Bitter Sweet Persahabatan Masa Remaja.

(….aku dan dua orang sahabatku…)

Seperti malam-malam sebelumnya, aku sedang duduk di meja kerja dan mata memandang tajam layar monitor laptop. Media playerku tidak pernah berhenti mendendangkan koleksi lagu-lagu yang kusuka, supaya aku tetap memiliki energy mengerjakan projekku. Malam ini aku sedang mengerjakan projek penyusunan laporan sebuah organisasi. Pekerjaan ini ternyata sangat menguras kerja otakku yang ukurannya tidak terlalu besar. Bagaimana tidak, aku harus mempelajari sangat banyak dokumen kemudian merangkum dan menyusunnya dalam satu laporan yang enak dibaca oleh kaum awam. Sementara aku sama sekali tidak terlibat dalam projek tersebut. Itu tantangannya. Dan sesungguhnya aku menyukai pekerjaan tersebut.

Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sebelah kananku berbunyi dan nama Efen terpampang di layar. Seketika aku tersenyum dan langsung memasang handsfree, karena aku tahu, pembicaraan ini bakal lama. “Halooooo, cuuutttt…!” kataku memulai pembicaraan. Cut, dari kata lencut yang menjadi nama ejekannya. Dan kudengar dia tertawa besar dan panjang di ujung sana.

Efen adalah sahabat dari masa remajaku. Tepatnya dia adalah pacar sahabatku, dan aku adalah sponsor utama saat mereka berpacaran. Bila mereka berantem, aku yang selalu mendamaikan mereka. Aku selalu rela menjadi obat nyamuk buat mereka. Banyak cerita yang telah terjadi diantara kami. Cerita manis dan pahit yang mendatangkan tawa bila diceritakan ulang saat ini. Kami berdua pernah marah pada orang yang sama, tentu dengan spectrum kemarahan yang berbeda.

Erly adalah sahabatku sejak kelas 3 SD saat dia menjadi murid baru di kelasku. Dan tetap menjadi sahabatku hingga terjadi peristiwa besar saat SMA kelas 1. Walau rumah kami tidak terlalu dekat, tapi setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku akan menghampirinya atau dia yang akan menjemputku dan kami sama-sama berjalan kaki ke sekolah. Demikian kebiasaan itu berlangsung sejak kelas 3 SD, SMP dan SMA kelas 1.

Sepanjang ingatanku, kami tidak pernah berantem. Kami tidak meng“iri”kan satu sama lain. Kami lebih seperti dua saudara perempuan yang tidak bisa dipisahkan. Barangku adalah barangnya, demikian sebaliknya. Makanannya adalah makananku, demikian sebaliknya. Dia adalah sahabat pertama dalam hidupku. Tidak ada intrik atau dusta diantara kami. Kami dua anak perempuan yang polos dan selalu saling jujur. Makanya kami bisa berteman demikian akrab selama delapan tahun..!!!

Di luar jam sekolah, kami sering bermain di sore atau malam hari. Hingga dia pacaran dengan Efan pun, hubungan persahabatan kami tidak pernah mengendor sedikitpun. Tidak ada sedikitpun rasa cemburu padaku karena sahabatku pacaran. Bagaimana bisa cemburu, karena aku juga yang menjadi sponsor utama mereka. Rumahku adalah tempat kencan teraman bagi mereka. Dalam adat Batak Karo, Efen adalah saudaraku karena kami bermarga sama.

Suatu hari saat kami masih kelas 1 SMA, tepatnya setelah selesai ujian semester, ada lelaki dari Jakarta yang melamar Erly melalui orang tuanya. DAN, dia menerimanya..!!! Bagiku dan Efen, ini adalah sambaran petir di siang bolong. Kami kaget luar biasa. Setelah pesta pernikahan, dia dibawa suaminya ke Jakarta dan tinggal di sana. Dan sejak itu saat masih di SMA, aku tidak mau tahu kabarnya. Aku menutup telingaku dari berita tentang Erly. Sungguh, aku tidak ingin tahu, karena itu menyakitkanku saat itu.

Kehidupan terus berjalan, dan pernikahan itu telah menghancurkan Efen dan mengecewakanku. Aku marah dan kecewa karena cita-cita kami sama-sama menjadi sarjana pupus sudah. Bagiku dia menikah terlalu muda. Dalam pikiran remajaku, aku merasa dikhianati karena kami sudah berjanji akan kuliah bareng di fakutas yang sama dan akan tinggal di rumah kost yang sama. Pasti aku marah karena aku syock kehilangan sahabat. Juga, aku marah karena melihat Efen patah hati luar biasa.
Aku tahu dia jadi suka mabuk-mabukan, dan aku sedih melihat keadaannya, tapi tak mampu untuk bertemu dengannya. Aku semakin marah dan kecewa pada Erly setiap kali mendengar Efen mabuk.

Bagiku, melihat Efen akan mengingatkanku pada Erly. Akhirnya, aku selalu menghindarinya walaupun kami sekelas di kelas dua dan tiga. Aku tidak ingin berbicara dengannya. Dan kelihatannya dia juga menghindariku. Melihatku mungkin membangkitkan kenangan pahit padanya. Jadi, selama dua tahun itu, seingatku aku tidak pernah berbicara berdua saja dengannya. Aneh juga ya?!
Setamat SMA, aku diterima di sebuah universitas negeri di Samarinda. Bersamaan dengan itu, orang tuaku juga pindah dari kota kecil penuh kenangan itu. Sehingga tidak ada lagi alasan bagiku datang ke kota itu.
Seiring bertambahnya usia, kegiatan yang berbeda, komunitas yang berbeda, hilang juga rasa marah dan kecewaku pada Erly. Saat tinggal jauh di Kalimantan, aku selalu mencari tahu kabar teman-teman lama ku terutama Erly dan Efen. Pernah saat libur kuliah, aku main ke Jakarta dan mencari Erly, sayang sekali aku tidak bisa bertemu karena Erly sudah pindah ke kampung. Aku juga tahu Efen berhasil jadi sarjana tehnik dari salah satu universitas di Medan. Kemudian aku juga dengar dia menikah.
Aku selalu kangen pada Erly. Aku ingat pernah ketemu Erly di Jakarta setelah belasan tahun tidak bertemu, dia bilang bahwa hanya aku satu-satunya sahabat yang dia punya. Tentu aku terharu mendengarnya. Aku rasa, rasa sayangku padanya tidak pernah berubah sama sekali. Dan aku tahu dia juga sayang padaku. Aku senang saat pulang kemaren, aku tinggal di rumah orang tua Erly dan berhasil membawanya ikut acara reuni SMA.
Dari akhir tahun lalu, aku bersama teman-teman di Jakarta mencoba mengumpulkan alumni SMA dan membuat perkumpulan alumni. Dengan cepat, kami bisa menemukan teman-teman yang sudah lama tidak saling mendengar kabar. Dan tentu aku merasa surprise bisa berkomunikasi lagi dengan Efen. Awalnya aku merasa kaku juga, tapi karena usia yang kini sudah dewasa, dan kami sudah bisa melewati masa-masa sulit dulu, sekarang kami bisa bercanda dan saling meledek seperti dulu lagi. Dan dia banyak mengingatkan kejadian-kejadian masa lalu saat kami sering jalan bertiga dengan Erly, dan itu menjadi bahan kami untuk tertawa terbahak-bahak.

Setelah banyak tahun berlalu, aku senang mengetahui kehidupan masing-masing sahabatku ini baik-baik saja. Mereka kini masing-masing memiliki 3 orang anak yang sehat, ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Terlebih lagi aku senang karena kini mereka bisa berkomunikasi dan menjadi teman. Efen sudah bisa memaafkan masa lalu dan dia beruntung punya istri yang setia yang telah mendampinya di masa-masa sulit. Demikian juga Erly dengan suami tercintanya dan anak-anak yang sudah mulai kuliah.

Efen menelponku dan menjelaskan alasannya tidak datang saat reuni kemaren. “Beginilah kalau kerjanya ngejar-ngejar babi hutan di belantara…” katanya selalu bercanda. “Sekiranya nanti aku punya waktu, kita ketemuan ya!” katanya lagi tanpa berani menjanjikan waktu yang pasti untuk bertemu, karena jadwal kerjaannya yang tidak bisa diprediksi, dan senantiasa berpergian dari satu kota ke kota lain baik dalam maupun luar negeri.

“Baiklah, tinggal kabari, aku akan segera meluncur ke lokasi.” Kataku mengakhiri telpon yang sudah berlangsung satu jam lebih.
Begitu menunutup pembicaraan itu, aku termenung beberapa lama. Banyak yang kami bicarakan. Ada candaan tapi banyak juga yang serius. Aku langsung menutup kerjaanku dan mulai menulis cerita ini.

Ini kutuliskan karena aku bahagia melihat sahabat-sahabatku. Aku ingin berbagi. Efen yang pernah terpuruk tapi berhasil bangkit. Erly, perempuan kuat yang kini lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai Pelayan Tuhan. Sungguh aku bangga pada kalian. Semoga kalian senantiasa dilimpahi Tuhan kebahagiaan bersama keluarga kalian masing-masing hingga masaNya kelak.
I love u both!

Jakarta, July 1, 2011
Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Friendship and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s