Ku di persimpangan jalan, lagi…!!!

Kini sampailah aku di persimpangan jalan. Aku harus segera memilih salah satu dari beberapa jalan di depan. Karena bila terlalu lama di persimpangan jalan, aku bisa ditabrak oleh kendaraan lain. Kalau tidak mati, ya babak belur. Dengan memilih salah satu jalan, artinya aku telah membuat keputusan. Aku mungkin tidak tahu ada apa di ujung jalan yang kupilih. Hasilnya bisa saja aku tersesat, tapi bisa juga itu adalah jalan yang akan membawaku ke tempat yang lebih baik. Hidup harus memilih.

Sesungguhnya berada di persimpangan jalan bukan sekali dua kali kualami. Selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup. Pilih jalan, dan ternyata salah dan sampai ke persimpangan jalan yang lain. Pilih lagi, dan salah lagi. Demikian berulang. Kondisi ini sangat bisa membuat frustasi. Tapi lebih baik frustasi dari pada menyesal karena tidak pernah mencobanya. Orang bisa saja gagal, tapi itu bukan akhir dari perjalanan. Harus segera bangkit dan berlari. Bila tidak mampu berlari, ya berjalan saja, bila tidak mampu berjalan, ya merangkaklah. Yang penting bergerak. Begitu kata-kata orang bijak yang kuamini kebenarannya.

Setahun lalu aku memutuskan untuk menjadi penulis yang full time. Sebelum memutuskannya tentu aku sudah memikirkan mateng-mateng apa yang akan ku lakukan. Dan benar aku melakukan PRku. Membantu memproduksi film teman, ternyata gagal. Menulis script, menulis novel dan lain-lain. Tetapi ternyata tidak gampang menjual script bagi kita yang belum punya nama di dunia perfileman atau persinetronan. Semua orang yang di hubungi rasanya seperti punya firewall.
Tapi setelah ku pikir-pikir, memang tidak ada jalan yang instan untuk sampai pada tingkat “berhasil” bukan? Semua tokoh atau orang sukses pasti melewati jalan yang berliku dan menanjak. Aku rasa itu yang sedang aku lalui. Mungkin bukan saat ini script itu di lirik orang, tapi suatu hari nanti. Yang penting terus menulis dan menulis.

Setelah pengalaman menerbitkan novel pertamaku 2 tahun silam, aku sangat kecewa dengan sikap publisher yang lari dari tanggung jawab. Hanya dengan kata “Gw bangkrut, Mer! Gw akan bayar semua royalty lu kalo gw sudah punya duit.” Kemudian serupiahpun aku gak merasakan duit royaltinya, padahal buku itu sudah lama kosong di toko buku. Habis terjual.

Dengan pengalaman ini, aku mecoba menjajaki bisnis penerbitan. Aku mau membuat perusahaan penerbit sendiri dan mempublish novelku sendiri. Namanya kira-kira “Meta Pustaka”. Setelah ngobrol dengan orang Gramedia, dan juga dengan orang percetakan untuk mengetahui biaya cetak, dan setelah dihitung-hitung, ternyata semua tabunganku akan tersedot ke biaya mencetak buku tersebut. Gede juga ternyata modalnya..!!! Tabunganku malah kurang karena aku ingin menerbitkan 2 judul sekali gus. Ampun baginda…!!!

Tidak ada jalan yang selalu mulus bukan? Perjuangan selalu bermandikan keringat. Aku bisa melihat jalan di depan sangat keras. Dengan mencetak buku itu dan tabunganku akan menjadi kosong song song…!!! Apa yang akan ku makan??? Yach, aku harus kembali ke dunia kerja sebagai karyawan. *mijit-mijit kening* Siapkah aku kembali ke dunia kerja..???

Ada harga yang harus kubayar. Semoga apa yang kuperjuangkan akan membuahkan hasil yang manis kelak. Amin. *fingerscrossed*

Jakarta, 16 April 2011
Mery DT

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Celoteh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s