Wahai Indonesiaku

Indonesia
Tanah airku…
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru,
INDONESIA BERSATU….
(lirik Indonesia Raya karya WR Supratman)

Seiring bertambahnya umur negri ini, bertambah pula cerita tentangnya, yang otomatis akan menjadi sejarah yang tertulis, yang dialami generasinya dan akan dibaca generasi berikutnya.  Banyak yang baik, tapi tak kalah jumlah yang buruk.  Sejarah akan jujur menceritakan.  Kalaupun diputar-balikkan, suatu saat akan terbongkar juga.   

Indonesia…  dia adalah image yang mencerminkan negara, bangsa, bahasa, hukum, prilaku, aneka budaya, aneka agama, aneka suku, dan lain sebagainya.  Indonesia adalah ANEKA, maka disebut BHINNEKA TUNGGAL IKA.  Dia UNIQ.  Dia bukan Amerika, bukan Ingris, bukan Australia, bukan Arab, bukan China, bukan Islam, bukan Kristen, bukan Hindu ataupun Buddha. 

Keresahanku selalu muncul melihat perkembangan negri ini.  Sepertinya hal yang baik yang pasti ada di bangsa ini, tertutup oleh begitu banyak hal yang jelek.  Sepertinya di segala sendi kehidupan bangsa ini, yang ada hanya kebobrokan semata.  Lihatlah bagaimana kita memperlakukan lingkungan.  Hutan dieksploitasi dengan ganasnya, bahkan hutan lindung yang seharusnya dilindungi.  Membuang sampah pada tempat yg benar bukan bukan kita banget.    Bangunan bertingkat bermunculan tanpa memperdulikan amdal.  Kendaraan digeber tanpa rasa bersalah walau asap dari knalpotnya lebih hitam dari arang.  

Kita malas atau lapangan pekerjaan yang tidak ada sehingga angka pengangguran semakin meningkat setiap tahun.  Kita lemah atau tidak mau repot, sehingga banyak TKI di luar negeri disiksa bahkan di bunuh, dan kita tak melakukan apa-apa.  Kita miskin atau pura-pura buta melihat pengemis dan anak jalana semakin banyak jumlahnya.  Kita mati rasa atau gila melihat begitu banyak perdagangan perempuan dan anak-anak.  Kita bodoh atau tak mau tau bila produk dalam negri dicaplok dan dipatenkan bangsa lain sebagai kepunyaan mereka.  Lihat saja siapa yang punya hak paten kebaya dan batik sekarang?  Sebentar lagi mungkin rendang pun bukan milik restoran padang lagi.

Kita sibuk mengejar waktu atau mau menang sendiri, sehingga kemacetan jalanan seperti sudah budaya.  Tidak ada sopan santun di jalan, baik pengendara roda empat, roda dua atapun pejalan kaki.  Semuanya berlaku seenaknya.  Pejalan kaki menyebrang seenaknya.  Pengendara motor tidak bisa lihat cela sedikit langsung serobot, bahkan trotoarpun di embat.  Pengendara mobil enggan memberi jalan bagi pengendara motor.  Sepertinya mereka musuh bebunyutan. 

Bila kita bukan dalam termasuk dalam jajaran penguasa, paling enak menyalahkan pemerintah.  Juga sebaliknya, pemerintah paling suka buang badan dan menyalahkan rakyat yang dipimpinnya.  Pemerintah sudah merasa benar karena telah sukses membuat begitu banyak undang-undang yang idealnya mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.  Tapi undang-undang yang di buat dengan memakan anggaran sidang yang cukup besar, realisasi dilapangan NOL BESAR. 

Apa kabar peraturan mengenai buang sampah sembarangan?  Belum pernah aku dengar ada yang di denda karena buang sampah.  Apa kabar peraturan mengenai merokok di tempat umum?  Tetap saja orang merokok di bus tanpa rasa takut didenda.  Sekarang telah disyahkan perda tentang larangan pemberian uang atau barang bagi pengemis.  Maksudnya sih untuk mengurangi anak jalanan dan peminta-minta.  Kenapa sih pemerintah selalu mengatasi masalah di tengah, bukan pada akarnya.  Bila tidak ada pengemis tentu orang tidak akan memberi.  Karena salah satu sifat mulia manusia adalah memberi bagi sesama yang lebih lemah.  Mengapa pemerintah tidak langsung membina anak jalanan dan fakir miskin, karena itu memang tugas negara (Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. UUD RI Psl 34)  bakal restorasi gedung DPR ada budget ber miliar-miliar, tapi buat rakyat kecil tidak ada anggaran. Hhuuuhhh…………..

Karena ingin memangkas budget subsidi minyak tanah yang konon kabarnya lebih banyak dinikmati pengusaha, maka secara sepihak dipaksalah rakyat menggunakan kompor gas secara tiba-tiba.  Ajaib, pemerintah yang tidak sanggup memberantas mafia minyak tanah kok rakyat miskin yang menanggung akibatnya?  Selalu dan selalu begitu gaya pemerintah kita.

Juga, kita sebagai rakyat tak kalah bikin ulah.  Susah sekali disiplin di jalanan.  Mengapa memakai helm hanya bila ada petugas?   Mengapa mobil berhenti di sembarang tempat sehingga jalanan jadi macet.  Mengapa sebagian besar fasilitas umum tidak berfungsi?  Coba hitung berapa persen telepon umum yang masih berfungsi.  Mengapa transfortasi umum tidak ada yang nyaman?  Cobalah tanyakan pada pengguna KRL tentang suasana didalam kereta pada pagi dan sore hari. 

Begitu banyak kegelisahan yang ingin ku tuliskan.  Tapi apalah guna bila hanya menulis.  Kegelisahan yang kurasakan pasti sama seperti yang kalian rasakan. 

Sahabat, adakah kita se ide untuk memperbaiki bangsa ini?  Aku ingin kita bergandeng tangan membenahi negeri ini.  Aku ingin sekali berbuat sesuatu yang berguna bagi generasi kelak.  Satu hal yang sudah kumulai dari bertahun-tahun lalu adalah membuang sampah pada tempatnya.  Aku berharap dari sana akan berkembang ke hal-hal lain yang lebih besar.  Mari bersama buka mata melihat ke akar, bukan ke cabang ataupun pucuk pohonnya.

Pada akhirnya kita semua akan menjadi pelaku sejarah, walau hanya pada lingkup keluarga mungkin.  Buatlah sejarah yang baik yang akan didengung-dengungkan dengan bangga oleh anak cucu.  Aku bermimpi, bangsa ini akan punya harga diri yang tinggi kelak.  Amin.

Advertisements

About Mery DT

So much things swaying in my mind, but sometimes I just can’t expel it. I am a super random person. I write novel, short story and screenplay for movie. Thanks have read my pieces.
This entry was posted in Negeriku & Politik. Bookmark the permalink.

3 Responses to Wahai Indonesiaku

  1. masguno says:

    Merce, nampaknya kegelisahanmu tlah memuncak, tapi macam mana bangsa ini mau berubah, entah sampai kapan pula… so aku sambut kehadiran blog-mu ini sebagai wujud cintamu yang dalam terhadap negri tercinta, biar brengsek tapi negri kita sendiri, jadi caci maki lah sepuasmu… ayo teruskan, siapa lagi yang mau mencaci maki bangsa Indonesia klo bukan kita2 sendiri, ya ndak?

    Like

  2. Bu De Witt says:

    There’s no easy fix to the problem….but unless everybody stops the “victim” mentality, stops blaming other people and starts acting like a mature and responsible human being then nothing is gonna change. Change should start from us. “Who we are makes a difference”. If we can take the higher ground and start the change from every little thing that we do, the effect can be powerful.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s