Labelling

Dari dulu saya selalu merasa terganggu bila mendengar stetmen atau pernyataan yang menunjukkan label seseorang berdampingan dengan namanya. Saya tidak tahu mengapa mereka suka melakukannya.  Saya berusaha keras melihat dari sisi positif, tapi….  Mungkin dia bangga sehingga dengan ringan memberikan label itu.   Tapi tanpa sadar, si penulis atau si pembuat pernyataan telah membuat kotak atau memilah-milah seseorang ke dalam sebuah kelompok.

Pengkotak-kotakan itu dapat berdasarkan agama, orientasi sexual, warna kulit, suku bangsa, dan lain sebagainya.  Pernyataan sering kita dengar misalnya: Maimunah, wanita muslim itu telah memperoleh penghargaan bla..bla..bla… atau Benyamin, pria Jahudi itu telah menjadi pekerja kemanusiaan, atau Matius, lelaki Kristen itu memberikan pertolongan bagi …, dll.

Pengkotak-kotakan yang lain seperti : Ricky Martin guy singer, Gia lesbian model, Ellen DeGeneres lesbian comic, Rihanna black singer atau Lucy Lie, Asian actor, etc.

Aku yakin, pada saat seseorang memberikan penyataan positif dan menambahkan label itu di belakang nama si subjek, maka akan ok-ok saja.  Reaksi akan sangat berbeda bila pernyataannya negatif.  Percayalah, ini dapat berakibat fatal.  Pada saat seperti inilah orang sering berkata “si penulis atau si pemberi pernyataan tersebut Rasis”.

Saya bingung, kenapa pada saat informasinya positif orang diam saja, tapi pada saat si subjek melakukan sesuatu hal negatif dan kita menyebutnya si penulis rasis..?

Misalnya begini:
Rani, seorang muslimah, telah memenangkan banyak kompetisi di bidang sains. Kemudian saya buat satu kalimiat lagi yang subjectnya sama. Rani, seorang muslimah, telah menipu banyak clientnya.

Saya yakin pada kalimat pertama orang akan setuju-setuju saja dengan pelabelan tersebut. Tapi begitu isinya tentang hal-hal jelek yang dilakukan si subjek maka orang-orang akan bereaksi terhadap penulisan atau pelebelan tersebut. Label itu bisa kita ganti orientasi sexual, suku/bangsa, warna kulit dan lain sebagainya.

Seharusnya bila kita suka label pada tindakan positif, maka kita juga setuju label pada tindakan negatif.  Itulah sebabnya saya kurang setuju pemberian label, baik pada konteks positif apa lagi negatif.

Kita seringkali terlena pada saat kondisi positif tapi langsung terhenyak pada saat kondisi negatif.  Karena penambahan label baik itu untuk hal-hal positif maupun negatif bagi saya kurang baik.

 

Jakarta, 17 April 2011
Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Agama, Celoteh, Negeriku & Politik and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s