Mbah Widi di Evakuasi Paksa

Tak sadar aku menitikkan air mata melihat rintih tangis Mbah Widi yang ringkih dan uzur meronta-ronta diangkat oleh anggota Kopassus berbadan kekar. Apalah daya nenek tua ini – yang mungkin usianya sudah mencapai 80 tahun – melawan anak muda kekar berbaju seragam loreng hijau itu. Hatiku pedih melihat ketidak berdayaan Mbah Widi. Dia terlihat hancur. Sesuatu yang berharga yang di pertahankan dengan segenap kekuatannya dirampas dengan semena-mena oleh petugas-petugas kekar yang pasti orang asing baginya. Itulah yang kutangkap dari bahasa tubuh dan tangisannya.

Aku mencoba memahami situasi ini.

Kenyataannya adalah Gunung Merapi memang sudah di status ‘Erupsi’, status paling berbahaya. Muntahan awan panas akan membinasakan apa saja yang dilewati. Presiden telah menginstruksikan supaya mengevakuasi sumua warga di kaki Gunung Merapi, dan petugas diberi wewenang mengangkat paksa siapa saja yang menolak meninggalkan rumah dan desanya. Bila dilihat dari instruksi ini, tentu tidak ada yang salah dengan cara petugas-petugas itu menjalankan tugasnya. Malah mereka yang akan di anggap tidak becus menjalankan tugas dengan meninggalkan Mbah Widi di rumahnya.

Tapi dari sisi Mbah Widi, aku mencoba memahami apa yang dia rasakan. Dia pasti lahir dan beranjak tua di desa tersebut. Berpuluh tahun dia telah akrab dengan sifat dan gejolak Merapi. Dia merasa, dia sangat mengenal Gunung yang selama ini menjadi sumber kehidupannya. Laksana kekasih, dia nyaman menikmati romantikanya dengan si gunung. Dia merasa lebih tahu apa yang dia hadapi dari pada anak muda yang memaksanya ke luar dari rumah dan desanya. Dia merasa anak muda itu semena-mena merampas harta milik dan hidupnya. Dan dia tidak punya kekuatan apa-apa untuk mempertahankannya. Anda tahu bagaimana rasanya dalam kondisi seperti itukan? Neleongso! Dan Mbah Widi tidak sendirian.
Sejelek-jeleknya rumah sendiri, pasti jauh lebih nyaman dari pada hidup di rumah orang lain apa lagi di pengungsian yang minim fasilitas.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal-hal tersebut? Itu yang menjadi perenunganku kemudian. Jelas ada yang tidak benar dalam standar operational peosedurnya. Aku tidak tahu apakah SOPnya sudah ada atau pelaksanaan di lapangan yang brantakan. Sebaik-baiknya SPO, bila tidak dilaksanakan dengan hati nurani, maka hasilnya adalah seperti perlakuan terhadap Mbah Widi tersebut. Seperti tindakan semena-mena penguasa dengan rakyat tak berdaya. Atau tindakan tuan tanah dan para buruhnya. Atau tindakan penjajah dan warga yang dijajah.

Mungkin hasilnya akan jauh lebih cantik dan mulus bila jauh-jauh hari sebelumnya ada penjelasan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh warga terutama seperti Mbah Widi yang dilakukan oleh petugas-petugas dari Managemen Bencana yang telah di bentuk pemerintah. Kepala Desa bisa diberdayakan dalam menjelaskannya pada warga. Mbah Widi pasti bisa mengerti bahwa dia harus meninggalkan desanya demi keselamatannya sendiri. Dia tentu tidak akan merasa seperti dirampas harta miliknya. Dia mungkin bisa mengerti dan akan meninggalkan desanya dengan lebih tenang, karena merasa hidupnya yang diperjuangkan petugas.

Ini adalah salah satu contoh tidak adanya implementasi dari Managemen bahaya dan koordinasi yang buruk dari pemerintah. Pemerintah selalu kaget dan kikuk dalam menghadapi bencana. Pemerintah selalu minta dimengerti karena Negara kita sangat luas dan terdiri dari puluhan ribu pulau. Oh, begitu! Brarti tidak siap dong? Mundur sajalah!

Pemerintah punya kuasa, punya duit, punya sumber daya yang pintar-pintar, punya segalanya. Pemerintah hanya tidak punya ‘HATI”. Tidak ada simpati pada warga dipelosok-pelosok, di perbatasan, di daerah kumuh, di daerah gersang, korban-korban bencana, korban kebejatan pengusaha seperti Lapindo dan Bank Century, pada para TKI yang dianiaya di Negara-negara orang, dan masih banyak penderitaan warga lainnya.

Memang tidak ada pemerintah di Negara manapun di dunia yang tidak bercacat cela. Tapi bisa dong aku berkhayal suatu saat nanti kita punya pemerintah seperti di Negara-negara eropah sana. Warganya makmur, kesehatan terjamin, warga lansia ditanggung pemerintah. Kapan ya Indonesia seperti itu?

Semoga segera. Mengingat anggota DPR sudah sering studi banding ke Negara-negara maju itu, dan pasti akan bisa menghasilkan peraturan dan masukan yang brilliant untuk pemerintah. #tapi kenapa hatiku tidak yakin sedikit pun?*

Semoga!

Note: ini bukan foto Mbah Widi

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
Gallery | This entry was posted in Alam / Lingkungan Hidup, Celoteh, Negeriku & Politik and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s