pamerkan padanya. Kalau bicara harta, aku miskin, mungkin lebih miskin dari dia. Kenapa dia harus minder? Dan aku gak melihat hartanya kok. Aku tak akan bertanya berapa buah mobilmu? Apa mereknya? Tidak. Itu pertanyaan paling bodoh yang tak akan pernah kutanya pada siapa pun. Aku tidak pernah melihat teman dari harta bendanya, dan aku tidak perduli berapa banyak harta teman.

“Kalau informasi ini bisa membuat hatimu lebih memaafkannya, dia juga tidak berani bertemu aku. Aku memaksa dia datang ke pertemuan keluarga itu. Dia memang bodoh dengan cara pikir seperti itu.” kata Andy lagi.

Memaafkannya? Aku memang butuh waktu menetralisir prasaanku, tapi aku sudah memaafkannya. Aku memahaminya. Mungkin suatu saat kelak aku akan berkirim surat padanya. Aku mau bilang, bahwa hidup itu tidak hanya berkisar pada persoalan ekonomi dan kesulitan hidup belaka. Jangan terlalu terpuruk pada kesulitan ekonomi. Jangan terlalu tinggi memandang materi. Apakah karena kita punya uang yang banyak maka kita berani memandang dunia? Ukuran “banyak” itu sangat relative. Banyak bagiku belum tentu banyak bagi orang lain. Sampai kapankah kita mengatakan banyak itu sudah cukup? Pengumpulan harta tidak mengenal kata cukup.

Banyak hal yang tidak bisa kita takar harganya karena dia di atas semua harga. Priceless..!! Misalnya kesehatan, kebahagiaan, keimanan, dan juga persahabatan. Semoga suatu saat kelak kita bisa bertemu lagi dan kita bisa berbicara layaknya teman seperti masa kecil kita dahulu. Dan doaku, semoga engkau lebih sukses dari sekarang tentunya. Mungkin itu akan menanbah rasa percaya dirimu. Aku berdoa yang terbaik untukmu!

Jakarta, 4 July 4, 2011; 3;35 AM
Mery DT

#Short story based on true story. Untuk kenyamanan semua pihak, nama tokoh disamarkan.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Friendship and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s