Simpatiku buat korban Tsunami Mentawai

Pada saat terjadi musibah Merapi, kepulauan Mentawai yang indah dan selalu menjadi sorga para surfer dunia karena ombaknya yang besar dan cantik, juga diterjang tsunami. Kita yang sudah menyimpan trauma tsunami Aceh, kembali terkesima oleh amukan air laut itu.
Data terakhir menyebutkan lebih dari 300 an orang yang meninggal dan ratusan lagi yang hilang. Anak-anak menjadi yatim piatu. Istri jadi janda, suami jadi duda, orang tua kehilangan anak. Semua berkabung kehilangan orang-orang yang disayangi. Disamping itu, harta benda juga hancur oleh bencana tersebut.

Tidak ada yang perlu disalahkan atas musibah ini. Ini terjadi karena bumi itu tidak diam. Lempengan yang menutupi permukaan bumi ini aktif bergerak mencari keseimbangannya. Kita sebagai manusia yang mendiami bumilah yang harus beradaptasi dengan bumi tempat kita berpijak. Bumi tidak akan meradaptasi dengan manusia. Tapi manusia yang akan menerima akibat kelalaian ataupun keserakahannya. Alam pasti akan selalu member signal tentang aktifitasnya. Bila mau hujan, dia akan mendung dulu. Kitalah yang di tuntut bijak memaknai tanda-tanda tersebut.

Jaman modern sekarang sudah ada alat pendeteksi tsunami, apakah pemerintah sudah memasang early warning system di setiap pulau atau daerah yang rawan tsunami? Yang lebih umum lagi, apakah pemerintah sudah memetakan daerah-daerah mana saja yang rawan terhadap musibah, misalnya gempa, tsunami, banjir dsb. Kenapa pemerintah selalu terkesan lamban? Ntar kalo di simbolkan KEBO marah lagi?

Tapi aku sangat menyayangkan banyak pendapat yang berkata bahwa musibah seperti ini disebut azab Allah karena manusia sudah jauh dari jalan-Nya. Ada Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II pula yang berkata seperti itu. Katanya karena manusia telah berdosa karena maksyiat. Ach, betapa sempitnya orang yang berpikiran seperti itu.
Gampang sekali mereka mengeneralisasi semua musibah dan bencana alam dengan AZAB dari Allah. Kalau memang Allah yang melakukan hal seperti itu, mendingan aku gak percaya sama Tuhan deh. Kejam banget! Lagian siapa yang maksiat, siapa yg ketimpa bencana? Kalo emang gara-gara maksyiat, kanapa bukan lokalisasi dan warung remang-remang saja yg kena musibah. Apa tuhan gak bisa milih-milih tempat kalo marah? Aku yang manusia biasa aja bisa milih-milih tempat kalo lagi emosi. Masa tuhan kalah ama gw?

Coba, kalo dia atau keluarganya yg menjadi korban bencana tersebut, dan bilang itu karena azab tuhan, sakit gak kira-kira? Jadi please, kalo memang tidak bisa berkata baik, mendingan diem. Dari pada memberi pernyataan negative, mendingan tundukkan kepala dan berdoa. Kalau tidak mau mendoakan para korban, mengucap syukurlah karena bukan engkau yang kena musibah. Jangan menambah sakit para korban dengan perkataan kita.

Aku mungkin tidak bisa ke Mentawai sebagai relawan, aku mungkin tidak bisa menyumbang banyak, tapi simpatiku, dan doaku buat saudara-saudaraku yang saat ini menderita di kepulauan Mentawai. Semoga kalian lebih peka terhadap tanda-tanda alam sehingga dikemudian hari bisa terhindar dari bencana seperti ini. Pemerintah berniat memindahkan penduduk dari Mentawai, kalau kalian merasa pindah adalah langkah terbaik, pindahlah. Tapi bila merasa tidak akan bisa hidup di tempat lain kecuali Mentawai, maka bertahanlah, dan jadilah peka.

Doaku menyertai kalian semua.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
This entry was posted in Alam / Lingkungan Hidup. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s